Demi Allah, Lihatlah Tetangga, Jangan-jangan Dia Masak Batu


Sabtu, 02 Mei 2020 - 19:20:25 WIB
Demi Allah, Lihatlah Tetangga, Jangan-jangan Dia Masak Batu Kisah di era Umar bin Khattab bisa terjadi di era kini. Ilustrasi/IstKisah di era Umar bin Khattab bisa terjadi di era kini. Ilustrasi/Ist

HARIANHALUAN.COM - Alkisah, tanah Arab dilanda paceklik. Kemarau panjang membuat tanah-tanah di sana tandus. Kala itu kepemimpinan berada di tangan Khalifah Umar bin Khattab.

Suatu malam, Khalifah Umar mengajak seorang sahabat bernama Aslam untuk mengunjungi kampung terpencil di sekitar Madinah.

Baca Juga : Kapolres Karimun Terima Kak Seto Award 2021 dan Polisi Selebriti

Langkah Khalifah Umar terhenti di dekat sebuah tenda lusuh. Suara tangis seorang gadis kecil mengusik perhatiannya. Khalifah Umar lantas mengajak Aslam mendekati tenda itu dan memastikan apakah penghuninya butuh bantuan.

Setelah mendekat, Khalifah Umar mendapati seorang perempuan tengah duduk di depan perapian, sembari mengaduk-aduk bejana.

Baca Juga : Pastikan Karyawan dan Buruh Terima THR, Jajaran Disnaker Harus Turun ke Perusahaan

Setelah mengucapkan salam, Khalifah Umar meminta izin untuk mendekat. Usai diperbolehkan oleh wanita itu, Khalifah Umar duduk mendekat dan mulai bertanya tentang apa yang terjadi.

"Siapa yang menangis di dalam itu?" tanya Khalifah Umar.

Baca Juga : Sambut Ramadhan, Bupati Lingga Doa Bersama dan Silaturahmi dengan Masyarakat

"Anakku," jawab wanita itu dengan agak ketus.

"Kenapa anak-anakmu menangis? Apakah dia sakit?" tanya Khalifah selanjutnya.

Baca Juga : Ambruk Sejak 2018, Pelabuhan Setebik Tak Kunjung Diperbaiki Pemerintah

"Tidak. Mereka lapar," balas wanita itu.

Jawaban itu membuat Khalifah Umar dan Aslam tertegun. Keduanya masih terduduk di tempat semula cukup lama, sementara gadis di dalam tenda masih saja menangis dan ibunya terus saja mengaduk bejana.

Perbuatan wanita itu membuat Khalifah Umar penasaran. "Apa yang kau masak, hai ibu? Mengapa tidak juga matang masakanmu itu?" tanya Khalifah.

"Kau lihatlah sendiri!" jawab wanita itu.

Khalifah Umar dan Aslam segera melihat isi bejana tersebut. Seketika mereka kaget melihat isi bejana itu.

"Apakah kau memasak batu?" tanya Khalifah Umar dengan tercengang.

"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," kata wanita itu.

"Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," ucap wanita itu.

"Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut wanita itu.

Wanita itu tidak tahu yang ada di hadapannya adalah Khalifah Umar bin Khattab. Aslam sempat hendak menegur wanita itu. Tetapi, Khalifah Umar mencegahnya. Khalifah lantas menitikkan air mata dan segera bangkit dari tempat duduknya.

Segeralah diajaknya Aslam pergi cepat-cepat kembali ke Madinah. Sesampai di Madinah, Khalifah langsung pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum.

Berulang

Peristiwa menyedihkan itu kini berulang kembali di Kenya. Peninah Bahati Kitsao juga memasak batu. Janda 8 anak ini mengelabui anak-anaknya seolah si ibu memasak makanan.

Biasanya si ibu itu sebelum corona datang, ia menyediakan jasa mencuci pakaian, tetapi sesudah orang-orang membatasi keluar rumah karena virus corona, tak ada pekerjaan untuknya.

Prisca Momanyi, tetangga Kitsao melihat penderitaan tetangganya itu dan merekamnya hingga kemudian mendapat perhatian media.

Cerita yang mirip juga terjadi di Indonesia. Seorang ibu rumah tangga di Kota Serang, Banten, meninggal dunia diduga karena kelaparan akibat bertahan di rumah tanpa memiliki makanan. Perempuan itu bersama keluarganya menahan lapar selama dua hari hanya dengan meminum air minum galon.

Lalu, di Batam, Kepulauan Riau, seorang pria yang menanggung empat orang anaknya kehabisan uang untuk membeli bahan makanan. Ia menawar-nawarkan ponsel bekasnya seharga Rp10.000 untuk membeli beras.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, bercerita tentang seorang lelaki bersahaja tetangganya. "Setiap lima menit sebelum azan selalu lewat di depan rumahku, untuk menuju masjid. Ia tinggal berdua dengan istrinya. Kerjanya sebagai tukang ojek pangkalan. Istrinya berdagang sayur. Anaknya sudah besar-besar dan hidupnya sangat sederhana," ujarnya.

Suatu saat lelaki itu mendatangi tetangganya. Ia meminta segelas beras. Untuk apa, tanya tetangganya. "Untuk dimasak. Sudah dua hari saya dan istri tidak makan. Kami sahur dengan air putih dan buka puasa dengan air putih. Tolonglah, kalau ada segelas beras," ujarnya memelas.

Neta mengatakan tak menyangka, pandemi Covid 19 membuat tetangga kami "terkapar" seperti itu.

"Ada seorang pedagang keliling beranak tiga, kisahnya hampir serupa. Ada guru les beranak empat, kisahnya tak kalah pahit. Pun ada pengemudi ojol beranak satu yang berkisah duka. Tapi mereka tak pernah mengeluh. Hidup pahit akibat corona dilakoni sendiri. Sehingga tetangganya tak tahu bahwa mereka sudah dua hari hanya mengandalkan air putih untuk pengganjal perut," ujar Neta dalam akun Facebooknya, Sabtu (2/4/2020).

Cerita mirip disampaikan Zulia Ulfah. Ibu rumah tangga ini bercerita ketika hendak ke pasar ada yang menyapa, "Ummi, mau ke mana?"

Ia memanggil Ummi, kepada Zulia. "Ke Pasar mbak.." jawab Zulia.

Zulia berpikir perempuan yang belum dikenalnya itu langsung berlalu pergi. Ternyata tidak. Perempuan itu ingin melanjutkan obrolan.

"Maaf mbak ini siapa ya?"

Sembari membuka maskernya ia menjawab, "Saya ngontrak di belakang rumah Ummi".

"Oooo.. Dari mana kok mengajak anak bayi?" tanya Zulia melihat perempuan itu.

Singkat cerita, perempuan ini bercerita kalau dirinya habis dari rumah saudaranya. Mau pinjam uang, katanya. Perempuan ini perlu duit untuk kebutuhan membeli susu anaknya yang sekira berusia 9 bulan. Itu harus ditempuh dengan naik angkot.

Tanpa diminta, perempuan ini menjelaskan bahwa suaminya yang bekerja sebagai satpam di RSCM dikarantina beberapa pekan. Ia tak bisa menghubunginya karena Hp rusak.

"Kisah selanjutnya tentu bisa ditebak," ujar Zulia yang yakin bahwa apa yang dialaminya itu mewakili kisah-kisah lain yang tak terendus dan tak terekspose.

"Di sekeliling kita tiba-tiba menjadi berubah," keluh Zulia juga dalam akun Facebooknya. "Yaa Rabbana, di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini ampuni segala dosa hambaMu, cukupkan segala kebutuhannya, dan mudahkan menjalankan puasa dan ibadah-ibadah lainnya," tulis Zulia.

Peristiwa-peristiwa yang mewarnai di seputaran wabah corona ini sungguh memprihatinkan. Hampir 2 juta orang kehilangan pekerjaan. Kemiskinan dan penderitaan mulai mengapung ke permukaan. Membangunkan jiwa kedermawanan kita.

Pemerintah memang telah memberi bantuan untuk warga miskin. Hanya saja, bantuan boleh jadi tak bisa menyentuh seluruh penduduk miskin.

Tanggung Jawab Umar

Kini, kita butuh pemimpin seperti Khalifah Umar. Tanpa mempedulikan rasa lelah, beliau mengangkat sendiri karung gandum di punggungnya. "Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," pinta Aslam.

Kalimat Aslam tidak mampu membuat Umar tenang. Wajahnya merah padam mendengar perkataan Aslam. "Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke tenda tempat tinggal wanita itu. Sesampai di sana, Khalifah Umar menyuruh Aslam membantunya menyiapkan makanan. Khalifah sendiri memasak makanan yang akan disantap oleh wanita itu dan anak-anaknya.

Khalifah Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan setelah masakannya matang. Melihat mereka bisa makan, hati Khalifah Umar terasa tenang.

Makanan habis dan Khalifah Umar berpamitan. Dia juga meminta wanita tersebut menemui Khalifah keesokan harinya.

"Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah Amirul Mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Khalifah Umar.

Keesokan harinya, wanita itu pergi menemui Amirul Mukminin. Betapa kagetnya si wanita itu melihat sosok Amirul Mukminin, yang tidak lain adalah orang yang telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya.

"Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahi dengan kata-kata zalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata wanita itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar.

Lihat Tetangga Kita

Islam telah mengatur hubungan antarsesama manusia, dengan pola interaksi yang mengedepankan nilai-nilai luhur, sehingga hubungan dan komunikasi antartetangga tetap terjalin baik dan harmonis. Kita dianjurkan berbuat baik terhadap tetangga. (*)

Editor : Heldi Satria | Sumber : sindonews.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]