Imbas Corona, Kemenkeu Gratiskan Pajak Karyawan Manufaktur Selama 6 Bulan


Ahad, 15 Maret 2020 - 10:38:16 WIB
Imbas Corona, Kemenkeu Gratiskan Pajak Karyawan Manufaktur Selama 6 Bulan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati. Foto/Kemenkeu

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Situasi pandemik covid-19 yang mengglobal, membuat pemerintah merespons dengan memberi stimulus kebijakan fiskal jilid 2 untuk memitigasi dampak negatif virus corona pada ekonomi.  Salah satunya dengan memberikan relaksasi pajak penghasilan (PPh) pasal 21, 22, 25 dan restistusi Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dipercepat. 

"Situasi yang menjadi pandemik dunia (covid-19), perkembangan ini sangat dinamis. Kita menyiapkan instrumen, policy untuk memitigasi, meminimalisir dampak, baik untuk sektor pengusaha, korporasi maupun masyarakat. Pemerintah selalu melihat dari dua sisi. Dari sisi ekonomi, dari demand side: konsumsi, investasi dan dari sisi sektor usaha atau supply chain atau product subsidenya terutama sektor manufaktur yang langsung terdampak ekspor dan impor. Banyak sektor manufaktur yang terhalang mendapat barang modal dan bahan baku dan para eksportir untuk diberi kemudahan secepat mungkin," kata Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati, dikutip dari laman resmi Kemenkeu, Minggu (15/3/2020).

Relaksasi pertama adalah pemerintah menanggung Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 untuk seluruh karyawan industri manufaktur pengolahan yang penghasilannya mencapai sampai dengan Rp200 juta pertahun baik industri yang berlokasi di Kawasan Industri Tujuan Ekspor (KITE) maupun non KITE. Pemerintah menanggung PPh pasal 21 ini selama 6 bulan, mulai bulan April hingga September 2020.

"Relaksasi PPh pasal 21 dengan memberikan pajak ditanggung Pemerintah 100% atas penghasilan pekerja yang memiliki income sampai dengan Rp200 juta pertahun di sektor industri manufaktur baik yang berlokasi di KITE (Kawasan Industri Tujuan Ekspor) maupun non KITE. Relaksasi kami berikan selama 6 bulan dimulai dari gaji bulan April sampai September. Nilai relaksasi estimasi Rp8,6 triliun berdasarkan kinerja perusahaan tahun 2019. Kita berharap akan menambah daya beli masyarakat terutama karyawan atau perusahaan yang mendapat tekanan cash flow tanpa harus menambahkan pajak dalam kompenen  gajinya," jelasnya. 

Kedua, relaksasi PPh pasal 22 Impor untuk 19 industri manufaktur yang diberikan selama 6 bulan dari bulan April-September 2020 baik untuk industri manufaktur di wilayah KITE maupun non KITE. 

"Kedua, kita memberikan relaksasi pajak penghasilan 22 impor untuk yang mengimpor barang baku untuk 19 industri manufaktur yang terkena dampak sesuai rekomendasi KADIN dan APINDO baik yang berlokasi di wilayah KITE maupun non KITE. Pembebasan ini akan diberikan selama 6 bulan mulai April hingga September. Perkiraan dari total volume kalau sama dengan tahun lalu, Rp8,15 triliun PPH pasal 22 Impor yang tidak akan dibayarkan perusahaan," paparnya.

Ketiga, pemerintah memberi penundaan PPh Pasal 25 untuk korporasi baik yang berlokasi di KITE maupun non KITE selama 6 bulan mulai April hingga September.

"Ketiga, kami memberikan pajak relaksasi PPh pasal 25, yaitu pajak korporasi sebesar 30% kepada 19 sektor pengolahan, baik yang berlokasi di KITE maupun non KITE termasuk KITE IKM, selama 6 bulan mulai April hingga September. Ini akan mengurangi beban cash flow perusahaan yang biasanya membayar PPh 25 Masa. Nilainya sekitar Rp4,2 triliun," tuturnya. 

Keempat, pemerintah membuat restitusi pajak pertambahan nilai (PPN) dipercepat bahkan tanpa audit awal. Namun, jika terdapat suatu hal yang perlu diperiksa, maka akan diperiksa lebih lanjut. Pemerintah akan memberikan fasilitas ini selama 6 bulan dari April hingga September 2020.  

"Keempat, relaksasi restitusi pajak pertambahan nilai (PPN). PPN untuk para perusahaan yang melakukan ekspor, mereka biasanya melakukan restitusi terhadap barang-barang inputnya. Untuk eksportir, kita tidak memberikan sama sekali batasan. Jadi, restitusi dipercepat bahkan tanpa audit awal, baru nanti kita periksa kalau diperkirakan ada sesuatu untuk diperiksa. Untuk perusahaan non eksportir, kita memberikan batasan sampai dengan Rp5 miliar untuk 19 industri tertentu. Ini dimulai April hingga September, 6 bulan. Total restitusi diperkirakan akan mencapai Rp1,97 triliun," pungkasnya. (*)

 Sumber : Kemenkeu RI /  Editor : Milna

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 07 April 2020 - 09:14:35 WIB

    Imbas Corona, Sebanyak 300 Pekerja Ramayana Kena PHK

    Imbas Corona, Sebanyak 300 Pekerja Ramayana Kena PHK JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Wabah corona berdampak serius pada para pelaku usaha. Di Depok, Jawa Barat, ratusan pegawai pasaraya atau department store Ramayana dikabarkan mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).  .
  • Ahad, 05 April 2020 - 16:44:04 WIB

    Terimbas Corona, Omzet Pedagang Makanan di Pasbar Anjlok

    Terimbas Corona, Omzet Pedagang Makanan di Pasbar Anjlok PASAMAN BARAT HARIAN HALUAN.COM -- Virus Corona atau yang biasa disebut Virus Covid-19 ternyata tak cuma mengancam nyawa, tetapi juga mengancam pendapatan ekonomi masyarakat yang berjualan makanan dan minuman disekitar Rumah .
  • Rabu, 01 April 2020 - 19:09:12 WIB

    Imbas Corona, Matahari Tutup Seluruh Gerai Selama 2 Pekan

    Imbas Corona, Matahari Tutup Seluruh Gerai Selama 2 Pekan JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) menutup seluruh gerainya di Indonesia selama 14 hari mulai Senin (30/3) karena wabah virus corona. Ini artinya, penutupan akan berlangsung sampai Senin.
  • Selasa, 31 Maret 2020 - 20:42:12 WIB

    Alami Krisis 1998, BI Klaim Perbankan 'Kebal' Imbas Corona

    Alami Krisis 1998, BI Klaim Perbankan 'Kebal' Imbas Corona JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -  Bank Indonesia (BI) menyatakan kondisi perbankan masih cukup kuat di tengah wabah virus corona (covid-19). Hal ini tak lepas dari pengalaman bank dalam mengatasi kondisi sulit seperti yang pernah.
  • Rabu, 25 Maret 2020 - 16:06:56 WIB

    Imbas Corona, Omzet Penjualan di Pasar Raya Padang Merosot, Pedagang Menjerit

    Imbas Corona, Omzet Penjualan di Pasar Raya Padang Merosot, Pedagang Menjerit PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Sejumlah pedagang di Pasar Raya Padang, Provinsi Sumbar mulai menjerit. Mereka mengeluh omzet penjualannya merosot sejak pemerintah mengeluarkan edaran agar masyarakat menjauhi keramaian untuk meng.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM