Hotel Dihajar Corona, Karyawan Mulai Dirumahkan


Senin, 09 Maret 2020 - 18:03:55 WIB
Hotel Dihajar Corona, Karyawan Mulai Dirumahkan Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Kasus penyebaran virus corona yang makin meluas ke banyak negara termasuk Indonesia semakin memukul sektor pariwisata khususnya bisnis perhotelan. Bisnis hotel telah mengalami tekanan jumlah pengunjung atau okupansi yang anjlok ke level 30% dari kondisi normal 70-80%.

Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi Sukamdani mengatakan hotel yang mengalami penurunan pengunjung cukup dalam berdampak pada pendapatan usaha, mereka sudah ada yang mulai merumahkan karyawan.?

Baca Juga : Ramadan Bersama, PermataBank Berikan Beragam Keuntungan dan Kemudahan dalam Satu Genggaman

In dilakukan sebagai langkah efisiensi karena penyumbang terbesar biaya operasional hotel dan restoran adalah biaya tenaga dan biaya listrik. Dia mencatat, tingkat okupansi hotel yang turun 30%, mempengaruhi pendapatan hingga anjlok 50%.?

"Ini penyumbang terbesar biaya perhotelan. Sekarang, hotel dengan kondisi tersebut sudah mulai membicarakan dengan karyawan, khususnya untuk keberlangsungan perusahaan. Mereka melakukan giliran bekerja atau dirumahkan," katanya kepada CNBC Indonesia, di Jakarta, Senin (9/3/2020).

Baca Juga : Sekper Bank Nagari, Idrianis: Program Beduq Nagari Diminati Nasabah

Ia bilang kondisi krisis ekonomi yang pernah menghantam Indonesia pada tahun 1997-1998 mirip seperti saat ini. Kala itu, pengusaha juga pernah memberlakukan hal yang sama dengan merumahkan karyawan.

Setidaknya ada tiga hal yang dibutuhkan oleh industri saat ini. Pertama payung hukum atau regulasi pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait relaksasi pinjaman kepada nasabah yang terdampak virus corona.

Baca Juga : Harga Daging Sapi di Padang Masih Stabil Menjelang Hari Raya Idul Fitri

"Perhotelan yang paling besar (dampaknya). OJK segera relaksasi supaya menjadi dasar bentuk pelaksana untuk bisa melakukan penyesuaian. Kami melihat situasi di lapangan bank belum bereaksi. Di mana kondisi cash flow perusahaan sudah turun jauh," terangnya.

Kedua, adalah relaksasi perpajakan yang menyangkut pajak perhotelan dan restoran. Dengan terganggunya arus kas perusahaan, bisa berakibat dengan alokasi pembayaran pajak daerah.

Baca Juga : Akibat Pandemi, Jasa Tukar Uang di Padang Alami Penurunan Omset

Terakhir, sosialisasi yang kondusif kepada masyarakat. Diharapkan masyarakat tetap melakukan kegiatan, jangan sebaliknya tak melakukan apa-apa. sebab, ini akan menambah berat beban perekonomian.

"Penanganan harus tetap, jika memang ada suspect, diharapkan dapat di treatment dengan baik, dan trace penyebaran ke mana. Sehingga aktivitas yang lain tak terganggu," katanya.

Sektor perhotelan termasuk yang dapat insentif berupa penghapusan pahak hotel oleh pemda. Ini bagian dari paket insentif yang diberikan pemerintah.(*)

Editor : NOVA | Sumber : CNBC
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]