Wabah Corona Kian Merebak, Rupiah Kembali Melemah


Jumat, 20 Maret 2020 - 08:48:39 WIB
Wabah Corona Kian Merebak, Rupiah Kembali Melemah ilustrasi rupiah

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah di perdagangan pasar spot pagi ini. Penyebaran virus corona yang semakin mengkhawatirkan membuat investor memburu dolar AS, aset yang dianggap paling aman untuk saat ini. 

Pada Jumat (20/3/2020), US$ 1 dihargai Rp15.950 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya. Kemarin, rupiah benar-benar terpuruk. Bayangkan, depresiasi rupiah mencapai 4,61% dalam sehari dan dolar AS berada di Rp 15.900 kala penutupan pasar spot. 

Ini adalah posisi terlemah rupiah sepanjang sejarah kalau melihat posisi penutupan perdagangan, bukan intraday. Dengan begitu, rupiah sudah anjlok 16,23% dalam sebulan terakhir. Sementara secara year-to-date, pelemahan rupiah tercatat 14,55%. Rupiah (dan pasar keuangan pada umumnya) sedang dalam periode genting. Volatilitas di pasar sangat tinggi. 

Kenaikan dan penurunan tajam terjadi dengan sangat cepat. Vivere pericoloso, hidup sedang penuh mara bahaya. Penyebabnya apa lagi kalau bukan penyebaran virus corona yang semakin masif. Berdasarkan data satelit pemetaan ArcGis per pukul 06:43 WIB, jumlah kasus corona di seluruh dunia mencapai 242.714. Korban jiwa tercatat 9.867 orang.

“Ini adalah momentum yang mengharuskan koordinasi kebijakan yang terkoordinasi, cepat, dan inovatif dari berbagai negara. Kita sedang dalam situasi luar biasa, yang biasa-biasa saja tidak bisa diterapkan,” tehas Antonio Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), seperti diberitakan Reuters.

Dua orang sumber di kantor pusat PBB di New York mengungkapkan, langkah serupa juga akan diambil di perbatasan AS-Kanada. Mobilitas masyarakat yang semakin terbatas akibat virus corona membuat roda perekonomian berjalan lambat. Bank Indonesia (BI) menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2020 dari 2,9% menjadi 2,5%.

Dibayangi oleh perlambatan ekonomi, bahkan mungkin saja resesi, investor pun balik kanan. Kini instrumen pasar keuangan entah itu mata uang, saham obligasi, bahkan emas sekali pun ditinggalkan. Dalam situasi penuh ketidakpastian seperti ini, cash is king. Namun cash pun bukan sembarang cash. Investor memburu dolar AS yang berstatus mata uang global, likuid di mana saja dan kapan saja. 

Akibatnya, dolar AS menjadi sangat perkasa meski The Federal Reserve/The Fed telah memangkas suku bunga acuan dengan sangat agresif.
Pada pukul 07:40 WIB, Dollar Index (yang mencerminkan posisi greenback terhadap enam mata uang utama dunia) naik 0,09%. Indeks ini sudah berada di posisi tertinggi sejak awal 2017. (*)

 Sumber : CNBC /  Editor : Agoes Embun

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR


BERITA TERKINI Index »

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]