Kisah Haru Dokter Positif Corona hingga Dikabarkan Tewas


Sabtu, 04 April 2020 - 15:01:10 WIB
Kisah Haru Dokter Positif Corona hingga Dikabarkan Tewas Tenaga medis menangani pasien virus corona. (AP/Luca Bruno)

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- KY, Dokter Spesialis Paru sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, telah menyiapkan mentalnya menghadapi risiko terburuk menangani pasien virus corona (Covid-19). Kekhawatirannya menjadi kenyataan setelah sepekan merawat pasien.

Hasil kala mengikuti rapid test di sebuah rumah sakit, 19 Maret lalu, menyatakan dirinya positif terinfeksi Covid-19. KY menepi dari pertempuran utama untuk menghadapi pertempurannya sendiri. 

"Saya stress luar biasa," terang KY saat dikutip dari CNNIndonesia.com, Sabtu (4/4/2020).

Sebelum menjalani rapid test KY mengaku sudah merasakan gejala Covid sejak Jumat, 13 Maret 2020. Badannya meriang disertai batuk hingga sesak nafas.

Kondisinya semakin memburuk dua hari kemudian. Ia lantas memutuskan untuk menjalani pemeriksaan dan perawatan di rumah sakit tempatnya bekerja. Di sana KY menjalani tes pertama, rapid test dan CT scan. Hasilnya, KY disebut berpotensi besar positif Covid.

Mengetahui itu KY berinisiatif melakukan isolasi mandiri di rumahnya. "Saya pulang kerja tidak mau ketemu anak-anak, saya isolasi sendiri di kamar," ujar dia. 

Sambil memanggul kecemasan KY berusaha menenangkan diri. Tapi bukan hal mudah. Kabar dirinya tertular corona tersebar. Bahkan sampai muncul gosip dirinya tewas karena Covid-19.

"Saya digosipkan meninggal, Jumat (20/3) malam, teman-teman telepon saya 01.00 WIB, mereka nangis-nangis, Direktur regional RS saya bekerja juga sampai menghubungi," kenang KY.

Gosip tewas membuat kondisi KY semakin buruk. Ia lantas menuju RSUP Persahabatan agar mendapat perawatan lanjutan. Namun, setiba di rumah sakit tersebut KY dianjurkan oleh kolega sejawatnya, Dokter Spesialis Paru di sana, untuk memilih rumah sakit lain.

Alasan dokter itu, RSUP Persahabatan berstatus RS rujukan khusus pasien Covid-19. Ruangan penuh. Situasi tersebut ditakutkan membuat KY bertambah stress.

"Di sini enggak bisa istirahat, kamu akan terlalu stress karena pasiennya banyak," ujar KY menirukan ucapan teman sejawatnya.

KY menerima anjuran koleganya. Pada Sabtu, 21 Maret, dia memutuskan ke RS Pelni, Jakarta Barat, tempatnya menjalani tes spesimen.

Kondisi KY tak kunjung membaik, malah semakin buruk. KY merasa demam dan sesak nafas semakin hebat pada 23 Maret. Pihak RS memberikan alat bantu oksigen untuk meringankan sesak nafasnya. Malam itu ia dirawat di ruang isolasi yang berkapasitas satu pasien saja. 

Masa Pemulihan

KY menuturkan hasil SWAB baru ia terima pada 31 Maret. Hasilnya, merujuk spesimen 24 Maret, KY dinyatakan positif terjangkit corona. Namun, sejak 26 Maret, pihak rumah sakit menyatakan KY membaik dan diperbolehkan melakukan isolasi mandiri di rumah.

"Karena saya juga dokter paru, pengobatan sesuai guideline, sampai sekarang saya masih minum vitaminnya kok," kata KY.

Selain terapi pengobatan, ada satu hal yang menjadi kunci baginya untuk lekas sembuh, yakni ketika ia memutuskan 'kabur' dari pemberitaan terkait Covid-19 di sosial media.

KY menyebut kadar kepanikannya berangsur menurun setelah terisolasi dari berita-berita corona.

"Salah satu healing mental saya, saya tidak nonton tv, tidak buka social media, saya matikan handphone," terangnya.

KY kini menghabiskan masa isolasi mandiri di rumah, meski begitu ia tetap memperhatikan betul protokol kesehatan.

Ia merasa seperti di dalam penjara, tinggal dalam satu kamar khusus dan menghabiskan hari-harinya untuk tidak berkontak langsung dengan istri dan anak-anaknya.

"Dengar suara anak lewat tembok saja sudah memberikan semangat," kenangnya getir.

KY mengaku keadaan mentalnya membaik usai menjauhkan diri dari segala informasi terkait Covid-1. Ia menghabiskan waktu untuk memperhatikan asupan gizi tubuhnya, serta mendapat asupan hiburan dari anak-anaknya melalui video call.

Secara klinis KY merasa sudah sangat sehat. Namun ia masih harus menunggu hasil tes SWAB kedua. KY menjalani SWAB kedua pada 31 Maret. Jika tak ada kendala, hasilnya bisa diketahui 7 April mendatang.

Pria yang pekan depan akan merayakan ulang tahun ke-39 ini berharap kesembuhan total sebagai hadiah khusus untuknya. 

"Sudah gatal ingin turun ke lapangan menangani pasien lagi," ucapnya sembari tertawa.

Dia masih ingat perjuangannya merawat para pasien corona. Setelah kasus pertama positif Covid-19 diumumkan pemerintah, 2 Maret lalu, tren pasien Covid-19 terus merangkak naik.

"Saya ingat kasus pertama Covid-19 yang saya pegang tanggal 11 Maret," kata dia.

KY mengaku merawat lima hingga enam pasien sebelum dia harus rehat usai positif terinfeksi covid-19. Ia pun turut menitip pesan kepada publik, khususnya untuk pasien terinfeksi Covid-19.

Menurutnya kunci kesembuhan utama adalah pikiran yang positif. "Karena bagaimanapun imunitas adalah penting dan itu tergantung kepada kondisi mental, terapi psikologis membuat pasien nyaman," terangnya.

Atas dasar itu dia menyebut pihak rumah sakit seharusnya segera mengizinkan pasien pulang saat yang bersangkutan telah menunjukkan gejala membaik.

Dia bilang penting bagi pasien yang sudah membaik untuk melakukan isolasi mandiri di rumah ketimbang di rumah sakit. Sebab, menurutnya, kondisi rumah sakit dapat memberikan efek 'tidak bahagia' bagi pasien. (*)

 Sumber : CNN /  Editor : Milna
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]