LIPI: Kenaikan Air Laut Global Naik Cepat, Jakarta Terancam


Jumat, 06 Maret 2020 - 10:26:39 WIB
LIPI: Kenaikan Air Laut Global Naik Cepat, Jakarta Terancam Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan Jakarta memiliki potensi tenggelam dalam beberapa tahun mendatang. Peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI Intan Suci Nurhati mengatakan Jakarta bisa tenggelam karena penurunan permukaan tanah dan kenaikan permukaan laut.

"Kalau melihat rate penurunan tanah oleh penggunan air tanah (subsidence) dan kenaikan permukaan laut (sea level rise), (Jakarta) sangat mungkin (tenggelam)," ujar Intan dilansir dari CNNIndonesia.com, Jumat (28/2).

Baca Juga : Basarnas Padang Perkuat Tim Evakuasi, Pencarian Korban di Tambang Emas Abai Solsel Dilanjutkan Hari Ini

Intan mengatakan dokumen Intergovernmental Panel on Climate Change menyebutkan rata-rata permukaan air laut global (global mean sea level/ GMSL) pasti meningkat dan semakin cepat. Dia berkata GSML akan naik antara 0,43 m (0,29-0,59 m, rentang kemungkinan) dan 0,84 m (0,61-1,10 m, rentang kemungkinan) pada tahun 2100.

Lebih lanjut, dokumen itu menyampaikan kenaikan permukaan laut secara global tidak seragam dan secara regional bervariasi. Namun, dia berkata situasi ekstrem akan membuat kota-kota kecil di dataran rendah dan pulau-pulau kecil diproyeksikan tenggelam lebih cepat pada tahun 2050.

Baca Juga : Semasa Hidup Ustaz Tengku Zulkarnain Tidak Memiliki Penyakit Serius


"Dengan tidak adanya adaptasi, peristiwa permukaan laut ekstrim yang lebih intens dan sering terjadi bersama dengan tren akan meningkatkan kerusakan banjir tahunan yang diperkirakan sebesar 2-3 kali lipat pada tahun 2100," kutip laporan IPCC.

Terkait dengan hal itu, Intan menyampaikan pemerintah harus mengambil langkah untuk mengontrol penggunaan air tanah. Selain itu, dia menuampaikan perlu adanya strategi adaptasi terhadap kenaikan air laut baik di pesisir kota Jakarta maupun kepulauannya. 

"Strategi tersebut dapat berupa kombinasi hard protection dan ecosystem-based approach, sistem early warning, worse case (skenario terburuk, lakukan) relokasi," ujar Intan.

Dalam strategi hard protection terdiri dari pembuatan tanggul, dinding laut, pemecah gelombang, penghalang dan bendungan untuk melindungi dari banjir, erosi dan intrusi air asin.

Adapun soft protection adalah memanfaatkan sedimentasi hingga menambah ruang untuk eksosistem yang mampu melindungi kota agar tidak tenggelam. (h/*)

Editor : Heldi | Sumber : CNN Indonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]