Waduh! Di Desa Ini Buaya Dijadikan Hewan Peliharaan


Sabtu, 21 Maret 2020 - 22:25:23 WIB
Waduh! Di Desa Ini Buaya Dijadikan Hewan Peliharaan Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Di pedalaman Nubia, wilayah di tepi Sungai Nil, selatan Mesir, bayi buaya duduk di bahu Mamdouh Hassan untuk membuat kagum para wisatawan.

Buaya adalah sumber pendapatan bagi warga Nubia di Mesir. Turis bisa membayar untuk mengagumi buaya-buaya ganas yang sudah dijinakkan warga.

Tetapi selain mendatangkan keuntungan, buaya memainkan peran penting dalam budaya kelompok etnis berbahasa unik yang memiliki beragam sejarah dari zaman Firaun itu.

Orang-orang Nubia bermukim di sepanjang tepi Sungai Nil di selatan Mesir lalu meluas ke utara Sudan.

Di Gharb Soheil, sebuah desa kaum Nubia dekat Aswan, kepala mumi buaya masih menghiasi pintu-pintu rumah berkubah putih biru.

Buaya dianggap membawa keberkahan dalam keyakinan masyarakat Nubia di Mesir.

Boneka buaya di pintu menunjukkan bahwa pemilik rumah menyimpan reptil besar sebagai hewan peliharaan.

Di luar rumahnya yang sederhana di desa, Hassan dengan lembut mengusap punggung Francesca - seekor buaya berumur 15 tahun yang panjangnya 1,5 meter.

"Saya telah membesarkannya sejak kecil," kata pria berusia 45 tahun itu dengan penuh kasih tentang kebanggaan dan kegembiraannya.

"Dia hidup dengan makan ikan, daging, dan ayam."

Buaya peliharaan

Selama masa pemerintahan Presiden Gamal Abdel Nasser, pembangunan Bendungan Tinggi Aswan menciptakan saluran air di atas tanah tradisional milik masyarakat Nubia.

Ketika Danau Nasser mulai terisi pada tahun 1964, 44 desa ini dilanda banjir.

Sementara kawanan buaya di Sungai Nil mendapat manfaat dari habitat baru itu, Nasser tidak pernah memenuhi janjinya untuk memberikan kompensasi lahan baru bagi masyarakat Nubia.

Sebaliknya, sekitar 50 ribu warga Nubia dipindahkan ke desa-desa di utara bendungan, di tepi barat Sungai Nil dekat Kom Ombo dan Aswan - sebidang tanah sempit dengan ruang terbatas untuk pertanian.

Sejak saat itu, orang-orang Nubia menuntut pengembalian tanah mereka dan mempertahankan budaya mereka dengan memodernisasi tradisi mereka.

Memelihara buaya menjadi cara untuk menambah pendapatan dan mempromosikan warisan mereka.

Hassan belajar menjinakkan buaya dari ayahnya.

"Ayah saya adalah salah satu orang pertama di desa Nubia yang benar-benar memelopori gagasan membawa buaya sebagai hewan peliharaan untuk memikat wisatawan," katanya kepada AFP.

Dalam 20 tahun sejak itu, ia telah mengembangkan kemampuan untuk mengetahui di mana dan kapan telur buaya liar akan menetas.

Buaya betina bertelur di sepanjang tepi Danau Nasser, di mana Hassan mengawasi bayi reptil muncul sebelum membawanya pulang.

"Sifat buaya yang agresif dan mudah marah lama-lama berubah setelah kami rawat di rumah," katanya.

Francesca adalah bintang pertunjukan di desa, kata Hassan. Dia dinamai oleh turis Italia yang menikmati kepribadiannya yang ceria, jadi Hassan menyimpan nama itu.

Di sini turis bebas mengambil selfie dengan binatang buas, sementara penduduk desa mengkisahkan cerita rakyat Nubia tentang buaya.

Hany, seorang turis dari Kairo, senang dengan tontonan Hassan yang membuka mulut buaya lebar-lebar dengan tangan kosong.

"Saya datang ke sini bersama keluarga untuk menghabiskan liburan sekolah, agar anak-anak menikmati melihat buaya," kata pria berusia 35 tahun itu.

'Malaikat di Sungai Nil'

Saat zaman Firaun, Dewa Sobek yang berkepala buaya menjadi tempat berdoa untuk meminta perlindungan dari banjir tahunan.

Sebuah kuil didedikasikan untuk Sobek di Kom Ombo, diukir dengan piktogram dan hieroglif yang merinci pembalseman buaya.

Hingga hari ini, warga Nubia mempertahankan tradisi taksidermi buaya, dan tetap setia pada teknik yang sudah berusia berabad-abad.

"Meskipun kami tahu betul nilai kulit buaya, kami tidak menjualnya ... kami menghargainya," jelas Hassan.

Seekor buaya yang mati dikuliti dari perutnya dan diisi dengan jerami atau serbuk gergaji.

Buaya besar membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mumi sedangkan yang lebih kecil mengering dalam beberapa hari, kata Hassan.

"Ini Franco, yang meninggal bulan lalu," katanya tentang kepala besar mumi dari salah satu mantan hewan peliharaannya.

Abdel-Hakim Abdou, seorang pemilik kafe berambut keriting berusia 37 tahun merekomendasikan rumah Hassan sebagai objek wisata yang wajib dikunjungi di sini.

"Sungai Nil untuk Nubia melambangkan kehidupan ... segala sesuatu yang berkeliaran di dalamnya kita anggap sebagai malaikat," katanya.(*)

 Sumber : cnnindonesia /  Editor : NOVA

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]