Ahli Kesehatan Sebut Rapid Test Cuma Buang-buang Duit!


Rabu, 22 April 2020 - 08:56:31 WIB
Ahli Kesehatan Sebut Rapid Test Cuma Buang-buang Duit! Ilustrasi

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Alat tes diagnostik cepat atau rapid test untuk mendeteksi virus corona atau Covid-19, dianggap tidak memecahkan masalah. Bahkan, ahli menyebut penggunaan rapid test hanya membuang-buang uang. 

Melalui saluran podcast miliknya, Deddy Corbuzier kembali mempertanyakan pernyataan Ketua Tim Penanganan Covid-19 dan Juru Bicara RS Persahabatan untuk Covid-19, dr Erlina Burhan, Sp.P(K), yang menyatakan bahwa rapid test hanya membuang-buang uang saja. Benarkah demikian?

Baca Juga : Tegas ke Pelanggar Prokes, Satpam BRI di Makassar Dapat Hadiah dari Polri

"Betul. Tapi di Korea orang itu enggak pakai rapid test, tapi pakai PCR. Menurut saya, lebih baik PCR ini yang diperbanyak. Kan kita enggak bisa selalu bikin drive thru karena pakai mobil untuk kelompok tertentu. Kita bikin posko, orang nyamperin, itu pelayanannya gratis. Tinggal mangap doang nanti di-swab. Kan ada datanya, nanti dihubungi," ujarnya di YouTube Deddy Corbuzier, dikutip pada Selasa (21/4/2020). 

Menurut Erlina, rapid test ini sudah terlanjur dibeli oleh pemerintah. Tapi Erlina dan perhimpunan dokter berpendapat, lebih baik PCR yang diperbanyak dibanding rapid test. Apa alasannya?

Baca Juga : Layanan Taksi Terbang Sudah Bisa Dinikmati di Bandara Soetta

"Karena dia men-detect antibodi dan antibodi itu terbentuk enggak dari awal, setelah di atas tujuh hari atau setelah ada gejala. Dan kalaupun positif belum tentu Covid-19, bisa saja corona biasa," lanjut dia.

Lebih lanjut Erlina menjelaskan mengenai alurnya. Jika seseorang dinyatakan positif setelah menjalani rapid test, orang tersebut masih harus menjalani tes PCR untuk mengonfirmasi. Namun jika hasilnya negatif, pasien harus melakukan rapid test ulang.

Baca Juga : Menteri Siti Nurbaya: Hasil Hutan Bukan Kayu Potensi Besar Tingkatkan Ekonomi Lokal

"Kalau saya berpikir, kalau pemeriksaan diulang tapi ujung-ujungnya PCR, kan biaya nambah lagi, waktu. Mestinya PCR diperbanyak," kata dia.

Saat ini banyak orang yang mengeluhkan harus menunggu lama untuk mendapatkan hasil tes, bahkan hingga 10 hari. Erlina pun turut menjabarkan penyebabnya.

Baca Juga : Ini Aksi Gibran Usai Dilantik Jadi Wali Kota Solo

"Kenapa? Karena jumlah PCR-nya yang sedikit. Center yang bisa periksa sedikit, tapi kalau alatnya diperbanyak bisa cepat. Dan kalo cepat bisa dilakukan pemeriksaan yang cukup banyak sehingga kita tahu the real numbers. Kalau the real numbers, artinya mungkin yang meninggal sekarang sekian, tapi real numbers yang positif jauh lebih banyak, enggak 10 persen (angka kematian)," tuturnya. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : Warta Ekonomi
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]