Ngeri! Begini Kisah Sekte Uganda yang Bakar Habis 700 Orang Pengikutnya


Selasa, 17 Maret 2020 - 14:40:09 WIB
Ngeri! Begini Kisah Sekte Uganda yang Bakar Habis 700 Orang Pengikutnya Ilustrasi

UGANDA, HARIANHALUAN.COM - Dua puluh tahun setelah kejadian pembantaian, keberadaan (dari kiri ke kanan) Ursula Komuhangi, Credonia Mwerinde, Joseph Kibwetere dan Dominic Kataribabo tidak diketahui.

Judith Ariho tidak meneteskan air mata saat dia mengingat pembantaian gereja, yang menewaskan ibunya, dua saudara kandung, dan empat kerabatnya, sebuah peristiwa yang menewaskan 700 orang.

Tepat 20 tahun yang lalu, di distrik Kanungu, Uganda barat daya, sejumlah orang dikunci di dalam sebuah gereja, dengan pintu dan jendela dipaku tertutup dari luar. Gereja itu kemudian dibakar.

Dua dekade kemudian, kengerian peristiwa ini masih terasa oleh Ariho, yang tampaknya hanya mampu mengatasi trauma dengan menutup diri dari emosi.

Mereka yang tewas adalah anggota Gerakan Pemulihan Sepuluh Perintah Allah - sekte yang percaya bahwa dunia akan berakhir pada pergantian milenium.

"Akhir zaman,", seperti yang diungkapkan oleh salah satu buku yang jadi pegangan kelompok itu, yang terbit dua setengah bulan kemudian, pada 17 Maret 2000.

Selang 20 tahun kemudian, tidak ada seorang pun yang dituntut atas pembantaian itu.

Para pemimpin sekte, jika mereka masih hidup, tidak pernah ditemukan.

Anna Kabeireho, yang masih tinggal di lereng bukit yang menghadap ke tanah yang dimiliki oleh sekte itu, belum bisa melupakan bau yang menyelimuti lembah itu pada Jumat pagi.

"Semuanya tertutup asap, jelaga, dan bau daging yang terbakar. Baunya langsung terasa di paru-paru Anda," kenangnya.

"Semua orang berlari ke lembah. Api masih menyala. Ada lusinan mayat, terbakar tak bisa dikenali.

"Kami menutupi hidung kami dengan daun aromatik untuk menangkal bau. Selama beberapa bulan sesudahnya, kami tidak bisa makan daging."

Kanungu adalah daerah subur dan damai di perbukitan hijau dan lembah yang dalam, tertutupi oleh pertanian kecil yang tergantikan oleh rumah-rumah.

Perjalanan ke lembah, yang dulunya markas sekte itu, harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Dari sana, mudah untuk melihat bagaimana komunitas religius itu mempertahankan hidup mereka, jauh dari mata para tetangga.

Kicau burung memantul dari bukit dan terdengar suara air terjun di kejauhan. Ini adalah kondisi yang ideal untuk berkontemplasi.

Tapi tidak ada sisa bangunan yang disiram bensin dan dibakar.

Di tepi tempat itu ada gundukan tanah yang panjang, satu-satunya penanda kuburan massal, tempat jasad dari jemaat gereja itu dimakamkan.


Pastor dan biarawati yang`dicopot`
 
Orang-orang yang kemudian menjadi korban mengikuti pemimpin karismatik Credonia Mwerinde, seorang mantan bartender dan pekerja seks, serta mantan pegawai pemerintah Joseph Kibwetere, yang mengatakan mereka memiliki visi tentang Perawan Maria pada 1980-an.

Mereka mendaftarkan gerakan itu sebagai kelompok yang tujuannya adalah mematuhi Sepuluh Hukum Allah dan memberitakan firman Yesus Kristus.

Ikon-ikon Kristen di halaman kultus itu memiliki hubungan yang lemah dengan Katolik Roma dengan kepemimpinannya didominasi oleh sejumlah mantan imam dan biarawati, termasuk Ursula Komuhangi dan Dominic Kataribabo.

Pengikut sekte itu kebanyakan hidup dalam keheningan, kadang-kadang hanya menggunakan tanda-tanda untuk berkomunikasi.

Pertanyaan akan dikirim ke Mwerinde secara tertulis. Ia dikenal sebagai "sang pemrogram", yang dipercaya sebagai dalang di balik gerakan itu.

Mwerinde akan merespons pertanyaan yang diajukan padanya dengan jawaban tertulis.

Ariho, 41, bergabung dengan sekte itu bersama keluarganya ketika dia berusia 10 tahun.

Ibunya yang seorang janda berjuang untuk membesarkan tiga anak, yang salah satunya menderita sakit kepala terus menerus.

Kelompok Kibwetere menawarkan doa dan rasa saling memiliki, katanya.

Komunitas, yang mencoba memenuhi kebutuhan mereka secara mandiri itu, akan merekrut seluruh keluarga, dan menyediakan setiap kebutuhan mereka.

Para anggota menanam makanan mereka sendiri, mengelola sekolah, dan menggunakan keterampilan mereka untuk menyumbangkan tenaga.

Keluarga Ariho menjadi tuan rumah cabang gereja itu dengan sekitar 100 anggota di kompleks mereka, sekitar dua kilometer di luar kota Rukungiri.

"Hidup kami berputar di sekitar doa, meskipun kami juga bertani," katanya.

"Kami melakukan segala yang mungkin untuk menghindari dosa. Terkadang, jika Anda berdosa, mereka akan memerintahkan Anda untuk membaca rosario [permohonan kepada Tuhan] 1.000 kali. (h/*)

 Sumber : vivanews.com /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM