Selama PSBB di Pasaman, Permintaan Kebutuhan Sekunder Menurun Drastis


Kamis, 30 April 2020 - 15:02:28 WIB
Selama PSBB di Pasaman, Permintaan Kebutuhan Sekunder Menurun Drastis ilustrasi kebutuhan sekunder

PASAMAN, HARIANHALUAN.COM -- Permintaan terhadap sejumlah barang dan jasa non kebutuhan pokok atau sekunder di Kabupaten Pasaman terpantau menurun drastis jika dibandingkan periode bulan Ramadaan tahun sebelumnya. Penurun itu mencapai 80 persen pasca diberlakukannya status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Provinsi Sumatera Barat.

Salah seorang pedagang elektronik di kawasan pasar lama Lubuksikaping, Diki Reza (42), Kamis (30/4/2020) mengungkapkan, tren penurunan terpicu turunnya arus mudik jelang memasuki bulan suci Ramadan yang justru menjadi puncak meningkatnya penjualan barang jenis perabotan rumah tangga.

Baca Juga : Bupati Agam Ingin Aturan Zonasi Dibahas Khusus

"Biasanya para perantau menyempatkan diri mengganti atau memperbaharui perabotan rumah tangga untuk keluarga mereka di kampung halaman, selama ini memang perputaran uang paling puncak adalah pada saat itu," jelasnya.

Kondisi tahun ini, lanjutnya, meskipun pesanan kepada pihak distributor tidak ditambah, namun masih terjadi penumpukan barang di gudang milik sejumlah pedagang elektronik yang cukup banyak di kawasan itu. Selama ini, ia bersama pedagang lainnya memang tidak bisa bergantung pada tingkat perputaran lokal peredaran uang dari masyarakat setempat, karena rendahnya daya beli mereka sejak beberapa tahun belakangan ini.

Baca Juga : Penyaluran BST Kemensos Hari Terakhir, Rp402 Juta Lebih Dikucurkan untuk 671 Warga

"Beruntung barang dagangan kami tidak termasuk yang bisa membusuk, bayangkan nasib pedagang lainnya yang harus menghadapi risiko kerugian lebih besar karena barang yang belum laku harus membusuk," kata dia.

Terpisah, salah seorang pelaku usaha jasa menjahit pakaian, Ayub (69) mengaku hingga seminggu berjalannya bulan suci Ramadan, belum mendapatkan order menjahit baju untuk dipakai berlebaran oleh pengguna jasa mereka. "Biasanya kami banyak mendapatkan pesanan jahit pakaian dari para pegawai pemerintah, biasanya pada periode seperti ini kami sudah tidak bisa lagi menerima orderan karena sudah penuh," ungkapnya.

Baca Juga : TSR VI Kunjungi Masjid Nurul Amri, Sekdako Sonny: Wahana Bangun Komunikasi Pemerintah dan Masyarakat

Penjahit pakaian lainnya, Murni (36) mengatakan, usaha yang mereka geluti itu selama ini cukup ampuh dalam membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga mereka. "Berbeda dengan tahun sebelumnya, meskipun orderan menurun tapi suami masih bisa bekerja sebagai buruh bangunan, sekarang semuanya seolah terhenti begitu saja tanpa kami bisa berbuat apa-apa," ungkapnya.

Ia berharap, sebagai salah satu usaha yang turut terdampak upaya percepatan penanganan penyebaran virus Covid-19, pihak pemerintah terkait bisa memberikan solusi cepat agar ketiadaan pesanan untuk jasa mereka akan berlanjut menjadi potensi kelaparan dan gizi buruk. "Kami bukan tidak mau berusaha dan ingin enak dibantu, tapi memang yang akan dikerjakan itu tidak ada mau bilang apa kita," sesalnya.

Baca Juga : Kunjungi Masjid Jihadu Walidaina, TSR V Serahkan Bantuan Rp20 Juta

Sebelumnya, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat, Khairuddin Simanjuntak mendesak Pemkab Pasaman segera merealisasikan bantuan sosial kepada masyarakat yang terdampak wabah corona virus disease 2019 (Covid-19). "Bantuan sosial (Bansos) yang sudah diagendakan, tolong segera direalisasikan. Masyarakat sudah mulai kesal di bawah," ungkap Juntak. (*)

Reporter : Rully Firmansyah | Editor : Agoes Embun
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]