Miris! Warga Tolak Kapal Pembawa Balita Demam Bersandar di Bali


Jumat, 17 April 2020 - 23:40:10 WIB
Miris! Warga Tolak Kapal Pembawa Balita Demam Bersandar di Bali Ilustrasi kapal cepat bersandar di pelabuhan. Foto: ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

BALI, HARIANHALUAN.COM -- Sejumlah warga di Pelabuhan Padangbai, Kabupaten Karangasem, Bali, menolak kapal cepat bersandar karena membawa seorang bayi bernama Deva (4), Jumat (17/6) sore tadi. Warga takut terinfeksi virus corona karena Deva mengalami demam tinggi dan batuk.

Padahal, Deva telah menjalani rapid test di sebuah rumah sakit di Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali. Hasilnya, bocah ini negatif corona.

Namun, dia terpaksa dirujuk ke rumah sakit rujukan corona, RSUD Klungkung di Semapura, Kabupaten Klungkung, Bali karena tak kunjung sembuh.

Untuk informasi, Nusa Penida merupakan sebuah pulau yang masih satu Kabupaten Klungkung, di Bali.

Meski Bupati Klungkung Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, bersama TNI dan Polri bernegosiasi dengan warga di pelabuhan Padang Bai, tetapi warga menolak.

Kapal berpenumpang Deva, sekitar dua orang perawat berpakaian alat perlindungan diri dan ibu Deva, terpaksa terombang-ambing di perairan Klungkung sekitar 1,5 jam.

Deva berhasil dievakuasi setelah kapal putar kemudi ke Pelabuhan Sekarjaya, Banjar Bias, Kusamba, Kabupaten Klungkung, Bali, pukul 18.00 WITA. Deva langsung dilarikan ke RSUD Klungkung untuk mendapatkan perawatan.

"Alasan warga menolak pertama kami bukan warga sana. Kedua, warga takut kalau warganya kenapa-kenapa. Padahal, di hari-hari biasa, kalau tidak ada corona kalau ada rujukan rumah sakit itu bisa lewat sana," kata Wayan Sumiarta, paman Deva, dikutip dari Kumparan.com, Jumat (17/4/2020).

Sementara itu, Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Penyebrangan (KSOP) Pelabuhan Padang Bai, Ni Luh Putu Eka Suyasmin mengaku tidak tahu kronologi penolakan kapal membawa Deva karena ia sedang tidak berada di lokasi.

Namun, dia menyatakan, ada laporan dari petugas pelabuhan sebuah kapal hendak bersandar membawa penumpang sakit tanpa melapor lebih dulu ke Pelabuhan Padangbai.

Saat dalam proses koordinasi antara petugas kapal dengan petugas pelabuhan, kapal itu telah meninggalkan Pelabuhan Padangbai dan tiba di Pelabuhan Sekarjaya, Kusumba.

"Saya kurang tahu pasti karena posisi sudah di rumah. Cuma tadi ada anggota melapor boat mau bersandar tapi belum ada koordinasi (antara kapal dengan Pelabuhan Padangbai) mereka khawatir dengan segala sesuatu. Saat sedang dikoordinasikan sudah keburu nyandar di Kusumba," kata dia.

Eka mengatakan, kapten kapal wajib melapor kepada petugas Pelabuhan bila hendak bersandar dengan membawa pasien sakit di tengah wabah corona. Sebab, sejak tanggal 17 Maret 2020 lalu, Pelabuhan Padangbai telah berhenti beroperasi sementara karena wabah corona.

"Kalau enggak ada persiapan kan khawatir juga. Karena enggak ada koordinasi dari yang mau nyandar itu juga kata dia

Untuk mencegah peristiwa yang sama, Eka berharap pengelola atau kapten kapal melapor kepada petugas Pelabuhan Padangbai jika membawa penumpang sakit.

"Paling tidak kan ada pemberitahuan. Bahwa akan ada kapal sandar bawa penumpang dalam kondisi sakit. Jadi pelabuhan tujuan sudah siap menerima. Apakah nanti ambulans, dari tim kesehatan siap stand by," kata dia.

Kisah Deva bermula saat dia mengalami demam pada Jumat (10/4) lalu. Suhu tubuhnya mencapai 37 derajat celsius. Ibu Deva yang merupakan seorang bidan merawat Deva. Deva dibawa ke rumah sakit berobat. Beberapa hari kemudian kondisi Deva membaik.

Beberapa hari kemudian, demam Deva kembali muncul disertai dengan batuk. Ibu Deva kembali memberikan obat. Namun, demam Deva tak kunjung reda.

Deva dibawa kembali rumah sakit di Nusa Penida. Deva lalu mengikuti rapid test dan rontgen. Hasil rapid test negatif tapi hasil rontgen menggambarkan kondisi paru-paru Deva tidak baik. Deva disarankan dirujuk ke RSUD Klungkung, Jumat (17/4).

Ibu Deva langsung gerak cepat membawa Deva menggunakan kapal cepat. Butuh waktu 2-3 jam dari Nusa Penida ke Semapura lewat jalur laut.

Awalnya, Ibu Deva ingin membawa Deva lewat Pelabuhan Kusamba agar lebih cepat. Dia meminta suami dan kakak Deva tetap berada di rumah. Dia khawatir membawa keluarga akan terancam corona.

Namun, Pelabuhan Kusamba telah tutup karena wabah corona. Ibu Deva memutuskan melewati Pelabuhan Padangbai, jalur teraman dan terdekat ke Semapura. Naas, warga menolak.

"Ibunya was-was, enggak tahu harus bagaimana saat itu," kata Sumiarta.

Setelah 2,5 perjalanan Nusa Penida-RSUD Klungkung dengan mengiris hati, Deva tiba dengan selamat. Warga menolong Deva dengan menarik kapal karena pelabuhan Sekarjaya tak memiliki area sandar kapal.

Kini di Deva dirawat RSUD Klungklung. Sumiarta mengatakan, kondisi Deva masih diobservasi dokter.

"Suhu tubuhnya sekarang 38 derajat. Kami berharap Deva dites lagi biar pasti positif atau negatif corona," ujar Sumiarta.

Sumiarta menyayangkan penolakan yang dilakukan warga di Pelabuhan Padangbai. Dia berharap warga bisa tolong menolong disituasi corona.

"Kami berharap dalam kondisi seperti saat ini. Kita mengeratkan rasa saling tolong menolong demi kemanusiaan. Kita harus waspada. Asal mengikuti protap yang telah ditetapkan pemeritah kita pasti aman. Kami juga berharap agar gugus tugas COVID-19 bisa mengatasi hal seperti ini," imbuh Sumiarta.

Sementara itu, Kepala Pelabuhan Padang Bai Eka Sutasmin belum merespon Kumparan melalui pesan WhatsApp atau panggilan telepon mengenai penolakan warga di Pelabuhan Padangbai. (*)

Editor : Milna Miana | Sumber : Kumparan.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]