Benarkah Virus Corona Bisa Mati saat Cuaca Panas? Ini Faktanya


Jumat, 13 Maret 2020 - 14:53:32 WIB
Benarkah Virus Corona Bisa Mati saat Cuaca Panas? Ini Faktanya Warga Jakarta di trotoar Jalan Sudirman mengenakan masker (Foto: Haluan.co/Fajar AM)

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Banyak rumors yang menyebutkan bahwa cuaca mempengaruhi keberadaan virus corona. Yang mana, virus ini bisa mati ketika cuaca meningkat.

Namun masih banyak yang meragukan mengenai rumors tersebut. Epidemiolog bahkan telah memperingatkan agar tidak bergantung pada cuaca dapat menghentikan wabah.

Rumors itu berkembang karena biasanya wabah flu akan aktif pada musim dingin dan akan mereda saat tiba musim semi. Tetapi bagaimana dengan virus corona apakah sama dengan flu biasa? Apakah dengan cuaca yang lebih hangat malah virus corona akan tetap bertahan?

Donald Trump percaya rumors ini: Dilansir dari Bloomberg, Jumat (13/3/2020), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa sinar matahari pada bulan April nanti akan mengusir penyebaran virus corona dari AS.

Namun, pakar kesehatan mengungkapkan bahwa persoalan ini sangat rumit. Hanya karena wabah influenza akan mereda dengan perubahan musim, bukan berarti virus corona akan berperilaku dengan cara yang sama.

Virus Corona Mengancam, Perlis Ganti Salat Jumat Jadi Zuhur di Rumah

Apakah iklim merupakan faktor?

Masih terlalu dini untuk mengetahuinya. Virus corona baru atau Covid-19, telah menginfeksi lebih dari 120.000 orang di seluruh dunia, setelah kemunculan pertamanya dari wilayah Wuhan, China.

Pernyataan WHO soal suhu panas: Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, pada 5 Maret lalu, tidak ada alasan untuk percaya suhu akan berperan dalam menangkis virus ini. Namun, WHO menyebut subjek itu layak diselidiki

Apakah ada bukti?

Beberapa peneliti telah menyiapkan analisis tentang masalah ini, tetapi belum ada yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah, yang membutuhkan makalah untuk diperiksa oleh para ahli yang bekerja di bidang yang sama.

Pendapat para ahli soal suhu panas:

Sekelompok peneliti AS dan Iran menyimpulkan bahwa tempat infeksi Covid-19 sebagian besar telah bertahan sejauh ini - seperti Wuhan di Cina tengah, Milan dan Seattle - berbagi kelembaban dan suhu yang sama-sama ringan berkisar antara 5 hingga 11 derajat Celcius (41 hingga 52 derajat Fahrenheit) di musim dingin.

Di tempat yang lebih panas dan lembab seperti Bangkok, virus ini malah makin terlihat karena dibawa oleh orang dari luar, tapi belum menyebar dengan cepat ke masyarakat.

Namun, para peneliti itu mengatakan prediksi ini harus dilihat dengan sangat hati-hati.

Mengapa flu bervariasi sesuai musim?

Di daerah beriklim sedang, flu sebagian besar merupakan fenomena musim dingin, sedangkan di daerah tropis dan subtropis itu cenderung terjadi selama musim hujan.

Berbagai teori mengatakan persoalan flu itu, dimana ada sebuah bukti bahwa udara dingin, kering, dan terutama kondisi lembab, akan menjadi tempat yang terbaik bagi flu untuk menyebar.

Seperti halnya orang cenderung berkerumun di dalam ruangan dalam cuaca dingin dan hujan, dan itu akan meningkatkan penularan.

Jika mereka menghabiskan lebih banyak waktu di luar dalam cuaca cerah, dapat mengurangi kontaminasi.

Suhu Panas dan pengaruh Vitamin D: Ada kemungkinan bahwa musim panas mengangkat kadar melatonin dan vitamin D orang, yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka, dan bahwa virus kehilangan kekuatannya dalam cuaca yang lebih hangat karena lapisan lemaknya menurun.

Bagaimana dengan SARS?

Epidemi sindrom pernapasan akut 2002-2003 memang mereda selama musim panas.

Tapi itu mungkin tidak ada hubungannya dengan cuaca.

Ahli epidemiologi Harvard, Marc Lipsitch juga tidak berasumsi bahwa perubahan cuaca akan membuat perbedaan besar terkait dengan bagaimana virus menyebar.

Ahli epidemiologi Harvard: "SARS tidak mati karena sebab alami," tulis ahli epidemiologi Harvard, Marc Lipsitch.

"Itu terbunuh oleh campur tangan kesehatan masyarakat yang sangat intens di kota-kota China daratan, Hong Kong, Vietnam, Thailand, Kanada, dan di tempat lain."

Antara lain, pihak berwenang mengisolasi kasus dan mengkarantina kota mereka. Strategi ini berhasil, kata Lipsitch, karena pasien SARS yang paling tertular menunjukkan gejalanya yang jelas.

Sementara China telah mengambil langkah yang sama dengan virus corona ini. Periode inkubasinya yang panjang dan banyak kasus ringan telah mempersulit upaya penahanan.

Kemana perginya flu di musim panas?

Meredanya wabah flu tidak berarti virus mati dalam suhu yang lebih hangat. Itu tidak mentransmisikan dengan mudah. Jadi, bahkan jika virus corona mereda di musim panas, itu bisa kembali pada musim gugur. (*)

 Sumber : Haluan Media Group /  Editor : Milna

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM