Bukti Bahwa Virus Corona Bukan Ciptaan Manusia


Ahad, 29 Maret 2020 - 22:17:22 WIB
Bukti Bahwa Virus Corona Bukan Ciptaan Manusia Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Virus corona disebut-sebut sebagai hasil ciptaan manusia yang tentunya semakin meresahkan banyak kalangan. Eits, jangan mudah percaya ya, karena para peneliti akhirnya berhasil menganalisis virus yang menjadi penyebab COVID-19 ini.

Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine, menganalisis susunan genetik atau genom dari virus corona. Tidak ada bukti bahwa virus corona adalah buatan manusia atau direkayasa.

Baca Juga : Badai Matahari Hantam Bumi dengan Kecepatan 1,8 Juta Kilometer Per Jam

Peneliti pun membandingkan dengan jenis virus corona lain yang dikenal, termasuk penyebab Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) 2003 dan Sindrom Pernafasan Timur Tengah (MERS) 2012.

Dilansir Okezone dari Thesun, salah satu peneliti Dr Kristian Andersen, seorang Profesor Imunologi dan Mikrobiologi di Scripps Research, mengatakan, dengan membandingkan data sekuens genom yang tersedia untuk strain coronavirus ini memperkuat uji penelitian.

Baca Juga : Pertama dalam Sejarah, Ilmuwan Temukan Mumi Hamil 7 Bulan

“Kita dapat dengan tegas menentukan bahwa SARS-CoV-2 berasal melalui proses alami,” terangnya.

Sebelumnya, sebuah Jurnal Ilmiah Nature yang diterbitkan 2017 tentang sekelompok ilmuan China membangun laboratorium tingkat keamanan hayati baru 4. Ahli biologi molekuler Richard Ebright dari Rutgers University, Piscataway, mengungkapkan, kekhawatiran akan penyakit infeksi yang tidak disengaja, berulang kali terjadi dengan pekerja laboratorium yang menangani SARS di Beijing.

Ebright sendiri seorang ilmuan yang memiliki sejarah panjang mengibarkan bendera merah tentang studi dengan patogen berbahaya. Bahkan dirinya pada 2015 mengkritik percobaan modifikasi dibuat untuk virus mirip SARS, yang beredar di kelelawar China, agar bisa melihat apakah berpotensi menyebabkan penyakit pada manusia.

Ebright mempertanyakan keakuratan perhitungan Bedford bahwa setidaknya ada 25 tahun jarak evolusi antara RaTG13 dan virus yang disimpan di lembaga virologi Wuhan, yang mulai meneror pada 2019 itu jenis nCoV. Dengan alasan bahwa tingkat mutasi mungkin berbeda, ketika dilewatkan melalui host yang berbeda sebelum manusia.

“Data Virus Corona 2019-nCoV adalah konsisten dengan masuk ke populasi manusia, baik sebagai kecelakaan alami atau kecelakaan laboratorium.” tutur Ebright kepada ScienceInsider
 
Bahkan Ebright menuding tim peneliti dari Institut Virologi Wuhan dan Aliansi EcoHealth telah menjebak kelelawar di gua-gua di seluruh China, seperti yang ada di Guangdong, untuk mengambil sampel virus corona.

“Kelompok ini selama 8 tahun telah menjebak kelelawar di gua-gua di sekitar China untuk mencicipi kotoran dan darah mereka dari virus. 10.000 kelelawar dan 2000 spesies lainnya,” tambahnya.

Ebright menambahkan, mereka telah menemukan sekira 500 virus corona baru, 50 di antaranya jatuh relatif dekat dengan virus SARS pada silsilah keluarga, termasuk RaTG13.

Kemudian, kelompok ini juga mengambil sampel kotoran kelelawar, yang mereka kumpulkan pada 2013 dari sebuah gua di Moglang di provinsi Yunnan,” tegas Ebright.(*)

Editor : NOVA | Sumber : okezone
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]