Masih Mau Minta Lockdown Jakarta? Dampaknya Bikin Merinding Lho!


Sabtu, 28 Maret 2020 - 14:15:39 WIB
Masih Mau Minta Lockdown Jakarta? Dampaknya Bikin Merinding Lho! Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Kementerian Keuangan mengaku telah menyiapkan anggaran bila lockdown menjadi opsi dalam memutus penyebaran wabah virus corona di Indonesia. Kendati begitu, Kemenkeu menyatakan sangat kecil kemungkinan bila Indonesia mengambil opsi lockdown.

Lalu, bagaimana dampaknya bagi perekonomian bila lockdown benar-benar direalisasikan, termasuk Ibu Kota DKI Jakarta? Ekonom Indef, Bhima Yudhistira, memaparkan, lockdown di Jakarta saja sudah cukup membuat pertumbuhan ekonomi RI anjlok drastis alias minus sepanjang 2020.

"Diperkirakan pertumbuhan ekonomi menyentuh angka negatif," ujar Bhima kepada Warta Ekonomi di Jakarta, Jumat (27/3/2020), diberitakan wartaekonomi.co.id

Menurutnya, banyak sekali rentetan dampak negatif bila lockdown dilakukan di Jakarta. Pertama, soal ketersediaan pangan tentu tidak siap karena sebagian besar kebutuhan pokok disumbang dari daerah luar Jakarta. Arus distribusi barang akan terganggu jika lockdown dilakukan.

"Kelangkaan bahan pokok khususnya jelang Ramadhan akan menyeret kenaikan harga. Inflasi tembus di atas 6% merugikan daya beli masyarakat se-Indonesia," jelasnya.
 
Ke dua, panic buying masyarakat Jakarta belum bisa diantisipasi. Jadi ketika lockdown diumumkan, masyarakat yang panik akan menyerbu pusat perbelanjaan. Bukan hanya makanan minuman, tapi juga obat-obatan bisa ludes tak tersisa.

"Kemarin waktu panic buying di beberapa daerah, pemerintah tidak punya pencegahan apapun. Yang saya khawatirkan masyarakat menengah bawah, kemampuan untuk menimbun bahan pangan tidak sekuat kelas atas. Angka kemiskinan bisa naik, bahkan bisa menyebabkan kelaparan massal di Jakarta," paparnya.

Ke tiga, kalau lockdown dilakukan, aktivitas semua perusahaan yang kantor pusatnya di Jakarta akan terganggu karena peredaran uang sebagian besar di Jakarta. Secara lebih luas, ada 1,2 juta unit kantor di Jabodetabek, kemudian ada 7,3 juta orang karyawan di wilayah tersebut.

"Mereka ini kan tidak hanya menetap di Jabodetabek, tapi juga berasal dari daerah sekitarnya. Pastinya pendapatan terganggu. Padahal, banyak pekerja yang punya cicilan motor, rumah, tagihan listrik, dan utang lainnya. Pemerintah harus pikirkan kelompok rentan ini juga," ucap Bhima.

Kemudian yang terakhir, pelaku UMKM akan kena imbas paling parah, driver ojol tidak bisa bekerja. "Gelombang PHK naik, pertumbuhan ekonomi bisa anjlok signifikan. Krisis makin cepat," tutupnya.(*)

 Sumber : wartaekonomi.co.id (Haluan Media Grup) /  Editor : NOVA
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 29 Mei 2020 - 07:25:32 WIB

    Tak Cuma Sembako, Masih Banyak Jenis Bantuan Pemerintah Selama Covid-19

    Tak Cuma Sembako, Masih Banyak Jenis Bantuan Pemerintah Selama Covid-19 HARIANHALUAN.COM -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meliris informasi terkait skema pemberian bantuan untuk masyarakat terdampak pandemi virus COVID-19 pada Kamis 28 Mei 2020. Patut dipahami, bahwa terdapa.
  • Rabu, 27 Mei 2020 - 15:30:47 WIB

    Meski Dibuka 5 Juni Nanti, Masyarakat Mengaku Masih Takut ke Mal

    Meski Dibuka 5 Juni Nanti, Masyarakat Mengaku Masih Takut ke Mal HARIANHALUAN.COM - Sejumlah masyarakat mengaku tak semangat lagi mengunjungi pusat perbelanjaan alias mal di ibu kota meski ada wacana akan dibuka kembali pada 5 Juni mendatang. Mereka masih khawatir untuk bepergian ke tempat.
  • Selasa, 26 Mei 2020 - 19:52:45 WIB

    Mahfud MD Sebut 'New Normal' Masih Wacana

    Mahfud MD Sebut 'New Normal' Masih Wacana HARIANHALUAN.COM - Kebijakan tentang tatanan hidup baru atau New Normal hidup berdamai dengan pandemi Covid-19 masih sebatas wacana. Hal tersebut, disampaikan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhu.
  • Selasa, 26 Mei 2020 - 14:44:47 WIB

    Sabar Bunda, Jadwal Masuk Sekolah Masih Belum Jelas

    Sabar Bunda, Jadwal Masuk Sekolah Masih Belum Jelas HARIANHALUAN.COM -- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengatakan perlu mempertimbangkan ulang dalam menentukan tahun ajaran baru di tengah masih mewabahnya pandemi Covid-19..
  • Senin, 25 Mei 2020 - 16:27:00 WIB

    Soal Pasien Covid-19 Tembus 20.000, Luhut: Masih Dalam Batas Normal

    Soal Pasien Covid-19 Tembus 20.000, Luhut: Masih Dalam Batas Normal HARIANHALUAN.COM - Berdasarkan data 24 Mei 2020, jumlah kasus positif Covid-19 mencapai 22.271 orang, terjadi penambahan sebanyak 526 orang dari data sebelumnya..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]