Fakta Baru Perbudakan ABK Indonesia di Kapal China, Ada Penyakit Misterius Menimpa..


Kamis, 14 Mei 2020 - 14:43:20 WIB
Fakta Baru Perbudakan ABK Indonesia di Kapal China, Ada Penyakit Misterius Menimpa.. Kuasa hukum ABK asal Indonesia dari DNT Lawyers, Krido Sasmito memaparkan fakta terbaru, di antaranya: masalah gaji dan pungutan liar.

JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Kasus dugaan perbudakan modern di kapal milik perusahaan Cina memasuki babak baru. Kepolisian Indonesia mulai menyelidiki dugaan keterlibatan perusahaan pengirim pekerja migran di Tanah Air.

Seperti dikutip dari Tirto.id, Kamis (14/5/2020), dalam proses penyelidikan ada fakta-fakta baru yang digali dari para anak buah kapal (ABK) yang telah pulang ke Indonesia pekan lalu.

Saat ini 14 ABK menjalani karantina selama 14 hari di Rumah Perlindungan Trauma Center (RPTC) milik Kementerian Sosial di Jakarta. Mereka diwakili oleh kuasa hukum Dalimunthe & Tampubolon (DNT) Lawyers.

Pengacara Indonesia telah berkoordinasi dengan lembaga yang telah menangani advokasi di Korea Selatan yakni Environmental Justice Foundation (EJF), yayasan yang berfokus pada isu keadilan lingkungan berbasis di London, dan pengacara publik Advocates for Public Interest Law (APIL).

Kuasa hukum ABK dari DNT Lawyers, Krido Sasmito memaparkan fakta terbaru. Di antaranya, masalah gaji dan pungutan liar. Sebagian ABK tidak menerima gaji dan sebagian lagi baru digaji untuk setara tiga bulan. Padahal 14 ABK telah bekerja selama 13 bulan.

Gaji yang diterima pun tak sesuai kontrak. Ada ABK menerima gaji USD 120 setara Rp1,7 juta untuk 13 bulan bekerja. Sesuai kontrak mereka menerima USD 300 per bulan.

Selama tiga bulan pertama bekerja, seluruh ABK tidak menerima utuh gaji. Dalih kapten kapal, ada pemotongan untuk hal biaya administratif. Padahal sesuai aturan, biaya rekrutmen tidak dibebankan kepada ABK, melainkan perusahaan.

Ia menyebut pemotongan gaji ABK itu “melanggar aturan dan terindikasi pidana”.

Pengacara menemukan fakta lain. Sebelum ABK berangkat, mereka membayar kepada agensi dan perekrut berkisar Rp800 ribu hingga Rp5 juta. Krido menyebut biaya itu bagian dari pungutan liar, karena seharusnya mereka tak dipungut biaya saat mendaftar jadi pekerja migran.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi mengatakan, pemerintah akan berusaha mencari cara agar hak-hak yang belum dibayar segera dipenuhi oleh perusahaan kapal di Cina. Pemerintah Cina disebut telah berkomitmen membantu penuntasan masalah ABK.

Penyakit Misterius Menimpa ABK

Para ABK tersebut telah bekerja di Dalian Ocean Fishing Co. Ltd., perusahaan penangkapan ikan berbasis di Distrik Zhongshan, Dalian, kota pelabuhan besar di Provinsi Liaoning, Cina. Perusahaan terdaftar sebagai grup penangkap ikan tuna dengan tujuh kapal yakni Long Xing 629, Long Xing 806, Long Xing 805, Long Xing 630, Long Xing 802, Long Xing 605, dan Tian Yu 8. ABK Indonesia berpindah-pindah kapal saat ‘diperbudak’.

Mereka semula berada di Kapal Long Xing 629 sejak berlayar pada 15 Februari 2019. Menurut pengacara para ABK, kapal ini melaut non-setop selama 13 bulan tanpa sandar ke daratan di Perairan Samoa. Saat itu terjadi musibah. Ada ABK meninggal akibat penyakit yang belum jelas. Hal ini disampaikan pengacara ABK, Krido Sasmita.

Keduanya Sepri, 24 tahun, dan M Muh Alfatah, 19 tahun. Keduanya tidak mendapat izin pengobatan di daratan. Mereka menahan sakit selama lebih dari sebulan. Jenis penyakitnya tak jelas. Ciri-ciri yang tampak yakni badan membengkak, sakit pada bagian dada, dan sesak nafas.

Pada masa kritis, Alfatah dipindah ke Long Xing 802, sementara Sepri tetap di Long Xing 629. Sepri, 24 tahun, warga Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan ini akhirnya meninggal di Kapal Long Xing 629 pada 21 Desember 2019. Kemudian menyusul meninggal M Muh Alfatah di Long Xing 802 pada 27 Desember 2019. Kedua jasad ABK dilarung ke laut (burial at sea). Setelah itu, dua ABK lagi meninggal. (*)

 Sumber : Tirto.id /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]