Wanita Ini Terdeteksi Positif Corona saat Hamil 5 Bulan dan Kini Sembuh!


Ahad, 12 April 2020 - 08:33:29 WIB
Wanita Ini Terdeteksi Positif Corona saat Hamil 5 Bulan dan Kini Sembuh! Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Nunki Hermawanti, seorang ibu hamil positif Covid-19, menyebut optimisme dalam menjalani masa karantina mandiri jadi kunci kesembuhan meski pikiran-pikiran negatif sempat menghantui. Ia mengakui kasusnya menunjukkan bahwa Virus Corona bisa datang dari mana saja tanpa sempat terlacak.

Hal itu dikatakannya saat berbagi kisah melalui video konferensi dengan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan diunggah melalui akun Youtube kader PDIP tersebut, Sabtu (11/4).

Baca Juga : Evakuasi Jenazah Dua Guru Korban Penembakan KKB Berhasil Dilaksanakan

Tampil dengan mengenakan masker dan berjilbab, Nunki mengawali perbincangannya dengan Ganjar lewat sejumlah canda. Dia mengaku tengah hamil anak ke tiga dengan usia kandungan lima bulan.

"Hah? KB, KB!" seloroh Ganjar.

Baca Juga : Sedang Marak! Modus Penipuan Atas Nama Tim Vaksin di WhatsApp

"Pengennya laki, Pak. Tapi kayaknya AB Three nih," timpal dia, merujuk pada grup vokal era '90-an yang beranggotakan tiga perempuan.

Ia lantas mulai berbagi kisah soal awal mula terjangkit Corona. Sebenarnya, Nunki merasa kesulitan saat ditanya asal mula penyakitnya. Pasalnya, dia tak punya riwayat perjalanan ke luar kota atau luar negeri.

Baca Juga : 11 Orang Luka-luka dan 202 Bangunan Rusak Akibat Gempa Malang

Sehari-hari, perempuan lulusan S1 Keperawatan ini mengaku hanya melakukan antar-jemput anak-anaknya ke sekolah. Ia pun mengaku jarang melakukan interaksi dengan orang tua murid lainnya.

Kendari begitu, sejak mulai merasakan gejala-gejala, meski sekadar batuk pilek biasa, dia mengaku sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk.

Baca Juga : Pemberantasan Prostitusi di Jondul Terbentur, DPRD: Tindak Oknum Petugas Pembekingnya!

"Di situ saya memposisikan diri saja mungkin itu Covid. Ini Covid, bukan flu biasa, bukan masuk angin biasa, tapi masih antara 'tapi kok enggak demam'. Ternyata, hari kelima malam itu baru demam, terus pagi harinya di hari keenam demam juga," ucap tutur dia.

"Ketika sehat jangan merasa kita bukan carrier [Corona]. Diri kita sendiri bisa menularkan orang lain. Bolah saat keluar pakai masker segala macam. Tapi terkadang mereka lengah saat di dalam rumah, padahal ada anak kecil, ada lansia. OTG (orang tanpa gejala) bisa menulari ke mereka," urainya.

Ia sempat curiga bahwa virus tersebut berasal dari suaminya yang merupakan seorang dokter. Terlebih, seorang perawat pria di rumah sakit tempat suaminya bekerja telah dinyatakan positif terjangkit Corona. Namun, itu tak terbukti lewat tes swab atau cairan tenggorokan.

"Lanjut hari minggunya tanggal 22 [Maret] itu saya di swab pertama dan suami saya di swab karena kecurigaannya saya dapat dari suami. Dan dia negatif," lanjutnya.

Nunki sempat berspekulasi bahwa dirinya tertular karena uang kembalian ataupun barang-barang lain yang ia kontak langsung selama ini. Sebab, dirinya sering berinteraksi dengan para pedagang sayur yang berkeliling permukiman.

"Kadang enggak cuma satu tukang sayur, jadi ada kemungkinan dari mereka. Karena bakulan di pasar pun bertemu puluhan orang. Mereka menjajakan gantungan pun setiap harinya ada orang yang kita tidak pernah tahu. Dan mungkin juga dari uang kembalian," tuturnya.

Terlepas dari soal asal mula virus itu, Nunki sejauh ini tak terlalu memusingkannya saat ini. Yang menjadi fokus dia kali ini adalah bagaimana tetap bisa menikmati masa karantinanya yang sudah berlangsung 17 hari.

Ia paham betul bagaimana pedihnya berpisah dari anak-anak yang masih kecil, suami, serta kemungkinan mendapat diskriminasi dari lingkungan sekitarnya. Di sisi lain, daya tahan tubuhnya bisa menurun jika terlalu meratapi nasib.

Beruntung, Nunki memiliki dua anak, yang masing-masing berusia 7 dan 10 tahun, yang mengerti betul soal jaga jarak dengan orang yang disayanginya karena Corona.

"Mereka sangat mengerti karena mereka sudah tahu ada yang namanya corona, seberapa banyak memakan korban jiwa," kata Nunki.

"Saya kasih tahu, 'jangan dekat-dekat mama mungkin positif Corona, kita enggak bisa berpelukan dulu, cium-cium dulu. Kakak sabar-sabar dulu'. Alhambulilah dia mengerti," lanjutnya.

Di tengah masa karantinanya pun, Nunki terus menjaga imunitas dengan rajin bergerak sambil tetap berhati-hati terkait dengan kehamilannya.

"Saya khawatir juga ketika banyak gerakan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," sambung dia.

Tak ketinggalan, dukungan selama masa isolasi datang dari para tetangga ataupun kerabatnya. Hal itu tidak seperti stigma kepada penderita Covid-19 yang dia duga sebelumnya.

Diketahui, sejumlah warga di beberapa wilayah menolak petugas medis yang dianggap bisa menularkan Corona meski belum terbukti, hingga menolak jenazah penderita Covid-19.

"Awalnya saya sudah 'ya sudahlah kalau harus mengalami diskrisiminasi, atau apapun', kan itu wajar mereka karena panik," kata Nunki.

"Sampai detik ini mereka (kerabat dan tetangga) enggak berhenti-hentinya ngirimin makanan ke rumah. Dari sembako, kue, snack anak-anak juga, telor," tuturnya.

Kabar baik pun datang setelah ia tahu bahwa keluarganya dan juga sejumlah kerabat yang berkontak dengan dirinya dinyatakan negatif Covid-19. Kecintaan pada keluarganya inilah yang membuatnya tetap mengisolasi diri sampai dinyatakan negatif Covid-19.

Kini, Nunki sedang menunggu hasil test swab ketiga dan juga keempat dirinya, untuk kemudian kembali memeluk anak-anaknya.

"Kalau [hasil tesnya] positif ya istirahat yang banyak, ulang lagi [isolasi mandiri] sampai hasilnya negatif. Ya harus disemangatin, daripada imunnya nge-drop," ucap dia.

Melihat semangat Nunki, Ganjar menyebut itu bisa menjadi inspirasi pihaknya untuk tetap giat menangani Corona.

"Ini sesuatu yang luar biasa, di tengah cerita orang yang memberikan [kisah] seram, sakit, semua orang selalu merasakan bagaimana sedihnya seluruh dunia ini," katanya.

"Anda begitu energiknya dan ini membikin kita-kita, kayak saya yang ngurus [penanggulangan Covid-19] itu, ini ada sebenarnya [cara] yang [bisa] melawan Covid dengan sehat dari dirinya sendiri," urai Ganjar.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebelumnya meminta masyarakat tak perlu panik berlebih pada wabah Corona. Sebab, ada kemungkinan 97 persen untuk sembuh dari virus ini.

Meski belum ada obat atau antivirusnya, Covid-19 dapat disembuhkan dengan pengobatan terapi simtomatik dan suportif, yakni pengobatan untuk mengurangi gejala dan meningkatkan daya tahan tubuh. Sebab, penyakit ini termasuk jenis self limiting disease (penyakit yang bisa sembuh sendiri).

Sementara, sejumlah pakar menyebut sikap risau dan depresi justru menurunkan imun atau daya tahan tubuh yang bisa memperburuk penyakit.(*)

Editor : NOVA | Sumber : cnnindonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]