Konversi ke Syariah; Penegasan Identitas Bank Nagari


Sabtu, 21 Maret 2020 - 00:47:41 WIB
Konversi ke Syariah; Penegasan Identitas Bank Nagari Seorang petugas teller Bank Nagari atau BPD Sumbar menyambut kedatangan nasabah dengan senyum dan salam. Keputusan konversi menjadi syariah diyakini semakin meningkatkan kualitas pelayanan dan perkembangan bank kebanggaan Sumatera Barat tersebut. Dok.Ist

Akhir November 2019 lalu, tersiar kabar gembira ke seantero Ranah Minang. Kegiatan usaha perbankan Bank Pembangunan Daerah Sumatera Barat (BPD Sumbar), atau dikenal luas dengan nama Bank Nagari, resmi beralih (konversi) dari konvensional ke syariah. Sontak, kabar itu disambut gegap gempita.

 

Oleh : Juli Ishaq Putra (Wartawan Haluan Media Group)

"Alhamdulillah, akhirnya," demikian kalimat pertama yang diucapkan Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Sumbar, Profesor Syamsul Bahri Khatib. Kabar konversi Bank Nagari disebutnya sebagai kabar yang sudah ditunggu-tunggu sedari dulu.

"Sudah lama publik, khususnya di Sumbar, menginginkan konversi ini. Alhamdulillah terealisasi juga. Tentu ini layak dianggap sebagai kemajuan. Saya atas nama pribadi dan atas nama Baznas Provinsi bersyukur dan sangat mendukung langkah ini," kata Syamsul Bahri menjawab Haluan, beberapa jam setelah kabar konversi itu beredar, Sabtu, 30 November 2019.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumbar periode 2010-2015 itu meyakini, konversi Bank Nagari dari konvensional ke syariah akan menjadikannya makin sempurna mewakili identitas dan jati diri perbankan Minangkabau. Selain itu, nilai daya gunanya bagi warga Sumbar di mana pun dan dari latar belakang apa pun, diyakini juga ikut bertambah.

Sederhananya, kata Syamsul Bahri, konversi ke syariah bagai sebuah penegasan, bahwa ke depan segala praktek perbankan Bank Nagari akan berkesesuaian dengan prinsip dan ketentuan dasar syariat Islam. "Setiap pekerjaan yang dilandasi syariat, tentu layak disebut bernilai ibadah," katanya lagi.

Islam, imbuh Syamsul Bahri, adalah pijakan dasar falsafah hidup orang Minangkabau, yang tergambar tegas dan lugas dalam prinsip Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). "Dengan konversi, agamanya dapat, adatnya dapat, ekonominya juga dapat. Bersyukur kita atas kabar baik ini," ujarnya antusias.

Ungkapan syukur juga diutarakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumbar periode 2015-2020, Gusrizal Gazahar, Lc, MA. Tegas ia meyakini, bahwa konversi Bank Nagari ke syariah ikut menggiring umat Islam untuk semakin jauh dari potensi bebuat riba.

"Kami bersyukur atas keputusan konversi ini. MUI Sumbar telah memberi imbauan konversi ini sejak Februari 2018. Koversi dari konvensional ke syariah adalah satu-satunya pilihan terbaik," ucapnya.

Gusrizal juga berharap, keputusan konversi segera ditindaklanjuti dengan kegiatan usaha perbankan berbasis syariah yang menyeluruh di Bank Nagari. "Semoga keputusan gubernur, bupati/wali kota, dan seluruh pemegang saham Bank Nagari ini, selalu diberi taufiq dan inayah oleh Allah," pungkasnya.

Tantangan Melebarkan Sayap

Konversi Bank Nagari ke syariah dinilai akademisi juga berpotensi membuat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Sumbar itu semakin melebarkan sayap di dunia perbankan. Tentunya, melalui produk-produk syariah yang kemudian akan ditawarkan.

Pengamat Ekonomi dan Perbankan Universitas Andalas (Unand), Hefrizal Handra, kepada Haluan mengutarakan, keputusan konversi Bank Nagari ke syariah akan meningkatkan kenyamanan sebagian besar masyarakat yang berhubungan dengan bank tersebut. Baik dalam hal menyimpan uang, bagi hasil, begitu pun dalam hal pembiayaan.

"Pertama, tentu keputusan ini akan meningkatkan aktivitas ekonomi syariah di Indonesia, yang relatif masih kecil dibanding aktivitas ekonomi konvensional. Kedua, kita berharap dengan keputusan ini, Bank Nagari makin melebarkan sayap, hingga dapat memperluas market hingga keluar Sumbar," kata Hefrizal.

Pengajar pada Fakultas Ekonomi (FE) Unand itu menyebutkan, dengan konversi, Bank Nagari ke depan diharapkan murni menyediakan layanan pembiayaan bagi usaha-usaha berbasis syariah. Artinya, usaha-usaha yang dalam praktek dan produk, terjamin kehalalannya dari sudut pandang agama Islam, sebagai agama yang paling banyak dianut di Indonesia, dan juga sangat dominan di Sumbar.

"Saya mengira, yang paling utama itu sebagian besar nasabah di Sumbar akan lebih nyaman melakukan aktivitas perbankan di bank berbasis syariah. Baik nyaman menitipkan uang, dan nyaman pula menerima bagi hasil, karena hasil itu diperoleh dari usaha-usaha berbasis syariah yang mendapatkan pembiayaan dari Bank Nagari," katanya lagi.

Ke depan, sambung Hefrizal, hal yang patut ditunggu adalah ketepatan penyediaan produk yang ditawarkan oleh Bank Nagari pascakonversi, yang tidak dapat tidak, tentu harus berbasis syariah. "Ada proses yang mesti ditunggu, semoga penerapannya betul-betul tepat. Nanti, tentu ada dewan syariahnya yang akan mengkaji produk-produk itu," sebutnya menutup.

Keputusan Aklamasi

Keputusan Bank Nagari melakukan konversi dari bank konvensional ke bank syariah adalah keputusan bersama (aklamasi) dalam Rapat Umum Pemegang saham (RUPS) Luar Biasa (RUPS-LB) dan Rapat Pemegang Saham A Bank Nagari, di Rocky Plasa Hotel Padang, Sabtu (30/11/2019).

Sejatinya, ada dua pilihan yang dapat diambil, yaitu spin off (memisahkan diri dan membentuk bank baru) atau konversi (mengubah sistem dan operasional bank induk saat ini menjadi Bank Syariah secara menyeluruh). Dalam RUPS, seluruh pemegang saham yang terdiri dari para kepala daerah kabupaten/kota di Sumbar dan koperasi karyawan, menyetujui opsi kedua.

Keputusan ini juga menjawab tuntutan Undang-Undang (UU) Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah, yang mengatur keharusan Unit Usaha Syariah untuk memisahkan diri dari induk. Dari dua opsi yang ada, pilihan konversi dirasa lebih realistis, mengingat untuk melakukan spin off, memerlukan tambahan modal cukup besar. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saja mensyaratkan modal inti minimal senilai Rp500 miliar.

Untuk memberikan keleluasaan bagi Bank Nagari dalam proses konversi ini, RUPS LB juga menyepakati proses konversi Bank Nagari akan dituntaskan maksimal dalam dua tahun sejak keputusan ditetapkan. Sehingga, Bank Nagari harus menjadi Bank Umum Syariah secara penuh selambat-lambatnya pada 30 November 2021 nanti.

Makin Sehat dengan Syariah

Di usia ke 58 pada 2020, secara umum rasio keuangan Bank Nagari terus membaik sepanjang tahun 2019. Pelaksana tugas Direktur Utama sekaligus Direktur Operasional Bank Nagari, Syafrizal, Kamis (12/3) lalu menerangkan, bahwa Tingkat Kesehatan Bank (TKB) masih bertahan di posisi komposit 2, atau dengan kata lain terkategori Sehat.

“Aset Bank Nagari di akhir 2019 mencapai Rp24,5 triliun, itu tumbuh 5,08% dari tahun 2018. Pinjaman yang sudah disalurkan Rp18,9 triliun, tumbuh 7,71% dari tahun 2018. Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun mencapai Rp19,5 triliun, tumbuh 7,14% dari tahun 2018. Perolehan laba bersih Rp383 miliar (an-audit), tumbuh 10,37% dari tahun 2018,” terangnya saat upacara peringatan HUT ke-58.

Selain itu, jumlah nasabah tabungan Bank Nagari juga meningkat pesat. Saat ini, sudah tercatat 1.700.000 rekening lebih. Selain itu, Bank Nagari makin menegaskan diri sebagai market leader perbankan di Sumbar, dengan market share aset 35,52%, pinjaman 32,18%, dan market share dana masyarakat 46,56%.

“Ekosistem ekonomi digital menjadi tantangan Bank Nagari ke depan. Salah satu strategi signifikan yang sedang dan terus dikembangkan adalah teknologi. Fase pengembangan produk dan daya dukung teknologi yang lazim dimiliki bank masa kini, juga sudah kita miliki,” tuturnya lagi.

Produk berdaya dukung teknologi masa kini itu, imbuhnya, teraplikasikan pada layanan core banking system Bank Nagari yang beroperasi 7 x 24 jam, serta produk dan fitur digital seperti Nagari Mobile Banking, Nagari Cash Management, Nagari Auto Debet, Nagari SMS Banking & Notifikasi, Nagari Virtual Account, Nagari Portal Payment, Nagari Auto Debet, Nagari Kartu Debit GPN, Nagari EDC, Nagari Money, Nagari Laku Pandai, Nagari SP2D Online, Nagari E-Retribusi, hingga Nagari Samsat Online.

“Kita juga akan meluncurkan produk terbaru, Nagari Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), sebagai standar QR Code untuk pembayaran digital melalui aplikasi uang elektronik server based, dompet elektronik, atau mobile banking," paparnya lagi.

Terkait konversi ke Syariah, Syafrizal menegaskan bahwa para pemegang saham telah mempertimbangkan secara matang pilihan itu sebagai pilihan terbaik. Terbaik bagi Bank Nagari, dan terbaik bagi masyarakat Sumbar.

"Karakteristik sistem perbankan syariah yaitu memberikan alternatif sistem perbankan yang saling menguntungkan antara masyarakat dengan bank, menonjolkan aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi yang beretika, mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan persaudaraan, dan menghindari kegiatan spekulatif dalam bertransaksi,” tuturnya.

Bank Nagari berbasis syariah, sambungnya, diyakini juga diminati oleh masyarakat berlatar belakang nonmuslim. Pasalnya, ke depan bank nagari akan menawarkan pilihan sistem yang lebih baik dan lebih beragam ketimbang bank konvensional pada umumnya. “Mari optimis, konversi ini akan mewujudkan pelayanan yang lebih baik, sehingga Bank Nagari ke depan juga semakin baik,” ucapnya menutup. (*)

Reporter : Juli Ishaq Putra /  Editor : Heldi

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]