KOMUNIKASI PEMERINTAH MENYOAL PENANGANAN VIRUS CORONA

Apakah Sudah Berjalan Baik Atau Sebaliknya ?


Senin, 16 Maret 2020 - 20:22:04 WIB
Apakah Sudah Berjalan Baik Atau Sebaliknya ? Ist

Kemunculan 2019-nCoV atau kita kenal sebagai Virus Corona telah menyita perhatian global ketika dengan ganasnya virus ini memakan korban dari berbagai negara. Wabah sejenis pneumonia ini muncul pertama kali di kota Wuhan negeri Tiongkok pada bulan Desember akhir tahun 2019 lalu.

Oleh : Ika Primastuti Putri

Siapa sangka virus yang berasal dari hewan seperti unta, kucing dan kelelawar, yang notabene jarang sekali menjangkit dan berevolusi di tubuh manusia ini kini justru seakan-akan seperti senjata pemusnah umat manusia. Satu hal yang sangat mengkhawatirkan mengenai virus ini adalah penyebarannya yang sangat cepat dan tidak pandang bulu, sementara terhitung hamper empat bulan virus ini muncul, belum kunjung ditemukan obatnya.

Pola penularan virus ini sendiri yaitu melalui percikan air liur pengidap,sentuhan tangan, wajah, mata atau hidung orang yang telah terinfeksi, memegang barang yang terkena air liur bahkan tinja atau fases pengidap. Organisai Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan himbauan keras dan sudah menetapkan Virus Corona sebagai Pandemi Global.

WHO memiliki tugas mengarahkan dan mengkoordinasi kewenangan untuk kesehatan secara internasional. Berdasarkan fungsi dan tugasnya, WHO memiliki tanggung jawab untuk membantu menghambat penyebaran Virus Corona di negara belahan dunia.
Menurut www.worldmeters.info per tanggal 16 Maret 2020, banyaknya kasus terjangkit corona sebesar 169.907 jiwa dengan kasus meninggal sebesar 6.520 jiwa dan sembuh sebesar 77.776 jiwa. Dari data ini kita ketahui bahwa sebanyak 61 negara di belahan dunia telah terpapar virus ini.

Cina sebagai negara asal virus corona ditemukan, terdapat 80.860 kasus terjangit dengan kematian terbanyak yaitu sebesar 3.213 jiwa. Disusul oleh Italia yang mana kasus ini tidak ditangani serius pada awal penyebarannya sekarang sudah terdapat 24.747 jiwa terjangkit dengan total kematian 1.809 jiwa. Di Indonesia sendiri terdapat 117 kasus dan telah memakan korban meninggal sebanyak 5 orang.
Melihat dari kasus diatas, Indonesia termasuk negara yang relative dekat jaraknya dengan negara dimana virus tersebut berasal. Berbagai reaksi masyarakat seakan tumpah media social dan portal website lokal maupun nasional akhir-akhir ini.

Banyak dari mereka beranggapan bahwa pemerintah lamban dalam mengambil kebijakan, pemerintah seakan menutupi sebaran virus corona ini dan mengambil sikap seakan tidak mempunyai empati kepada masyarakat. Namun disisi lain, ada juga yang mendukung sikap yang diambil pemerintah sekarang ini.

Para netizen pro pemerintah beranggapan bahwa ada kemungkinan pemerintah tidak ingin rakyatnya panik dann mengambil langkah yang tidak tepat sasaran.

Lantas sebenarnya, bagaimana sikap dari pemerintah dan pemangku kepentingan sampai saat ini?, Apakah komunikasi para pemangku kepentingan dan juga masyarakat berlangsung dengan baik, ataukah sebaliknya?, dan Bagaimana penanganannya?
Setelah Presiden RI mengumumkan kasus pertama warga Indonesia terjangkit Virus Corona pada tanggal 2 Maret 2020 lalu, angka penderita Corona seakan terus meningkat. Pada 14 Maret lalu terdapat 96 kasus terjangit dan sampai saat ini sudah mencapai 117 kasus.

Dilansir dari Tempo.co pada tanggal 14 Maret 2020, dengan artikelnya yang berjudul “Akrobat Tanpa Kabar Pusat” menuliskan bahwa ada indikasi adanya simpang siur komunikasi pemerintah dalam menangani kasus Virus Corona ini. Dalam artikel tersebut dituliskan bahwa kemacetan komunikasi terjadi antara Dinas Kesehatan Daerah dalam hal mengetahui positif atau tidaknya pasien.

Hal ini menimbulkan lambatnya informasi untuk pihak-pihak terkait sehingga langkah yang diambil juga tidak tepat.

Johny G. Plate selaku Menteri Komunikasi dan Informatika mengatakan bahwa pemerintah telah memutuskan mengenai narasi dan informasi tentang Corona harus selaras. Johny juga menghimmbau untuk daerah agar mengikuti instruksi dari pusat.

Sejauh ini Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendapat pujian dari Presiden sebagai kepala daerah yang mampu memberikan sosisalisasi dan edukasi yang baik mengenai Virus Corona ini.

Namun kenyataannya, seolah terjadi kesimpangsiuran informasi antara pemerintah pusat dan daerah. Para kepala daerah terlihat seperti tidak terlalu sepakat dengan kebijakan pusat. Yang akhirnya para kepala daerah ada yang melaju sigap mengambil sikap, namun tidak sedikit daerah yang masih abu-abu bahkan seperti tidak siap menerima bencana nasional non fisik ini.

Akibatnya masyarakat kocar kacir dan panik menghadapi wabah pandemi ini. Dalam waktu seperti ini komunikasi pemerintah menjadi hal vital untuk meredakan ketegangan di masyarakat. Seharusnya mulai dari wabah ini berhembus atau masih menjadi isu bergulir di negeri China, humas pemerintah harusnya sudah mengambil langkah sehingga kepanikan massal seperti sekarang ini tidak terjadi.

Disisi lAin seharusnya pemerintah memberikan informasi peta sebaran virus ini, sehingga masyarakat mampu melindungi diri dan bersiap menghadapi wabah ini. (**)

 Editor : Milna

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM