Tagihan Tiba-tiba Membengkak

Harus Ada Penjelasan PLN Bagaimana Cara Rekam Konsumsi Listrik Rumah Tangga


Senin, 04 Mei 2020 - 23:55:56 WIB
Harus Ada Penjelasan PLN Bagaimana Cara Rekam Konsumsi Listrik Rumah Tangga

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Di media sosial, masyarakat ramai-ramai mengeluhkan soal membengkaknya tagihan listrik mereka selama kerja dari rumah (work from home/WFH).

Padahal, sebelumnya PLN sudah memastikan tarif dasar listrik seluruh golongan tarif tidak naik, termasuk rumah tangga daya 900 Volt Ampere (VA) Rumah Tangga Mampu (RTM) dan di atasnya tidak akan naik meski saat ini seharusnya tarif listrik sewajarnya naik. Seperti diketahui penetapan tarif dilakukan 3 bulan sekali oleh pemerintah. Untuk tarif April hingga saat ini dinyatakan tetap, yakni sama dengan periode 3 bulan sebelumnya.

Baca Juga : Besok Lebaran, Warga Padang Padati Lapak Pedagang Daging Sapi Potong

PLN menyebut peningkatan tagihan rekening listrik pada pelanggan rumah tangga lebih disebabkan oleh meningkatnya penggunaan masyarakat akibat adanya pandemi virus corona yang membuat masyarakat banyak melakukan aktifitas di rumah.

Sayangnya, evaluasi 3 bulanan itu tak mendapat sambutan hangat masyarakat. Masih banyak masyarakat yang merasa pemakaian listrik mereka tidak meningkat namun tarif listriknya melonjak berkali-kali lipat dari sebelum adanya WFH.

Baca Juga : Siap-siap! Pemerintah RI Bakal Pungut Pajak Uang Kripto

Memutus kesalahpahaman tersebut, PLN diminta untuk segera mengambil tindakan. Salah satunya ialah dengan menyampaikan bagaimana proses perseroan mencatat tagihan listrik kepada masyarakat.

"PLN perlu menyampaikan bagaimana rekaman konsumsi listrik konsumen didapatkan untuk menyusun tagihan. Apakah berdasarkan data dari konsumen yang dikirimkan lewat WA atau berdasarkan rata-rata konsumsi bulanan," ujar Pengamat Energi sekaligus Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa seperti ditulis detikcom, Senin (4/5/2020).

Selain itu, PLN juga dianggap perlu menyampaikan langkah-langkah yang akan diambil perseroan bila ada ketidaksesuaian data pemakaian listrik pelanggan untuk diatasi segera.

"PLN juga perlu menyampaikan bagaimana diskrepansi data ini akan diatasi di kemudian hari pasca pencatat meter dapat bekerja secara normal," timpalnya.

Pasalnya, saat ini pegawai PLN tidak melakukan pencatatan langsung dari rumah ke rumah lainnya. Ditambah tak semua pelanggan rutin mengirimkan pembacaan pemakaian kWh mereka. Sehingga, bisa saja PLN melakukan perhitungan yang dihitung berdasarkan estimasi rata-rata konsumsi tahun sebelumnya. Hal ini lah yang membuat tagihan listrik melonjak bagi mereka yang tidak WFH. Dan lonjakan tersebut bisa saja tidak sesuai dengan pemakaian riil pelanggan saat ini.

"Adapun untuk pelanggan pasca bayar, karena pencatat meter tidak datang untuk memeriksa dan tidak semua pelanggan mengirimkan pembacaan kWh meter ke PLN, maka PLN bisa saja menggunakan estimasi/perkiraan konsumsi listrik rata-rata dari tahun lalu. Ini bisa menimbulkan adanya lonjakan listrik," tambahnya.

Meski demikian, hal itu lumrah dilakukan PLN. Namun, PLN tetap wajib merekonsiliasi penggunaan energi secara riil kepada pelanggan.

"Tidak terlalu salah juga menggunakan estimasi rata-rata tahun lalu atau bulan sebelumnya karena nanti setelah PLN bisa mencatatkan meter secara normal seharusnya dilakukan rekonsiliasi energi listrik yang dikonsumsi secara riil. Seharusnya perbedaan catatan meter akan direkonsiliasi sesudah nanti pencatat meter melaporkan hasil pembacaaan meter pasca pandemi virus Corona," tegasnya.

Selain itu PLN perlu mendorong pelanggan untuk memeriksa rekaman konsumsi listrik Januari - April dengan melihat tagihan listriknya.

"PLN juga harus dorong pelanggan untuk memeriksa rekaman konsumsi listrik mereka. Kalau ada anomali yang terlalu besar, misalnya ada lonjakan konsumsi lebih dari 50% pada bulan Maret atau April, maka bisa ditanyakan kepada pihak PLN," pungkasnya.(*)

Editor : Rahma Nurjana | Sumber : finance.detik.com
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]