Pandemi Covid-19, Ketidakpastian Global, dan Masa Depan Dunia


Sabtu, 11 April 2020 - 08:43:53 WIB
Pandemi Covid-19, Ketidakpastian Global, dan Masa Depan Dunia

Sebuah abad ketidakpastian tapi juga peluang, dengan frasa lain, ketidakpastian sebagai sebuah ruang untuk membentuk masa depan. Demikian Cohen dan Kennedy menuliskan dalam Global Sociology (2013; 27 - 29) untuk menginterpretasikan dunia dalam hubungan antar bangsa yang sangat dinamis. Hal itu untuk mendeskripsikan dunia yang terglobalisasi saat itu sejak mereka pertama kali menerbitkan karya tulis dengan judul yang sama sejak edisi pertama tahun 2000. 

Oleh: Virtuous Setyaka

Beberapa poin yang menjadi catatan penting atas dunia yang terglobalisasi adalah (1) keterbukaan; (2) saling pengertian dan kerjasama antara rakyat dan pemerintah; (3) ada masalah yang dihadapi bersama antara si kaya dan si miskin yakni kolapsnya nilai pasar dan harga properti yang tak pasti yang terhubung pada krisis finansial; pendestabilisasian gejolak sosial yang tercipta oleh tumbuhnya ketimpangan ketika ada orang-orang yang tidak mampu mengakses peningkatan harga pangan, air, ruang kota, dan kesehatan; tuntutan kebebasan dan representasi politik yang dalam beberapa periode menyebabkan terhapusnya dan terganggunya hukum dan tatanan; virus-virus yang bermutasi dan bergerak melintas dunia; risiko kanker kulit akibat penipisan ozon; dampak peningkatan badai dan banjir; menipisnya pangan, gelombang kriminal, dan penyebaran kekerasan yang meningkat karena perang genosida atau kehancuran lingkungan. 

Selama dua dekade sebelum tahun 2020 ketika virus corona menjadi pandemi global, ketidakpastian sekaligus peluang membentuk masa depan sudah dituliskan. Maka apakah kini adalah puncak saatnya menataulang pembentukan masa depan dunia tersebut?

Pandemi Covid-19 dan Masa Depan Dunia?

Pandemi global Covid-19 telah memberikan gambaran kongkrit tentang tatanan dunia yang secara utuh belum mapan, baik secara struktur maupun sistem internasional yang mungkin saja selama ini didominasi negara-bangsa tertentu. Sehingga mereka yang sebelumnya dianggap mampu menghegemoni, namun senyatanya, kemungkinan kolapsnya tatanan hegemonik tersebut sangat potensial terjadi saat ini. Pandemi global Covid-19 akan menguji setiap negara-bangsa untuk mampu bertahan dari serangan wabah ini dan mau beradaptasi atau tidak, termasuk memanfaatkan peluang-peluang untuk tidak lagi bersifat tertutup dari dan superior atas negara-bangsa lainnya.

Selain itu, pemerintahan  di setiap negara-bangsa juga diuji untuk mampu memaksimalkan kesepahaman dalam kemauan mereka untuk mengoptimalkan kerja sama dengan warga negara, rakyat, dan masyarakat di dalam negara-bangsanya.

Ketika di masa pra-pandemi Covid-19 dunia justru mengalami kontraksi akibat globalisasi yang tak-terkontrol, justru di masa era-pandemi ini banyak orang khususnya ilmuwan atau akademisi menyebut situasi deglobalisasi terjadi. Deglobalisasi ditandai dengan adanya konektifitas yang terganggu bahkan terputus, fragmentasi ruang bersama dunia, bahkan segregasi dalam berbagai tingkatan hidup bersama. Pergeseran dari dunia yang terglobalisasi menuju deglobalisasi tentu saja tidak mudah dilalui oleh setiap aktor internasional baik pemerintah negara maupun non-negara di setiap bangsa.

Dinamika Internasional Era-Pandemi Covid-19

Beberapa catatan penting pengalaman negara-bangsa di dunia di era-pandemi ini menarik untuk diperhatikan. China sebagai negara-bangsa pertama yang teridentifikasi diserang Covid-19 akhirnya dianggap mampu menanggulangi pandemi ini dan bahkan mau membantu negara-bangsa lainnya yang diserang sesudahnya. Apakah China kemudian mampu membangun sejarah baru untuk menjadi hegemon baru di dunia? Apalagi negara-bangsa saingan utamanya seperti Amerika Serikat yang sebelumnya hegemonik, akhirnya juga diserang pandemi ini dan bahkan sempat tercatat menjadi teritinggi warganya yang mengidapnya di dunia, juga mau meminta bantuan dari China.

Beberapa negara di Eropa bahkan sempat kewalahan menghadapi serangan pandemi ini, dan ada yang bahkan berputus-asa ketika meminta bantuan ke negara tetangganya sesama Eropa, akhirnya juga meminta bantuan ke China. Apakah China mampu dan mau memanfaatkan momentum-momentum itu untuk bangkit dan menjadi hegemon baru dalam tatanan dunia masa depan? Ketika sejarah mengharuskan namun China justru gagal, menurut David Harvey (2020), maka akan kembali ke tangan AS namun dengan wajah yang berbeda secara ideologis. Harvey dalam konteks ini melihat dunia di masa depan tidak bisa lagi ditata dengan nilai-nilai liberal-kapitalistik, namun lebih sosialistik. Mungkinkah?

Beberapa negara-bangsa lainnya yang mungkin perlu dilihat adalah Korea Selatan, Vietnam, dan Kuba yang dianggap cukup berhasil menghadapi pandemi global Covid-19 ini. Korea Selatan adalah sebuah negara di Kawasan Asia Timur yang selama ini dekat bahkan menjadi sekutu AS berhasil karena kewaspadaannya yang tinggi sejak pertama kali mengidentifikasi ada warganya yang terinfeksi. Begitupun dengan Vietnam, sebuah Republik Sosialis di Kawasan Asia Tenggara yang dianggap mampu mengatasi serangan pandemi ini bahkan memproduksi alat-alat kesehatan yang juga diminati dan dimintai kerja sama oleh negara-bangsa lainnya yang warganya terinfeksi. Sedangkan Kuba adalah sebuah negara-bangsa di Amerika Selatan atau Kawasan Amerika Latin yang dikenal karena voluntarismenya yang luar biasa sebab mampu menggerakkan warga negaranya yang berprofesi sebagai dokter dan dikenal memiliki pendidikan kedokteran terbaik di dunia selama ini, untuk membantu negara-bangsa lainnya sebanyak sekitar 14 negara, dan salah satunya adalah Italia.

Bagaimana dengan Indonesia? Meskipun mengalami kesulitan dalam menangani penyebaran virus corona di dalam negerinya, namun dalam perhelatan pertemuan pemimpin negara yakni forum G-20, Indonesia cukup sukses untuk menyuarakan kerja sama antar negara bahkan antar kawasan untuk bekerja sama mengatasi pandemi ini dan dampaknya. Setidaknya, Indonesia mampu untuk mempengaruhi negara-bangsa lainnya bahwa pandemi yang tidak hanya berdampak dalam sektor kesehatan, namun juga ekonomi ini, harus diatasi bersama-sama. Mungkin tidak mudah dan hasilnya juga tidak bisa dilihat dan dirasakan dalam jangka pendek, namun berlama-lama untuk tidak segera bergotongroyong, akan semakin lama menyebabkan dunia menderita.

Masa depan dunia memang tidak mudah dibentuk dan ditata dalam waktu singkat. Setidaknya, sejarah dunia telah membuktikan, diantaranya tatanan dunia neoliberal yang membutuhkan waktu kurang lebih 40 tahun untuk menemukan formasinya. Sejak 1980-an ditata dan akhirnya berantakan kembali pada tahun 2020 akibat pandemi global Covid-19, entah virus ini ada dan menyebar sebagai sesuatu yang alamiah atau bahkan sengaja diciptakan.

Virtuous Setyaka, Dosen HI FISIP Unand, Mahasiswa S3 HI FISIP Unpad, dan Mentor GSC Indonesia.

 Editor : Dodi

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]