Meningkatkan Kualitas Ibadah Puasa


Rabu, 13 Mei 2020 - 06:55:12 WIB
Meningkatkan Kualitas Ibadah Puasa Prof. Dr. Zulmuqim, MA, Guru Besar FTK UIN Imam Bonjol Padang

Pelaksanaan puasa Ramadan tahun ini berbeda dengan suasana puasa Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini bangsa Indonesia dan bahkan bangsa-bangsa di dunia dihadapkan kepada musibah pandemi Corona Covid 19, yang sangat menakutkan dan penyebarannya sangan masif sekali.

Oleh: Prof. Dr. Zulmuqim, MA
Guru Besar FTK UIN Imam Bonjol Padang

Untuk mengendalikan dan memutus mata rantai penyebaran virus corona tersebut, pemerintah membut kebijakan dengan menerapkan social distancing, physical distancing dan bahkan Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB).

Kebijakan ini merupakan sebuah strategi dalam pengendalian inveksi virus Corona dengan membatasi kunjungan ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain. Untuk itu, semua kigiatan yang dilakukan secara bersama-sama, seperti pekerjaan di kantor, proses pendidikan dan kegiatan keagamaan dilakukan di rumah saja atau work from home (WFH).

Sebagai orang beriman, tentu dalam menghadapi wabah ini, kita harus menerimanya dengan penuh kesabaran, karena ini merupakan salah satu ujian yang diberikan Allah Swt, sebagai mana firmannya dalam Q.S al-Baqarah/2: 155 (Dan Kami pasti akam neguji kamu dengan sedikit ketakutan,kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.

Dan sampikan lah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar). Sebagai warga negara, tentu kita mematuhi ketentuan yang telah dibuat oleh pemerintah serta mengikuti protokol kesehatan dengan melakukan physical distancing (menjaga jarak secara fisik), berada atau bekerja di rumah saja (WFH) dan PSBB.

Dalam rangka mencapai nilai takwa sebagai tujuan dari perlaksanaan ibadah puasa, sebagaimana dijelaskan pada Q.S al-Baqarah/2: 183 (Wahai orang-orang yang beriman, Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa), maka kondisi musibah ini bukan mengurangi nilai ibadah Ramadan bagi kita, karena meskipun tidak melaksanakan shalat tarwih di masjid, mendengar ceramah, tadarusan, iktikaf, buka bersama dan lain-lainnya secara berjamaah seperti biasa, tetapi pada dasarnya, kita bisa meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita dengan penuh keikhlasan, tanpa pamer dan dilihat oleh orang lain, karena semuanya itu bisa kita laksanakan di rumah bersama keluarga.

Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dengan adanya wabah covid 19 dan suasana Ramadan di rumah saja saat ini, di antaranya:
1. Kesampatan untuk melakukan introspeksi diri. Kita tahu bahwa wabah ini sangat menakutkan karena penyebarannya masif dan tidak mengenal status sosial, baik orang biasa, pejabat, orang kaya, pemuka agama, bayi, anak-anak, remaja, maupun lansia. Di samping penyebarannya masif, bahkan wabah ini juga sampai membawa pada kematian. Oleh karena itu, sebagai orang beriman, kita harus menerima dengan penuh kesabaran dan senantiasa melakukan introspeksi diri (muhasaabah) dari dosa dan kesalahan dengan beristigfar (minta ampun kepada Allah Swt) dan bertobat terhadap segala kesalahan.

Allah mengingatkan dalam Q.S Ali Imran/3: 133 (Dan besegralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang yang bertakwa). Selanjutnya, tentang bertobat, Allah Swt mengingatkan dalam Q.S al-Tahrim/66: 8 (Wahai orang-orang yang beriman. Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya). Di samping itu, kita perlu introspeksi tentang kebersihan diri dengan cara membiasakan mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer.

2. Kesempatan untuk semakin ikhlas dalam beramal. Biasanya dalam bulan-bulan suci ramadah kita melaksanakan salat tarwih berjamaah di masjid, mendengar ceramah, berinfak, tadarusan, iktikaf dan bahkan berbuka bersama. Semua amal yang dilakukan itu senantiasa dilihat oleh orang lain, sehingga banyak sedikitnya mempengaruhi terhadap keikhlasan. Saat ini kita juga melakukan amal itu semua, tetapi hanya di rumah saja bersama keluarga, sehingga peluang keikhlasan lebih tinggi karena aktivitas amal kita tidak ada yang melihatnya.

Terkait dengan keikhlasan ini sebagaimana Firman Allah dalam Q.S/97: 5 (Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas mentaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama) Sementara itu, kita juga akan terjauh dari sikap riya, sombong, suka pamer dalam beramal, sebagaimana Allah mengingatkan pada Q.S luqman/21: 18 (Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri).

3. Kesempatan membiasakan diri untuk tidak emosi dan tidak pemarah. Pada hari-hari biasanya kita senantiasa berada dalam kerumunan orang banyak, seperti dikantor, di pasar, di masjid, di jalan dan lain sebagainya, sebagai akibatnya akan muncul banyak interaksi yang dapat meimbukan perbedaan pendapat, perselisihan, pertengkaran dan perdebatan, yang akhirnya memancing emosi dan sikap marah, bahkan sampai terjadi perkelahian dan permusuhan.

Kondisi saat ini, karena kita banyak di rumah saja (stay at home), maka semua peluang yang akan menimbulkan sikap emosi dan marah itu tidak banyak, sehingga kita terbiasa mengendalikan marah dan emosi. Tidak pemarah atau mampu mengndalikan amarah merupakan salah satu ciri orang bertakwa, sebagaimana dijelaskan pada Q.S Ali Imran/3: 134 (Orang yang bertakawa, yaitu orang yang berinfak, baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuaty baik).

4. Kesempatan membaca, menghafal dan memahami al-Qur’an lebih banyak. Pada suasana stay at home dan wor from home, kita punya kesempatan untuk bisa membaca, memperbaiki bacaan dan menamatkan al-Qur’an 30 juz. Di samping itu, kita juga punya kesempatan untuk menghafal ayat-ayat al-Quran lebih banyak lagi. Dan bahkan bisa memahami ayat-ayat al-Qr’an dengan membaca tafsir dan buku-buku agama. Hal ini bisa dilakukan bersama-sama keluarga.

Di samping empat hikmah di atas, bila ditelusuri dan dimaknai secara dalam suasana stay at home (di rumah saja) dan wok from home (bekerja di rumah) pada Ramadan tahun ini pasti banyak lagi hikmah yang bisa dipetik dalam rangka memperbaiki diri kita sebagai orang yang beriman, seperti kesempatan lebih banyak beribadah, berzikir, bersedekah, berinfak, meningkatkan hubungan dalam keluarga antara ayah, ibu dan anak, serta menjauhkan diri dari sifat sentimen, iri hati, dengki, kebiasaan suka gunjing, gibah dan lain sebagainya dari sifat yang buruk. Wallahu A’lam. (**)

Editor : Milna Miana
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]