Mirip Pandemi 1918, COVID-19 Disebut Bisa Sembuh dengan Sinar Matahari?


Selasa, 17 Maret 2020 - 13:28:00 WIB
Mirip Pandemi 1918, COVID-19 Disebut Bisa Sembuh dengan Sinar Matahari? Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Virus corona atau COVID-19 kini menjadi subjek percakapan di seluruh dunia. Dan orang-orang terus mencari informasi yang dapat membantu mereka untuk mencegah penyebarannya. 

Bulan lalu, Presiden Donald Trump meyakinkan publik bahwa virus corona akan hilang pada bulan April 2020, karena suhu yang lebih hangat akan tiba. Namun, beberapa ahli kesehatan meragukannya, para ahli menganggap virus belum pasti akan berhenti menginfeksi meski di musim panas. 

Tidak ada bukti bahwa paparan sinar matahari dapat membunuh COVID-19, tetapi banyak bukti yang menunjukkan bahwa virus, termasuk virus corona manusia, tidak menyukai panas. 

Richard Hobday, seorang peneliti independen di bidang pengendalian infeksi kesehatan masyarakat dan desain bangunan, juga percaya bahwa sinar matahari mungkin bisa membantu. Klaimnya didasarkan pada pandemi terbesar dalam sejarah, yang memengaruhi sekitar sepertiga populasi dunia, yang pernah terjadi pada tahun 1918, yang lalu. 

Saat itu, terjadi infeksi saluran pernapasan akut yang dikenal sebagai flu Spanyol, seperti yang pertama kali dilaporkan surat kabar Spanyol. Pakar medis menjelaskan mengapa virus tersebut kurang aktif dan kecil kemungkinannya menyebar selama musim panas. Dia berpendapat bahwa sinar matahari, udara segar, dan masker wajah yang diimprovisasi, mungkin sangat membantu, seperti yang terjadi seabad yang lalu. 

Pada saat itu, ketika influenza menyebar ke seluruh dunia, pemerintah memberlakukan isolasi, karantina, dan tidak mengajurkan pertemuan publik. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa pasien yang dirawat di luar ruangan, lebih cepat pulih dibanding pasien yang dirawat di dalam ruangan.

Dia menulis bahwa kematian di antara pasien dan infeksi di antara staf medis dapat dicegah dengan kombinasi udara segar dan sinar matahari, dan itu terbukti secara ilmiah.

"Udara luar bertindak sebagai disinfektan alami, yang dapat membunuh flu dan kuman berbahaya lainnya. Sementara sinar matahari adalah pembunuh kuman dan virus flu," kata dia, dilansir Healthy Food House.

Tempat terburuk selama pandemi yang terjadi pada 1918 adalah barak militer dan kapal prajurit, sehingga tentara dan pelaut berisiko tinggi terhadap influenza dan infeksi lain yang mengikutinya. Juga, pemulangan pasukan mungkin menjadi alasan utama penyebaran flu. 

Sama seperti dalam kasus COVID-19, sebagian besar pasien meninggal karena pneumonia dan komplikasi lainnya. Di rumah sakit darurat di kota Boston, Amerika Serikat, ketika itu, petugas medis rumah sakit menyadari bahwa pelaut yang menderita sakit paling parah berada di ruang berventilasi buruk. Jadi, dia memutuskan untuk menempatkan mereka di tenda di luar ruangan. Jadi, ketika cuaca cerah, mereka akan terpapar sinar matahari di luar tenda. (h/*) 

 Sumber : vivanews.com /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM