Angka Perceraian di China Naik Karena Wabah Corona, Kok Bisa?


Senin, 16 Maret 2020 - 15:12:34 WIB
Angka Perceraian di China Naik Karena Wabah Corona, Kok Bisa? ilustrasi perceraian.

INTERNASIONAL, HARIANHALUAN.COM -- Dari sekian banyak dampak wabah virus corona Covid-19 yang terjadi, ada satu fakta lain yang tak terduga yaitu meningkatnya angka cerai di China. Dilansir dari Business Insider, Kota Xi'an di China menjadi pencetak rekor dengan mencatat angka permohonan perceraian paling tinggi selama beberapa minggu terakhir.

Menurut otoritas kesehatan di sana, angka permohonan perceraian yang tinggi kemungkinan besar disebabkan oleh dua faktor. Pertama, perkantoran termasuk kantor pemerintahan terpaksa tutup selama sebulan lebih akibat wabah corona. Jadi sangat mungkin banyak pasangan yang terpaksa menunda mengirim gugatan cerai akibat alasan tersebut dan gugatan baru masuk saat kantor kembali buka.

Kedua, akibat kebijakan karantina, banyak pasangan yang terpaksa menghabiskan waktu bersama-sama dalam waktu yang lama, yang pada akhirnya, membuat pasangan semakin yakin bahwa mereka tak cocok dan memutuskan berpisah. "Gara-gara epidemi, banyak pasangan yang bersama di rumah selama sebulan penuh, yang pada akhirnya memicu konflik," kata seorang petugas publik dengan nama keluarga Wang.

Petugas publik lainnya mengatakan banyak pasangan yang memasukkan gugatan cerai, lalu menyesal melakukannya. Di kota Xi'an sendiri dikatakan bahwa proses cerai bisa sangat singkat dan selesai dalam waktu 30 sampai 40 menit saja. "Banyak yang memutuskan untuk menikah ulang," tulis Business Insider.

Lalu, apakah ada alasan mengapa menghabiskan waktu bersama malah membuat pasangan lebih rentan bercerai? Menurut studi yang dilakukan pada 2018 dikatakan bahwa pasangan yang tinggal bersama sebelum menikah memiliki angka perceraian yang lebih rendah tapi akan lebih tinggi pada lima tahun setelah pernikahan.

Sementara pada penelitian lainnya dikatakan bahwa hidup bersama sebelum menikah dapat mengurangi risiko perceraian ketika diresmikan tali pernikahan, penelitian lainnya bilang tak ada pengaruhnya sama sekali. Tapi menurut psikolog Rob Pascale dan Lou Primavera, keseimbangan adalah kunci. 

"Gabungan menghabiskan waktu dengan kerabat dan keluarga, menghabiskan waktu bersama sebagai pasangan, dan menyediakan waktu masing-masing untuk pasangan adalah apa yang akan mempertahankan pernikahan," tulis keduanya dalam buku Making Marriage Work seperti dilansir dari Suara.com, Senin (16/3/2020). (*)

 Sumber : Suara.com /  Editor : Agoes Embun

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM