Ahli China: Penyebaran Virus Corona Melambat di Musim Panas


Senin, 09 Maret 2020 - 16:36:05 WIB
Ahli China: Penyebaran Virus Corona Melambat di Musim Panas Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Studi dari Universitas Sun Yat-sen menyatakan penyebaran virus corona bisa melambat dalam cuaca yang lebih hangat. Sebab, virus yang menyebabkan Covid-19 itu menyebar paling cepat pada suhu lingkungan yang sejuk.

Peneliti menyampaikan panas memiliki peran yang signifikan untuk mengetahui perilaku virus corona. Dalam penelitian, suhu panas secara signifikan mengubah transmisi Covid-19.

"Virus ini sangat sensitif terhadap suhu tinggi", kutip hasil penelitian  Universitas Sun Yat-sen di Guangzhou, China, melansir South China Morning Post.

Peneliti mengatakan suhu tinggi telah mencegah virus corona berkembang di sejumlah negara yang memiliki suhu tinggi. Sebaliknya, virus itu menyebar di negara yang memiliki iklim lebih dingin.

Dampak dari itu, peneliti menganjurkan negara dengan suhu yang lebih rendah mengadopsi langkah-langkah kontrol yang paling ketat terhadap virus tersebut.

Tim peneliti mendasarkan penelitian pada setiap kasus baru virus corona yang dikonfirmasi di seluruh dunia pada 20 Januari hingga 4 Februari 2020, termasuk di lebih dari 400 kota dan wilayah Cina.

Data itu kemudian dimodelkan dengan melibatkan data meteorologi resmi pada bulan Januari di seluruh China dan ibu kota masing-masing negara yang terkena dampak.

Analisis menunjukkan bahwa jumlah kasus naik sejalan dengan suhu rata-rata hingga puncak 8,72 derajat Celcius dan kemudian menurun.

"Suhu memiliki dampak pada lingkungan kehidupan manusia dan dapat memainkan peran penting dalam kesehatan masyarakat dalam hal pengembangan dan pengendalian epidemi," kata penelitian itu.

Sebuah studi terpisah oleh sekelompok peneliti termasuk ahli epidemiologi Marc Lipsitch dari Harvard's T.H. Chan School of Public Health menemukan bahwa penularan berkelanjutan dari virus corona dan pertumbuhan infeksi yang cepat dimungkinkan dalam berbagai kondisi kelembaban.

"Cuaca saja, (seperti) peningkatan suhu dan kelembaban saat bulan-bulan musim semi dan musim panas tiba di belahan bumi utara, tidak akan serta merta menyebabkan penurunan dalam jumlah kasus tanpa penerapan intervensi kesehatan masyarakat yang luas," kata studi tersebut.

Asisten direktur di Center for Infectious Diseases Research di American University of Beirut, Hassan Zaraket mengatakan ada kemungkinan bahwa cuaca yang lebih hangat dan lebih lembab membuat virus corona lebih stabil dan dengan demikian kurang menular seperti halnya dengan patogen virus lainnya.

"Kami masih belajar tentang virus ini, tetapi berdasarkan apa yang kami ketahui tentang virus corona lain, kami bisa berharap," katanya.

"Ketika suhu memanas, stabilitas virus dapat menurun. Jika cuaca membantu kita mengurangi transmisibilitas dan stabilitas lingkungan dari virus maka mungkin kita dapat memutus rantai penularan," kata Zaraket.

Senada dengan peneliti Harvard, Direktur Eksekutif Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mike Ryan mendesak semua orang tidak menganggap epidemi Covid-19 akan mereda secara otomatis di musim panas.

"Kami harus mengasumsikan virus akan terus memiliki kapasitas untuk menyebar," kata Ryan.

"Menjadi harapan palsu kalau mengatakan itu (virus corona) akan hilang seperti flu. Kita tidak bisa membuat asumsi itu. Dan tidak ada bukti," ujarnya.(*)

 Sumber : cnnindonesia /  Editor : NOVA

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM