Benarkah Ada Alat Penghemat Listrik? Begini Penjelasan PLN


Senin, 23 Maret 2020 - 21:40:15 WIB
Benarkah Ada Alat Penghemat Listrik? Begini Penjelasan PLN PLN

PADANG, HARIANHALUAN.COM -- PLN mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya promosi alat yang dapat menghemat tagihan rekening listrik. Pasalnya, klaim tersebut dinilai tak bisa dipertanggung jawabkan. Penghematan listrik seharusnya tidak dari alat tapi dari perilaku konsumen sendiri. 

Seperti diketahui belakangan ini banyak beredar promosi alat penghemat listrik dalam berbagai bentuk yang menyasar masyarakat. Untuk itu, PLN meminta masyarakat lebih waspada dan tidak memasang alat penghemat listrik yang ditawarkan oleh pihak manapun, termasuk yang mengaku petugas resmi dari PLN.

"Kami tegaskan bahwa PLN tidak pernah mengeluarkan produk berupa alat penghemat listrik," ujar Vice President Public Relation PLN, Dwi Suryo Abdullah.

Alat penghemat listrik yang ditawarkan umumnya berupa peralatan kompensator daya yang diklaim mampu menghemat listrik atau mampu memperkecil pembacaan nilai daya aktif yang terukur pada kWh meter. 

Kajian diberbagai laboratorium teknik dilakukan melalui pengukuran langsung nilai daya dan energi, sudut fasa, harmonisa, juga pengamatan bentuk gelombang arus dan tegangan dengan menggunakan peralatan Power Quality and Energi Analyzer serta Osiloskop. Pengukuran dilakukan pada dua kondisi yaitu ketika alat kompensator daya digunakan maupun tanpa alat kompensator daya. 

Hasil kajian dari berbagai merek dagang, penggunaan alat kompensator daya tidak memberikan dampak terhadap konsumsi daya aktif oleh beban dengan demikian alat kompensator daya tidak dapat membantu mengurangi konsumsi energi pada pelanggan dan tidak mempengaruhi pengukuran energi pada kWh meter.

Semua alat penghemat listrik yang diteliti di laboratorium dan beredar di pasaran merupakan komponen pasif yang terdiri dari kapasitor dengan rangkaian pendukungnya. Saat dipasang pada beban rumah tangga yang bersifat resistif penggunaan alat penghemat listrik dapat memperburuk faktor daya dan justru akan memperbesar energi terukur.

“Jadi alat penghemat listrik hampir pasti tidak bisa mengurangi tagihan listrik,” ujar Dwi.

Mengapa tidak bisa? Karena alat tersebut mengurangi arus, atau mengurangi energi reaktif (VAr), bukan energi aktif (Watt), sementara yang dibayar konsumen adalah energi aktif (Watt) dikali waktu, yang satuannya kilo Watt-Jam, atau kWh. 

“Lalu, mengapa jawabannya hampir pasti tidak bisa? Ya, karena untuk pelanggan tertentu khususnya berdaya terpasang yang besar, PLN membatasi penggunaan energi reaktif (kVArh) dengan memasang kVArh-meter. Artinya apabila pelanggan memakai lebih dari batas daya reaktif yang dikonsumsi, akan dikenakan biaya yang diukur oleh kVArh,” jelas Dwi. 

“Sehingga penggunaan alat hemat listrik yang dipromosikan ini, bisa saja memang dapat mengurangi kompensasi kelebihan kVArh namun harus dihitung betul berapa daya reaktif yang akan dikompensasi oleh alat tersebut,” tambah Dwi.

Dengan hasil kajian tersebut PLN menghimbau kepada seluruh pelanggan untuk tidak memasang alat penghemat listrik yang ditawarkan karena tidak terbukti dapat mengurangi tagihan listrik bahkan akan meningkatkan pengukuran energi listrik. 

Peningkatan tagihan biasanya sejalan dengan penambahan penggunaan listrik. Terkadang kita tidak merasa kalau peralatan elektronik kita bertambah, misalnya dulu tidak menggunakan ac, sekarang menggunakan ac ataupun alat elektronik lain. 

Ini tentu akan meningkatkan penggunaan listrik. Mengingat tarif listrik, khususnya untuk rumah tangga sejak 2017 tidak pernah ada kenaikan yaitu sebesar Rp 1.467/kwh. (*)

 Sumber : rel /  Editor : Agoes Embun

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 16 Maret 2020 - 20:58:17 WIB

    Harga BBM Bakal Turun Lagi, Benarkah?

    Harga BBM Bakal Turun Lagi, Benarkah? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan buka suara soal situasi terkini harga minyak dunia. Ia mengaku, harga minyak dunia memang anjlok ke lebel US$ 30 per bar.
  • Ahad, 09 Februari 2020 - 00:38:20 WIB

    Resesi Dunia Diramal Datang 6 Bulan Lagi, Benarkah?

    Resesi Dunia Diramal Datang 6 Bulan Lagi, Benarkah? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Resesi ekonomi sedang membayangi sejumlah negara pada pertengahan tahun 2020. Sentimen ini kembali mencuat setelah Hong Kong merilis data pertumbuhan ekonomi sepanjang triwulan keempat 2019, pereko.
  • Ahad, 05 Januari 2020 - 17:49:55 WIB

    Benarkah Jokowi Dapat Untung dari Skandal Jiwasraya?

    Benarkah Jokowi Dapat Untung dari Skandal Jiwasraya? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Skandal PT Asuransi Jiwasraya masih terus bergulir liar. Isunya menyinggung banyak pihak, bahkan sampai ke lingkaran Istana Presiden..
  • Sabtu, 14 Desember 2019 - 14:20:28 WIB

    RI Mau Dikuasai China Lewat Utang, Benarkah?

    RI Mau Dikuasai China Lewat Utang, Benarkah? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Beberapa waktu lalu muncul kabar bahwa China tengah menjalankan misi menguasai negara-negara lain lewat utang. Salah satu yang disebutkan adalah Indonesia..
  • Kamis, 07 November 2019 - 08:05:50 WIB

    Dear Mas Nadiem.., Gojek Disebut Tertatih-Tatih di Pasar Regional, Benarkah?

    Dear Mas Nadiem.., Gojek Disebut Tertatih-Tatih di Pasar Regional, Benarkah? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Gojek, startup penyandang status Unicorn dengan valuasi terbesar di Indonesia, bahkan disebut-sebut telah menjadi Decacorn dengan valuasi US$10 miliar, setara dengan Rp142 triliun, melanjutkan pers.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM