Seluk Beluk Hantavirus, Pernah Ditemukan di Banten 2009 Silam


Rabu, 25 Maret 2020 - 08:34:10 WIB
Seluk Beluk Hantavirus, Pernah Ditemukan di Banten 2009 Silam Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Belum usai virus Corona, warganet sudah ramai memperbincangkan virus lain, yakni Hantavirus. Nama virus tersebut sempat nangkring di Google Trends. Tahukah Anda, bahwa Hantavirus jenis baru sempat ditemukan di Kota Serang, Banten?

Indrawati Sendow, NLPI Dharmayanti, M Saepullah, dan RMA Adjid melaporkan penelitian mengenai Hantavirus yang dimuat di Jurnal Wartazoa tahun 2016. Penelitian itu berjudul 'Infeksi Hantavirus: Penyakit Zoonosis yang Perlu diantisipasi Keberadaannya di Indonesia', diakses dari situs Kementerian Kesehatan RI, Rabu (25/3/2020).

Hantavirus adalah virus yang disebarkan oleh hewan pengerat (tikus) dan menyebabkan beragam penyakit pada manusia. Hantavirus ini menular dari tikus ke manusia lewat uap dari urin, tinja, ludah, dan gigitan. Namun demikian, manusia tidak bisa menularkan hantavirus ke manusia lainnya.

Ada pula Hantavirus jenis Hantaan (HTNV) dengan tingkat kematian (Case Fatality Rate/CFR) 10% dari yang positif terjangkit, jenis Seoul (SEOV) dengan tingkat kematian 1-2%, dan Puumala virus (PUUV) dengan tingkat kematian rendah sebesar 0,1% saja.

Disebutkan dalam penelitian Indrawati Sendow dkk, Hantavirus memang belum banyak diketahui di Indonesia, namun bukan berarti tidak ada di Indonesia. Kasus Hantavirus jenis Hantaan (HTNV), Seoul (SOEV), dan Puumala (PUUV) sudah ditemukan di Indonesia.

Ada laporan yang unik dari Kota Serang, Banten. Di kota ini ada kasus Hantavirus jenis baru dan dinamakan Hanta strain Serang atau Serang Virus (SERV). Virus itu ditularkan oleh tikus rumah. Kasus Hantavirus dari Serang dilaporkan peneliti muncul tahun 2009.

Prevalensi (jumlah keseluruhan kasus pada suatu wilayah) pemicu virus pada hewan pengerat di kawasan pelabuhan di Indonesia mulai dari 7,9% hingga 40,3%. Prevalensi antibodi terhadap Hantavirus pada manusia antara 1,1 sampai 28,9% kecuali di Maumere yang mencapai 28,9%.

Penelitian tahun 2013 menemukan tikus di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, positif mengandung Hantavirus spesies Seoul, namun sayangnya tidak dilaporkan antibodi pada manusia setempat. Pada tahun 2009, ada peningkatan (33,9%) kemunculan Hantavirus yang dibawa oleh tikus jenis Rattus norvegicus dan R tanezumi di Kepulauan Seribu.

Gejala

Periode inkubasi hantavirus kurang lebih dua hingga delapan pekan. Bila sudah terjangkit hantavirus, maka gejala yang dirasakan seseorang adalah demam, kelelahan, dan sakit pada otot.

Kelompok otot yang besar seperti paha, pinggang, punggung, dan bahu kadang terasa sakit bila orang terkena hantavirus. Gejala lainnya adalah panas-dingin, sakit perut, pusing, sakit kepala, mual, muntah, dan diare.

Pada tahap selanjutnya, paru-paru bakal terisi oleh cairan. Korban hantavirus bakal kesusahan bernapas.

Agar terhindar dari Hantavirus

Kejadian wabah Hantavirus di beberapa negara berhubungan dengan meningkatnya populasi tikus. Sebabnya adalah fungsi hutan beralih menjadi permukiman, kondisi sanitasi yang buruk, lingkungan jorok, dan sumber makanan tikus hilang misalnya akibat hutan terbakar. Pada manusia, kasus Hantavirus lebih banyak ditemukan di daerah yang kondisi lingkungannya buruk serta banyak tikus.

Supaya terhindar dari virus ini, maka pasanglah kawat kasa agar ikus tidak masuk ke rumah, pasanglah jebakan tikus, jangan sisakan sampah makanan di tempat sampah supaya tikus tidak datang.

Vaksin untuk Hantavirus sudah ada, yakni berasal dari jaringan ginjal garbil dan hamster. Vaksin tersebut diproduksi Tiongkok dan Korea. Pemberian vaksinasi Hantavirus dapat menurunkan kasus infeksi pada manusia secara drastis. (*)

 Sumber : detikNews /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM