Negara yang Dinilai Sukses Tekan Kasus Corona dengan Lockdown


Senin, 20 April 2020 - 10:25:57 WIB
Negara yang Dinilai Sukses Tekan Kasus Corona dengan Lockdown Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Sebagian besar negara di dunia menerapkan kebijakan pembatasan pergerakan hingga penutupan wilayah atau lockdown demi membendung penyebaran virus corona (Covid-19).

Meski telah diberlakukan, bahkan dengan konsekuensi sanksi, penerapan pembatasan pergerakan hingga lockdown di beberapa negara dinilai tak cukup mengerem laju penyebaran Covid-19.

Baca Juga : Alhamdulillah, Singapura Bakal Izinkan Perawat Muslim Pakai Hijab

Tapi di belahan dunia lain, ada pula kebijakan lockdown yang dianggap sukses menekan peningkatan kasus corona di dalam negeri. Sejumlah negara dan wilayah itu di antaranya seperti Selandia Baru hingga Kepulauan Karibia.

Selandia Baru
Pemerintahan Perdana Menteri Jacinda Ardern Selandia Baru mendapatkan pujian atas penanganan Covid-19. Berdasarkan data statistik John Hopkins University, Selandia Baru memiliki 1.431 kasus corona dengan 12 kematian per Minggu (19/4).

Baca Juga : Balas Serangan China, AS-Filipina Bakal Latihan Militer Gabungan

Tanpa pikir panjang, Ardern menerapkan kebijakan menutup akses perbatasan bagi setiap warga asing mulai 19 Maret lalu.

Berselang empat hari, ia kemudian mengumumkan untuk melakukan penguncian wilayah (lockdown) skala nasional pada 23 Maret 2020 selama tiga pekan.

Baca Juga : Ingin Capai Usia 99 Tahun Seperti Pangeran Philip? Intip Pola Makannya

Kebijakan lockdown Selandia Baru merupakan salah satu yang paling ketat di dunia. Aturan tersebut mengharuskan para pekerja untuk tetap tinggal di rumah kecuali untuk keperluan belanja bahan makanan atau berolahraga.

Dilansir The Guardian, meski kurva kasus dan angka kematian terus menurun, Ardern menegaskan pemerintahannya belum berencana melonggarkan apalagi mencabut kebijakan lockdown lebih cepat seperti sejumlah negara lainnya.

Baca Juga : Harry Hadir Sendiri, Ternyata Ini Alasan Meghan Markle Tak Hadiri Pemakaman Pangeran Philip

Republik Ceko
Ceko merupakan negara Eropa pertama yang menutup perbatasannya sebelum wabah corona menjalar di benua ini.

Pemberlakuan lockdown oleh Presiden Milos Zeman itu dinilai menjadi salah satu yang paling komprehensif di Eropa. Sebab, beberapa negara Eropa yang juga menerapkan lockdown seperti Spanyol, Italia, Jerman, dan Prancis tetap mengalami lonjakan kasus corona yang signifikan.

Keempat negara tersebut bahkan masuk lima besar negara dengan kasus corona tertinggi di dunia.

Sementara itu, per hari ini Ceko tercatat memiliki 6.657 kasus coronadengan 181 kematian. Padahal, negara ini berbatasan langsung dengan Jerman, Austria, Slovakia, dan Polandia.

Ceko mulai memberlakukan lockdown sekitar akhir Maret lalu dan menutup seluruh pertokoan dan bisnis kecuali supermarket, apotek, bank, kantor pos, pom bensin.

Pemerintah negara di Eropa Tengah itu mengizinkan restoran tetap buka namun hanya diperbolehkan melayani pesanan yang dibungkus dan layanan antar.

Ceko juga meliburkan seluruh kegiatan sekolah dan melarang acara-acara publik.

Kini, Ceko telah melonggarkan beberapa aturan pembatasan pergerakan. Sejumlah pertokoan juga telah dibuka kembali. Warga Ceko juga sudah diperbolehkan keluar rumah untuk alasan esensial hingga bersepeda tanpa harus mengenakan masker.

Pemerintah juga memperbolehkan warga bepergian keluar negeri dengan "alasan kuat", meski harus menjalani masa karantina saat kembali.

Denmark
Denmark merupakan negara kedua di Eropa yang pertama menerapkan lockdown. Negara Skandinavia itu menerapkan penutupan perbatasan bahkan sebelum kasus kematian akibat corona pertama terjadi.

Dilansir Bussiness Insider, kebijakan lockdown Denmark memang tak seketat negara lainnya di Eropa. Denmark masih mengizinkan warganya keluar rumah dan berkumpul meski tidak lebih dari 10 orang.

Namun, tingkat kepatuhan warga terhadap kebijakan pembatasan pergerakan pemerintah dinilai tinggi dan menjadi kunci sukses penerapan lockdown di negara itu.

Per Minggu (19/4) hari ini, Denmark tercatat memiliki 7.437 kasus corona dengan 346 kematian. Meski terbilang cukup tinggi, angka kasus dan kematian itu lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lainnya.

Kini, Perdana Menteri Mette Frederiksen berencana melonggarkan beberapa kebijakan pembatasan pergerakan. Namun, ia menegaskan bahwa aturan social distancing dan penutupan perbatasan akan tetap berlaku sampai waktu yang ditentukan.

Kepulauan Karibia
Perdana Menteri Silveria Jacobs dari Sint Maarten di Kepulauan Karibia secara tegas melarang warganya keluar rumah selama dua pekan.

Pemerintahan Sint Maarten mengumumkan lockdown secara penuh pada 5 April lalu dan berlaku hingga dua pekan ke depan.

Kebijakan lockdown di Sint Maarten dianggap menjadi salah satu yang paling ketat di dunia. Sebab, tak seperti negara lainnya, Sint Maarten hanya mengizinkan beberapa supermarket dan dua pom bensin beroperasi dalam keadaan darurat.

Melalui transmisi video yang kemudian viral di seluruh dunia, Jacobs mengingatkan warganya untuk berhenti keluar rumah agar tak tertular virus corona.

"Jika kamu tidak memiliki jenis roti yang kamu suka di rumahmu, makan kerupuk. Jika kamu tidak memiliki roti, makan sereal. Makan gandum," kata dia dengan tegas.

Sebelum memberlakukan lockdown, Sint Maarten telah menerapkan jam malam.

Per hari ini, Sint Maarten tercatat memiliki 64 kasus corona dengan total sembilan kematian sejauh ini.(*)

Editor : Nova Anggraini | Sumber : cnnindonesia
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]