Ini yang Terjadi Saat Tubuh 'Dibajak' Virus Corona


Kamis, 05 Maret 2020 - 17:05:34 WIB
Ini yang Terjadi Saat Tubuh 'Dibajak' Virus Corona Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Baru dua bulan, virus corona jenis baru atau SARS CoV-2 telah menginfeksi lebih dari 90 ribu orang di berbagai belahan dunia. Termasuk Indonesia juga lebih dari 80 negara lain. Meski demikian, para ahli kesehatan bisa memahami tingginya penyebaran virus ini.

Sebagaimana virus penyebab influenza, virus corona akan bergerak melalui saluran pernapasan dan menyerang paru-paru. Meski Direktur Badan Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menuturkan keduanya berbeda.

Baca Juga : Vaksinasi di Rumkitban Batam Diikuti Ratusan Warga

"Virus ini bukan SARS, ini bukan MERS, dan ini bukan influenza. Ini adalah virus unik dengan karakteristik yang unik," ungkap Tedros dalam pidato 3 Maret 2020, dikutip dari laman resmi WHO.


"Ada beberapa perbedaan penting antara COVID-19 dan influenza. Pertama, COVID-19 tidak bertransmisi seefisien influenza, itu data yang kami peroleh," jelas dia lagi.

Baca Juga : Rahmi Hidayati Sukses Melakukan Pengobatan dengan JKN-KIS

Tedros pun meyakini, semakin banyak data yang dikumpulkan maka akan kian mudah pula pemahaman akan virus serta penyakit yang ditimbulkan.

Sementara Simon Clarke, ahli mikrobiologi seluler dari University of Reading menjelaskan, virus corona menyerang sistem imun seperti jenis virus lain.

Baca Juga : Ini Syarat dan Cara Mendaftarkan BPJS Kesehatan Bagi Bayi Baru Lahir

Virus, kata dia, tidak bisa memproduksi sel sendiri seperti bakteri atau sel manusia. Virus akan 'membajak' sel tubuh untuk memperbanyak diri. Akibatnya, sistem imun tubuh bereaksi dengan cara berbeda dan menimbulkan peradangan untuk memusnahkan infeksi.

"Ini adalah kombinasi menjanjikan dari fungsi sel, merusak sel saat virus membajak, dan respons imun mengakibatkan masalah," jelas Clarke mengutip dari Metro.

Baca Juga : Viral! Pesta Pelajar di Kantor Bupati Langgar Prokes

Aktivitas pembajakan ini terjadi di dalam paru-paru. Peradangan pada paru-paru dan kantung-kantung udara kecil membuat orang kesulitan bernapas. Jika terus berlanjut, timbul pneumonia dan kegagalan pada organ tubuh.

Kondisi lebih parah pun terjadi pada mereka yang sudah memiliki riwayat masalah pada paru-paru dan jantung. Sistem imun mereka lemah dan lebih rentan terkena penyakit.

"Kondisi apapun yang berkaitan dengan paru-paru dan jantung, karena kedua organ ini terkoneksi, membuat Anda berisiko lebih besar," imbuhnya.

Clarke berkata, orang dengan masalah kardiovaskular, asma dan penyakit paru obstruktif kronis memiliki risiko lebih tinggi. Pencegahan untuk orang dengan riwayat masalah kesehatan tetap sama seperti yang lain, yakni praktik hidup bersih sehat dan mengikuti saran dokter.

"Saya tidak akan menyarankan untuk mengisolasi diri sebagai langkah pencegahan, kecuali ini disarankan oleh dokter," tutur dia. (h/*)

Editor : Heldi | Sumber : Cnnindonesia.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]