Begini Sejarah Gunung Anak Krakatau yang Menewaskan 36.417 Jiwa, Letusannya Terdengar Sampai Singapura


Sabtu, 11 April 2020 - 10:23:08 WIB
Begini Sejarah Gunung Anak Krakatau yang Menewaskan 36.417 Jiwa, Letusannya Terdengar Sampai Singapura Ist

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Gunung Anak Krakatau meletus Jumat (10/4/2020) malam. Tinggi kolom abunya sekitar 500 meter. Gunung Anak Krakatau dikenal dunia sejak letusan terbesarnya pada 1883.

Dikutip Harian Kompas (26/12/2018), letusan itu merupakan yang terkuat dalam sejarah, dengan level 6 skala Volcanic Explosivity Index (VEI).

Letusan itu hanya kalah dari letusan skala 7 Gunung Tambora pada 1815 dan letusan skala 8 Gunung Toba di Sumatera Utara, 74.000 pada 2017.

Letusan Krakatau disebut berkekuatan 21.574 kali daya ledak bom atom meleburkan Hiroshima (De Neve, 1984).

Selain melenyapkan Pulau Krakatau, letusan itu menghancurkan kehidupan di pesisir Banten dan Lampung.Kengeriannya dilukiskan catatan pribumi, seperti ”Syair Lampung Karam” yang ditulis Muhammad Saleh dan catatan kolonial.

Terdengar hingga Singapura dan Australia

Diberitakan Harian Kompas (27/8/1981), letusan itu terjadi pada 27 Agustus pukul 10.52 pagi. Letusannya terdengar hingga Singapura dan Australia.

Sedikitnya 36.417 orang meninggal dan hilang terseret gelombang atau tertimbun bahan letusan yang dimuntahkan gunung tersebut.

Letusan gunung api yang dahsyat itu merupakan puncak dari rangkaian ledakan yang terjadi sejak 20 Mei 1833.

Ketika itu Anak Krakatau meletus dengan memuntahkan abu gunung api dan uap air yang dilontarkan ke udara setinggi 11 kilometer dari Kawah Perbuatan.

Suara ledakannya saat itu terdengar hingga 200 kilometer. Intensitas bertambah pada tanggal 26 Agustus dan mencapai puncaknya pada Senin 27 Agustus.

Saat 27 Agustus itu batu dan abu halus dihembuskan ke angkasa. Tingginya mencapai 70-80 kilometer. Itu mengakibatkan gangguan cuaca dunia beberapa tahun kemudian.

Sinar matahari tidak mampu menembus abu gunung api yang terlontar ketika itu, sehingga bagian selatan Pulau Sumatera dan Jawa menjadi gelap gulita.

Endapannya menutup daerah seluas 827.000 kilometer persegi. Letusan-letusan lumpur terjadi September dan Oktober 1833 sampai Februari 1884.

Kemudian tiba masa tenang selama 44 tahun, hingga munculnya Anak Krakatau baru pada Agustus 1930.


Sejarah Gunung Anak Krakatau

Kepala Sub Dit Pengamatan Gunung Api Direktorat Vulkanologi Ir. Liek Pardyanto mengatakan sebutan Gunung Anak Krakatau yang sekarang dipakai orang sebenarnya tidak tepat.

Hal itu karena gunung itu adalah generasi ketiga dari Gunung Krakatau Purba yang pernah meletus sebelum 1.600.

Menurut catatan sejarah yang ada, kerucut Gunung Krakatau Purba pada mulanya muncul dan terlihat di atas permukaan air sekitar 2.000 meter di Laut Sunda.

Kerucut gunung itu pada saat itu diperkirakan terdiri atas endesit tridimit, basalt, dan abu gunung api yang berwarna hitam. Ada kawah aktifnya dan suatu saat bisa meletus dengan dahsyat.

Diperkirakan sebelum abad ke-18, pada waktu itu letusannya sampai menimbulkan kaldera.

Sisa  letusannya ketika itu 3 pulau kecil di batas kaldera, yaitu Pulau Krakatau (Rakata), Pulau Sertung, dan Pulau Panjang.

Dengan demikian berakhirlah siklus pertama Gunung Krakatau Purba itu.

Siklus keduanya dimulai dengan keaktifan Pulau Rakata yang mengeluarkan lelehan lava diselingi dengan letusan batuan bersifat basalt.

Dalam prosesnya kemudian Pulau Gunung Rakata, Danan, dan Perbuatan menjadi satu pulau gunung api yang berukuran 9x5 kilometer dan mempunyai kerucut.

Gunung Anak Krakatau inilah yang kemudian meletus pada 1833 dan menimbulkan korban 36.000 an jiwa. Kerucutnya juga ikut hancur saat itu. (*)

 Sumber : Kompas.com /  Editor : Milna
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 09 Juli 2020 - 15:37:31 WIB

    Kini Akta Kelahiran, Nikah, hingga KK Bisa Dicetak di Rumah, Begini Caranya

    Kini Akta Kelahiran, Nikah, hingga KK Bisa Dicetak di Rumah, Begini Caranya HARIANHALUAN.COM - Ditjen Dukcapil Kemendagri sejak awal Juli ini telah membuat kebijakan bahwa seluruh dokumen kependudukan kecuali e-KTP, dan Kartu Identitas Anak (KIA), bisa dicetak menggunakan kertas HVS. Dokumen kependud.
  • Sabtu, 04 Juli 2020 - 06:53:56 WIB

    Waspada, Begini Modus Baru Penculikan Anak

    Waspada, Begini Modus Baru Penculikan Anak HARIANHALUAN.COM – Delapan anak diduga menjadi korban penculikan oleh seorang pria tak dikenal, saat bermain di area Pasar Agung, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat. Beruntung, seluruh korban akhirnya berhasil diselam.
  • Sabtu, 27 Juni 2020 - 19:21:54 WIB

    Menteri Luhut Kasih Nasihat Buat Ibas Yudhoyono, Begini Isinya!

    Menteri Luhut Kasih Nasihat Buat Ibas Yudhoyono, Begini Isinya! HARIANHALUAN.COM - Dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan sempat menyinggung keberadaan Edhie Baskoro Yudhoyo.
  • Sabtu, 27 Juni 2020 - 15:31:17 WIB

    Begini Isi Nasihat Menteri Luhut ke Ibas Yudhoyono

    Begini Isi Nasihat Menteri Luhut ke Ibas Yudhoyono HARIANHALUAN.COM - Dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan sempat menyinggung keberadaan Edhie Baskoro Yudhoy.
  • Sabtu, 27 Juni 2020 - 12:25:35 WIB

    Begini Kronologi John Kei Bebas Bersyarat hingga Proses Pencabutan dari Ditjen Pas

    Begini Kronologi John Kei Bebas Bersyarat hingga Proses Pencabutan dari Ditjen Pas HARIANHALUAN.COM - John Refra alias John Kei bebas bersyarat pada Desember tahun lalu. Namun kini Ditjen Pemasyarakatan (Pas) Kemenkum HAM memproses pencabutan status pembebasan bersyarat (PB) tersebut karena John Kei di.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]