Ini 6 Sampah Rumah yang Bisa Jadi Limbah Berbahaya


Kamis, 12 Maret 2020 - 10:19:53 WIB
Ini 6 Sampah Rumah yang Bisa Jadi Limbah Berbahaya Ilustrasi sampah.

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Sampah terus menjadi persoalan, termasuk dalam kehidupan di rumah. Disadari atau tidak, ada beberapa jenis sampah yang dapat berpotensi menjadi limbah berbahaya.

Founder Komunitas Sadari Sedari Nabilah Kushaflykimenyebutkan, setidaknya ada enam jenis sampah yang bisa berbahaya, jika tidak dikelola dengan baik.

1. Popok dan pembalut 

Berdasarkan catatan Bank Dunia tahun 2017, popoksekali pakai menjadi penyumpang sampah terbanyak kedua di laut. 

Proporsinya disebut mencapai 21 persen dari total sampah di laut.

Popok dan pembalut sekali pakai memiliki kandungan Super Absorbent Polymer (SAP) hingga 42 persen, yang akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air.

Nah, apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat membahayakan lingkungan.

2. Sampah plastik

Plastik menjadi barang rumah tangga sekali pakai yang dekat dengan kehidupan rumah tangga. 

“Sampah plastik butuh ratusan tahun untuk mengurai sehingga menjadi sampah menumpuk dan mengancam ekosistem di sekitarnya,” tutur Nabilah.

3. Tisu basah

Di balik penggunaannya yang praktis, sampah dari bekas tisu basah sangat sulit terurai di lingkungan dan pada akhirnya berakhir di lautan.

Hal ini karena tisu basah terbuat dari rensin plastik.

4. Kaleng minuman dan makanan

Limbah kaleng adalah limbah yang tidak bisa diurai secara alami dan termasuk limbah anorganik.

Dikutip dari greenguyrecycling, dibutuhkan waktu 80-200 tahun untuk mengurai sebuah kaleng.

Pemakaian kaleng sehari-hari tidak disadari menghasilkan tumpukan di tempat pembuangansampah.

5. Baterai

Baterai memiliki proses pembuangan khusus yang tidak dapat disatukan dengan pembuangan rumah tangga lainnya.

Membuang baterai bersama sampah rumah tangga dapat mengekspos alam terhadap bahan bahan kimia yang terdapat pada baterai.

6. Pakaian

Di dunia, 100 miliar pakaian diproduksi setiap tahunnya. Dari jumlah itu, 85 persen di antaranya berakhir di penumpunan sampah dan tidak mudah terurai.

“Penumpukan tersebut menjadi salah satu sumber gas metana terbesar yang dapat memicu pemanasan global,” cetus perempuan lulusan Teknik LingkunganITB ini. (*)

Editor : Milna | Sumber : Kompas.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]