Meski Hanya 5 Batang, Alfrimen Bisa Panen Duku hingga 1 Ton


Jumat, 13 Maret 2020 - 15:44:33 WIB
Meski Hanya 5 Batang, Alfrimen Bisa Panen Duku hingga 1 Ton Alfrimen (55) warga Waringin Kelurahan Lubang Panjang Kecamatan Barangin Sawahlunto, saat menimbang buah duku hasil tanaman sekitar rumahnya. Foto/RIKI YUHERMAN

SAWAHLUNTO, HARIANHALUAN.COM -- Tak hanya di wilayah perkebunan seperti Sijunjung dan Dharmasraya, masyarakat Sawahlunto ternyata juga mendapat berkah dari panennya buah duku. Siapa sangka duku ternyata juga banyak ditanam oleh masyarakat Sawahlunto, sebut saja salah satunya Alfrimen (55) warga Waringin Kelurahan Lubang Panjang Kecamatan Barangin Kota Sawahlunto.

Alfrimen yang hanya memiliki 5 batang pohon duku, mampu panen hingga 250 kilogram per batangnya. Dengan harga jual Rp10 ribu perkilogram (kg). Alfrimen mampu meraup keuntungan kotor hingga Rp12.500.000.

"Kita juga harus mengeluarkan upah panen untuk upah panjat Rp2 ribu perkg," ujarnya kepada Harianhaluan.com.

Alfrimen menyebutkan, tanaman duku yang dimilikinya sudah ditanam semenjak tahun 70 an, dimana bibit duku tersebut merupakan bantuan dari Kanagarian kala itu.

"Karena kala itu belum terpikir bahwa duku ini punya nilai ekonomis tinggi makanya hanya ditanam 5 batang saja. Kalau tahu harganya seperti sekarang mungkin lebih banyak kami tanam duku ini," ujarnya lagi.

Meski panennya hanya sekali setahun sebut Alfrimen, namun mampu menjadi sumber pendapatan ekonomi. Terlebih saat ini pohon duku tersebut tidak memerlukan perawatan khusus, jadi yang didapat hanya untung dan hanya dikeluarkan untuk upahnya panjatnya saja.

"Alhamdulillah setiap tahun bisa mendapat berkah duku ini, meski usia batang yang sudah tua, namun masih bisa memberikan hasil yang lumayan," katanya.

Untuk pemasarannya, lanjut Alfrimen yang juga ketua RW itu menyebutkan, hanya sekitar rumah atau tetangga saja, namun juga ada masyarakat yang memesan untuk diantar kealamat masing - masing.

Pantauan harianhaluan.com di Sawahlunto tidak ada masyarakat yang menjadikan duku sebagai komoditi perkebunan. Masyarakat di Sawahlunto hanya menjadikan datang duku sebagai tanaman penyisip di kebunnya. Itupun rata-rata bibit tanaman duku itu didapat dari bantuan Kanagarian di tahun 70 an. (*)

Reporter : Riki Yuherman /  Editor : Milna

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM