Agar 2,5 Juta Orang RI Tak Kena Corona, Ini Rekomendasi Tim FKM UI


Ahad, 29 Maret 2020 - 09:08:14 WIB
Agar 2,5 Juta Orang RI Tak Kena Corona, Ini Rekomendasi Tim FKM UI Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Terkait penanganan virus Corona, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) menyampaikan rekomendasi ke pemerintah. Bila rekomendasi ini dilakukan, prediksi 2,5 juta orang Indonesa terjangkit COVID-19 tidak akan terjadi.

Rekomendasi ini ada dalam draf 'COVID-19 Modelling Scenarios, Indonesia', disusun oleh Tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) bertanggal 27 Maret 2020, ditujukan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Draf itu disusun oleh tim yang terdiri dari Iwan Ariawan, Pandu Riono, Muhammad N Farid, dan Hafizah Jusril.

"Ini untuk pemerintah, dalam hal ini Bappenas. Kami diminta oleh Bappenas," kata Pandu Riono, pakar epidemiologi dari UI yang turut menyusun 'COVID-19 Modelling Scenarios, Indonesia' tersebut, kepada wartawan, Minggu (29/3/2020).

TIM FKM UI membuat prediksi, bila intervensi pemerintah terhadap pandemi COVID-19 ini lemah, maka akan semakin banyak orang yang terjangkit virus SARS-CoV-2 itu. Bila kondisi ini dibiarkan tanpa intervensi, maka nyaris 2,5 juta orang bakal terjangkit COVID-19, penyakit yang disebabkan oleh SARS-CoV-2. Kapasitas rumah sakit bisa jebol bila terlalu banyak orang yang butuh perawatan khusus COVID-19.

Berikut adalah jenis-jenis intervensi yang dilakukan terhadap penularan COVID-19 yang dimaksud Tim FKMUI:
1. Tanpa intervensi
2. Intervensi rendah: jaga jarak sosial secara sukarela, membatasi kerumunan massa
3. Intervensi moderat: tes massal cakupan rendah, mengharuskan jaga jarak sosial (penutupan sekolah/bisnis)
4. Intervensi tinggi: tes massal cakupan tinggi, mewajibkan jaga jarak sosial

Kini, Indonesia dinilai Pandu berada di antara kondisi 'tanpa intervensi' dan 'intervensi rendah'. Pemerintah perlu meningkatkan intervensinya ke level maksimum, jangan ragu-ragu, ini demi nyawa banyak orang. Bila dibiarkan tanpa intervensi, maka diprediksi akan ada 240.244 jiwa melayang gara-gara COVID-19.

"Pilih intervensi yang berdampak besar untuk menekan jumlah kasus yang butuh perawatan rumah sakit, karena kapasitas rumah sakit di Indonesia tidak akan mampu menangani korban Corona ini. Agar SDM (sumber daya manusia) kita tidak habis, maka angka kematian perlu ditekan. Investasi ke upaya penanganan tersebut, karena kematian tidak bisa dihidupkan lagi, tapi pertumbuhan ekonomi bisa dipulihkan kalau SDM kita tidak hilang," tutur Pandu, Doktor epidemiologi lulusan University of California Los Angeles ini.

Berikut Rekomendasi Kebijakan Tim FKM UI:

1. Mewajibkan social distancing: safe home shelter

Opsi 1
a. Dilakukan serempak nasional
b. Mulai minggu depan (misal 1 April) sampai 1 bulan dan dievaluasi kembali
c. Cara:
- School frome home
- Work from home: kantor-kantor pemerintah dan swasta (tidak sekadar imbauan)
- Penutupan perjalanan ke dalam dan ke luar pulau/provinsi/kota/kabupaten
- Penutupan tempat wisata dan tempat berkumpul lainnya
- Pembatasan transportasi publik

Opsi 2
a. Wilayah dengan Risiko Tinggi
- Mewajibkan social distancing serempak dalam satu wilayah sampai dengan 1 bulan dan dievaluasi kembali
b. Wilayah belum/masih sedikit kasus
- Deteksi kasus dan contact tracing
- Isolasi diri
- Menutup perjalanan ke dalam dan ke luar pulau/provinsi/kota/kabupaten (safe islands/districts)

2. - Perluasan rapid test untuk screening
- Uji lab (PCR) dan diperluas dengan Genexpert

3. Memberlakukan kebijakan khusus Ramadhan, Lebaran, dan Paskah

3a. Memberlakukan kebijakan khusus Ramadhan dan Lebaran (tergantung dari perkembangan infeksi COVID-19)
a. Imbauan salat tarawih di rumah
b. Imbauan salat Ied ditiadakan
c. Larangan mudik

3b. Memberlakukan kebijakan khusus Paskah (tergantung dari perkembangan infeksi COVID-19)
a. Imbauan Kebaktian/Misa Kamis Putih, Jumat Agung, dan Paskah di rumah saja
b. Imbauan Kebaktian/Misa dan acara terkait perayaan Paskah ditiadakan
c. Larangan Mudik

4. Memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan (supply side)
a. Menyiapkan RS pemerintah dan non-pemerintah (pemenuhan tenaga kesehatan, sarana dan prasarana, ruang isolasi, dan bahan medis)->impor, hibah, produksi lokal (larangan menaikkan harga)
b. - Prioritisasi perawatan di RS (positif COVID-19)
- Pelibatan mahasiswa tingkat akhir dalam pemantauan ODP
- Pelibatan peserta internship dan co-ass dalam perawatan PDP
c. Penyiapan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda)
Untuk desentralisasi uji COVID-19 (baik tes cepat dan PCR), percepatan pengujian, persingkat alur pemberian hasil lab
d. Penyiapan ruang isolasi non-RS. (*)

 Sumber : detik.com /  Editor : Heldi

Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]