Apa Salahmu Rupiah! Kenapa Terus Melemah


Senin, 23 Maret 2020 - 08:28:10 WIB
Apa Salahmu Rupiah! Kenapa Terus Melemah Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah di perdagangan pasar spot pagi ini. Rupiah terus mengalami tekanan dan belum juga berakhir. Apa penyebabnya?

Pada Senin (23/3/2020), US$ 1 dihargai Rp 15.950 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah 0,31% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Sepanjang minggu kemarin, rupiah melemah 7,87% di hadapan dolar AS. Sementara dalam sebulan terakhir, rupiah anjlok 16,06% dan secara year-to-date (YtD) depresiasi rupiah mencapai 14,55%. Angka-angka luar biasa ini menunjukkan betapa dalam luka mata uang Tanah Air.

Rupiah memang tertekan luar-dalam. Dari sisi eksternal, rupiah merasakan dampak penurunan risk appetite investor global akibat penyebaran virus corona yang semakin mengkhawatirkan.

Mengutip data satelit pemetaan ArcGis per pukul 07:13 WIB, jumlah kasus corona di seluruh dunia mencapai 335.927 sementara korban jiwa tercatat 14.632. Virus corona yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China, kini sudah hinggap di lebih dari 180 negara.

Agar penyebaran tidak meluas, berbagai negara menerapkan kebijakan pembatasan aktivitas masyarakat. Pemerintah dan berbagai kalangan mengampanyekan gerakan bekerja di rumah, belajar di rumah, dan beribadah di rumah agar gerak virus corona menjadi terbatas.

Sejumlah negara bahkan sudah melakukan hal yang lebih ekstrem yaitu karantina wilayah (lockdown). Tidak boleh ada warga yang pergi ke luar negeri, dan pendatang dari negara lain tidak boleh masuk. Ketika lockdown, warga benar-benar tidak boleh boleh keluar rumah kecuali untuk urusan yang amat sangat mendesak sekali banget.

Kebijakan work from home apalagi lockdown membuat aktivitas publik menjadi terbatas. Memang nyawa adalah prioritas pertama dan paling utama. Namun tidak bisa dipungkiri keterbatasan aktivitas masyarakat membuat roda perekonomian berjalan lambat, bahkan mungkin berhenti sama sekali.

Situasi ini juga terjadi di Indonesia. Bank Indonesia (BI) sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 dari 5-5,5% menjadi 4,2-4,6%. Bahkan pemerintah punya skenario terburuk ekonomi Indonesia stagnan alias tidak tumbuh alias 0%.

Artinya, pelambatan ekonomi bukan lagi soal terjadi atau tidak tetapi seberapa dalam. Ini yang membuat investor ogah mendekati aset-aset berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Situasi saat ini memang sedang tidak mendukung untuk mengambil risiko. Bahkan obligasi pemerintah di Asia yang menawarkan imbalan tinggi juga tidak menarik," ujar Pan Jingyi, Market Strategist di IG Asia, seperti dikutip dari Reuters.

Indonesia 'Ketatagihan' Hot Money

Sementara dari dalam negeri, rupiah terpukul karena Indonesia karena masih menanggung 'dosa' bernama defisit transaksi berjalan (current account deficit). Pada 2019, defisit transaksi berjalan Indonesia adalah -2,72% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Transaksi berjalan menggambarkan pasokan devisa dari ekspor-impor barang dan jasa. Pasokan devisa dari pos ini dipandang lebih berjangka panjang ketimbang investasi portofolio di sektor keuangan alias hot money yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Oleh karena itu, transaksi berjalan bisa menopang stabilitas nilai tukar mata uang dalam jangka panjang.

Tahun ini, sepertinya tekanan terhadap transaksi berjalan akan datang dari kelesuan ekspor. Pasalnya, harga dua komoditas andalan ekspor Indonesia yaitu batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) sedang jatuh. Secara YTD, harga batu bara dan CPO ambrol masing-masing -25,03% dan -3,33%.

Pada 2019, nilai batu bara menyumbang 11,27% dari total ekspor Indonesia dan berada di posisi pertama. Kedua adalah CPO dengan kontribusi 9,29%. Oleh karena itu, gangguan ekspor dua komoditas tersebut akan mempengaruhi performa ekspor secara keseluruhan.

Harga batu bara dan CPO anjlok tidak lepas dari dampak penyebaran virus corona yang sudah disebutkan sebelumnya. Kala perekonomian dunia terancam stagnan, bahkan mengkerut, permintaan akan komoditas tentu berkurang sehingga harga bergerak ke selatan.

"Fundamental Indonesia dan cadangan devisa memang membaik sejak akhir 2018, tetapi ketergantungan terhadap portofolio untuk membiayai defisit transaksi berjalan membuat rupiah 'tersandera' oleh sentimen eksternal. Ini membuat kami masih menempatkan obligasi berbasis rupiah di posisi underweight. Kurs rupiah terhadap dolar AS bisa saja menuju ke Rp 16.500/US$ dalam waktu dekat jika arus modal keluar (capital outflows) terus meningkat," sebut riset Citi. (*)

 Sumber : CNBC /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM