Ngeri! Ini Dampaknya Kalau RI Lockdown


Rabu, 18 Maret 2020 - 07:33:58 WIB
Ngeri! Ini Dampaknya Kalau RI Lockdown Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Sejumlah negara sudah melakukan lockdown untuk menekan penyebaran virus corona. Langkah ini belum menjadi opsi pemerintah Indonesia. Lalu, apa yang terjadi jika Indonesia sampai lockdown?

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebut jika terjadi lockdown di Indonesia dampaknya jauh lebih besar dibandingkan negara-negara lain. Mengingat jumlah tenaga kerja Indonesia lebih banyak di sektor informal.

"Lockdown itu untuk Indonesia dampak negatifnya jauh lebih besar dari negara lain karena banyak yang di sektor informal. Pedagang bakso nggak bisa jualan bakso. Berapa ribu masyarakat kita yang jualan bakso, yang jualan ketoprak, yang jualan pecel, yang jualan siomay, yang buka warung. Mereka akan kehilangan income. Berapa lama mereka bisa bertahan," ujar Piter kepada detikcom, Selasa (17/3/2020).

Itu sebabnya jika lockdown terjadi, pemerintah harus menyiapkan bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat menengah ke bawah yang bekerja di sektor informal.

"Pemerintah harus menyiapkan itu. Kalau nggak, mereka akan kesusahan," katanya.

Dihubungi terpisah, Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan jika lockdown dilakukan maka dampaknya di Jakarta sangat lebih berpengaruh terhadap perekonomian nasional. Mengingat 75% pergerakan uang dalam perkonomian nasional terjadi di Jakarta.

"Dampak ekonominya agak sukar dihitung karena kita belum tahu berapa lama (jika lockdown) akan terjadi. Lockdown-nya misalnya seminggu, dua minggu, sebulan, beda hasilnya. Kalau dilakukan di Jakarta akan cukup signifikan pengaruhnya karena porsi Jakarta terhadap ekonomi nasional besar. 75% peredaran uang kan adanya di Jakarta, Jabodetabek," sebutnya.

Meski begitu, pengaruh pertumbuhan ekonomi di tengah situasi saat ini dianggapnya tidak masalah. Mengingat hampir semua negara mengalami penurunan ekonomi akibat virus corona ini.

Lalu, apakah Indonesia perlu mengikuti jejak Malaysia dan negara lain yang memutuskan untuk lockdown karena virus corona?

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan secara tidak langsung Indonesia terutama Jakarta sudah menerapkan semi lockdown. Mengingat sejumlah pekerjaan dan kegiatan belajar dilakukan dari rumah.

"Sebenarnya sekarang sudah lockdown di jalanan kan sudah menyepi, lalu lintas setengahnya lah dari biasanya. PNS, sekolah juga sudah diliburkan, tempat wisata ditutup jadi sudah semi lockdown," katanya.

Menurutnya, kebijakan melakukan semi lockdown cukup sebagai antisipasi penyebaran virus corona sampai melihat perkembangan yang terjadi. Dengan begitu bisa menjaga ketersediaan rumah sakit agar tercukupi.

"Menurut saya semi lockdown sudah cukup bagus menghindari penyebaran (virus corona) sehingga infrastruktur rumah sakit kita sanggup menangani," terangnya.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebut memutuskan untuk lockdown bukanlah hal yang mudah mengingat harus ada berbagai persiapan yang dilakukan pemerintah.

"Lockdown itu harus dengan pertimbangan yang sangat matang. Benar-benar detail bukan asal kebijakan," sebutnya.

Untuk kondisi sekarang, ia mengajak masyarakat agar mematuhi arahan dari pemerintah untuk mengurangi aktivitas di luar dan mengurangi kontak secara fisik.

"Kita tidak ingin lockdown, yang bisa kita lakukan sekarang ini adalah isolasi secara terbatas. Tapi ini harus diikuti dengan benar-benar kedisiplinan masyarakat karena sebenarnya virus corona ini bukan masalah mematikan atau tidak, tapi lebih kepada virus ini sangat cepat menular, itu yang berbahaya," ujarnya.

Pemerintah harus siapkan ini jika RI sampai lockdown.

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah menyebut pemerintah harus mempersiapkan sejumlah hal jika opsi ini diterapkan di Indonesia.

"Pemerintah harus mempersiapkan skenario terburuk apabila pemerintah harus terpaksa melakukan lockdown. Kalau itu terjadi jangan sampai lockdowndilakukan tanpa sebuah perencanaan karena dampak negatifnya jauh lebih besar apabila kita mengalami lockdownyang tidak terencana," katanya kepada detikcom, Senin (17/3/2020).

Adapun yang harus dilakukan pemerintah yaitu menyiapkan bantuan langsung tunai (BLT) kepada masyarakat menengah ke bawah yang bekerja di sektor informal. Hal ini untuk menghindari adanya masalah sosial.

"Mereka (pemerintah) harus siap membantu untuk memberikan bantuan langsung tunai. Mereka (masyarakat menengah ke bawah) harus diberi incomeketika masa lockdown diberlakukan agar tetap bisa berkonsumsi," ujar Piter.

Pengamat Ekonomi David Samual menambahkan, sebelum menetapkan lockdown, pemerintah harus menyiapkan pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Dari sisi logistik pangan terutama, harus ada persiapan kalau mau dilakukan (lockdown)," sebutnya.

Selain itu, juga harus disiapkan penyediaan alat-alat kesehatan yang memadai di sejumlah rumah sakit. Mengingat jika terjadi lockdown lalu lintas barang kemungkinan akan terganggu.

"Harus ada stimulus fiskal dari pemerintah terutama untuk penyediaan alat-alat kesehatan dalam rangka persiapan. Misalnya lockdown kalau alat kesehatannya nggak ada repot juga. Jadi memastikan dulu rumah sakitnya siap, dari jumlah rumah sakitnya, jumlah kamarnya, terus alat-alat kesehatannya," terang David.(*)

 Sumber : detik.com /  Editor : NOVA

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM