Profil Boy Rafli Amar, Anak Minang yang Kini Memimpin BNPT


Rabu, 06 Mei 2020 - 10:48:59 WIB
Profil Boy Rafli Amar, Anak Minang yang Kini Memimpin BNPT

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -  Irjen Pol. Boy Rafli Amar resmi menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) usai dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu (6/5). Selain punya latar belakang penanggulangan terorisme, ia juga dikenal lama di dunia komunikasi.

Lulusan Akpol 1988 ini menggantikan Suhardi Alius yang telah empat tahun menjabat di BNPT. Boy pun dengan demikian bakal naik pangkat menjadi Komisaris Jenderal (Komjen) atau bintang tiga karena jabatan itu.

Boy Rafli Amar lahir di Jakarta pada 25 Maret 1965 dari pasangan Minangkabau. Ayahnya berasal dari Solok sedangkan ibunya dari Koto Gadang, Agam, Sumatra Barat. Ia adalah cucu dari sastrawan Indonesia, Aman Datuk Madjoindo.  Boy menikah dengan Irawati dan telah dikaruniai dua orang anak.

Pada tanggal 29 November 2013, dia diangkat sebagai kepala kaum suku Koto, nagari Koto Gadang, Agam, dengan gelar Datuak Rangkayo Basa.

Wikipedia menulis, Boy Rafli Amar menempuh pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada tahun 1988 dengan pangkat Inspektur Dua Polisi (Ipda). Tugas pertamanya sebagai Pamapta Polres Metro Jakarta Pusat, Polda Metro Jaya.

Pada tahun 1991 pangkatnya naik menjadi Inspektur Satu Polisi (Iptu). Ketika berpangkat Komisaris Polisi pada tahun 1999, dia ditugaskan ke Bosnia sebagai Wakil Komandan Kontingen Garuda XIV.

Ia juga sempat pulang kampuang dan menjadi Kapoltabes Padang, Sumatera Barat di tahun 2008.

Berkaitan dengan suksesi kepemimpinan di BNPT, sempat menuai kontroversi terkait dugaan kesalahan administrasi. Pasalnya, pengangkatan Boy lebih dulu tercantum dalam surat telegram Kapolri ST/1378/KEP/2020, Jumat (1/5). 

Saat itu, Kementerian Sekretariat Negara mengakui belum ada keputusan presiden (Keppres) soal pergantian Kepala BNPT.

Terlepas dari itu, sejumlah pihak menilai sosok Boy memiliki kapasitas untuk memimpin BNPT dengan ragam riwayat jabatannya. Pengamat intelijen Suhendra Hadikuntono menilai penunjukan Boy sudah sesuai dengan ketentuan.

"Boy Rafli sebagai Kepala BNPT sudah tepat bila dilihat dari kapasitas, prestasi, integritas, dan track record," katanya, dikutip dari Antara.

Sebelum ditunjuk menjadi Kepala BNPT, Boy menjabat sebagai Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Wakalemdiklat) Polri (2018-2020). Ia juga sempat mencicipi 'kerasnya' Bumi Cendrawasih saat memimpin Polda Papua pada 2017-2018. Jabatan Kapolda juga pernah ia sandang di Banten (2014-2016).

Di luar itu, Boy dikenal publik lekat dengan dunia komunikasi sejak menjabat sebagai Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya pada 2009. Kasus kriminalitas yang banyak dan posisi ibu kota yang strategis membuatnya rutin tampil di media dengan pembawaan yang tampak tenang.

Pria kelahiran Jakarta, 55 tahun lalu ini, kemudian ditarik ke Mabes Polri dan diangkat menjadi Kepala Bagian Penerangan Umum Biro Penerangan Masyarakat (Kabagpenum Ropenmas) Divisi Humas Polri pada 2010. Dua tahun kemudian, ia naik satu tingkat jabatan di divisi yang sama dengan menjabat Karopenmas Divisi Humas Polri.

Diselingi jabatan Kapolda Banten, eks anggota Kontingen Garuda di Bosnia dan Kamboja ini kemudian menjadi Kepala Divisi Humas Polri pada 2016. Ia kemudian bertugas di Papua untuk kemudian kembali ke Jakarta sebagai Wakalemdiklat.

Komunikasi Terorisme

Persoalan terorisme tak asing bagi Boy. Sejak 2002, Boy telah mendapat sejumlah penugasan ke luar negeri yang berkaitan dengan penanggulangan terorisme..

Di antaranya ia pernah studi banding anti teror ke Australia, tugas investigasi terorisme Densus 88 di Filipina, dan menjadi tim delegasi RI Asean-Europe Counter Terrorism Meeting di Spanyol.

Di samping itu, ia pernah menjabat sebagai Kepala Unit Negosiasi Subdetasemen Penindak Detasemen Khusus 88/Antiteror Polri, yang tak lepas dari sisi ke-juru-bicara-an.

Lihat juga: Deradikalisasi Diragukan Karena Polisi dan Militer Memonopoli
Salah satu tugasnya ketika itu ialah berbincang untuk menemukan titik temu dengan terorisme yang berideologi radikal, baik itu dalam penangkapan maupun penahanan.

Bidang jabatan lainnya dari suami Irawati ini kebanyakan berkutat pada masalah reserse.

Terkait kehumasan, Boy sudah dinobatkan sebagai Doktor Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran, Bandung, lewat disertasinya berjudul 'Disertasi Integrasi Manajemen Media Dalam Strategi Humas Polri Sebagai Aktualisasi Promoter', pada 14 Agustus 2019.

Dikutip dari situs polri.go.id, salah satu pengujinya saat itu adalah mantan Kapolri Tito Karnavian yang kini jadi Mendagri. Tito mencecar Boy dengan sejumlah pertanyaan terkait demokrasi liberal, media sosial, UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan kaitannya dengan penegakan hukum.

Meski ada kritik agar penelitiannya lebih sederhana dan fokus, Boy dinyatakan lulus dengan predikat yudisium sangat memuaskan.

Publik pun menanti pembuktiannya di BNPT yang kini tengah bermasalah, terutama terkait deradikalisasi teroris yang butuh pendekatan dan komunikasi tepat.(*)

Reporter : Rahma Nurjana - CNN Indonesia /  Sumber : cnnindonesia.com /  Editor : Rahma Nurjana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]