Intelijen AS Tuduh Presiden China Xi Jinping Ancam WHO Terkait Corona


Kamis, 14 Mei 2020 - 15:06:56 WIB
Intelijen AS Tuduh Presiden China Xi Jinping Ancam WHO Terkait Corona Foto: Fabrice COFFRINI / AFP

WASHINGTON DC, HARIANHALUAN.COM -- Badan Intelijen Pusat AS ( CIA) meyakini, China berusaha menghalangi Badan Kesehatan Dunia ( WHO) mengumumkan virus corona sebagai wabah.

Sebab, berdasarkan laporan yang diungkap dua sumber intelijen, Negeri "Panda" saat itu tengah menimbun peralatan medis dari seluruh dunia.

Dalam pemberitaan yang dipublikasikan Newsweek, disebutkan China mengancam tidak akan bekerja sama dalam investigasi virus corona jika WHO mengumumkannya sebagai wabah.

Ini adalah laporan kedua dari telik sandi negara Barat, dan berpotensi memanaskan hubungan dengan China di tengah pandemi yang membunuh hampir 295.000 orang di Bumi ini.

Laporan pertama tudingan terhadap Beijing itu dibuat oleh intelijen Jerman, dan dimuat oleh harian ternama setempat, Der Spiegel pekan lalu.

Dilansir dari Tribunews.com, Kamis (14/5/202), laporan itu menyebutkan Presiden Xi Jinping sendiri yang menekan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada 21 Januari.

Badan kesehatan di bawah PBB itu membantah sudah diintervensi, berdasarkan keterangan dari juru bicara Christian Lindmeier.

Namun, dia menolak menjawab terkait pertanyaan apakah Beijing berupaya menunda atau mungkin mengubah pengumuman Kepedulian Internasional mengenai Darurat Kesehatan Masyarakat (PHEIC).

Lindmeier menerangkan, selama wabah, organisasinya bergerak berdasarkan mandat mereka yang merujuk kepada bukti ilmiah untuk melindungi warga dunia.

"WHO mendasarkan rekomendasinya berdasarkan sains, data, nasihat pakar independen, maupun penerapan dari kesehatan publik," tegas Lindmeier.

Dia menegaskan, Dr Tedros tidak bertemu Xi Jinping pada 21 Januari, melainkan 28 Januari di Beijing.

Dalam agenda itu, mereka tidak membahas mengenai PHEIC.

Berdasarkan pernyataan dari sumber intelijen AS, dirinya tidak bisa menekankan apakah Presiden Xi memainkan peranan dalam menekan organisasi kesehatan itu.

Ketika WHO mengumumkan darurat kesehatan publik pada 30 Januari, keputusan tersebut menuai kemarahan dari sebagian negara Barat.

Termasuk Presiden AS Donald Trump yang menyebut badan itu "China-sentris", dan kemudian memutuskan membekukan penadanannya pada Maret.

Pada saat itu, Tedros menjelaskan bahwa pengumuman tersebut bukanlah bentuk ketidakpercayaan kepada Negeri "Panda" terkait penanganan wabah.

"Malah pada kenyataannya, kami terus menaruh kepercayaan terhadap China mampu mengatasi wabah yang bergulir," ujar pejabat dari Etiopia itu.

Kepada politisi dari Partai Republik, Trump menuding organisasi kesehatan itu seakan menjadi organ China, dan bakal memutuskan seperti apa kelanjutan kooperasi Washington.

Beijing menuai sorotan sekaligus kritikan ketika virus dengan nama resmi SARS-Cov-2 itu menjangkiti Wuhan pada Desember 2019.

Dimulai dari tudingan pembungkaman terhadap dokter yang menyuarakan peringatan, hingga menunda pengumuman selama enam hari.

Akibatnya seperti diberitakan Associated Press, orang-orang pun meninggalkan Wuhan dan menyebarkan virus itu ke seluruh dunia.

Dokumen CIA, bertajuk U.N.-China: WHO Mindful But Not Beholden to China itu muncul di tengah laporan lain dari Kementerian Keamanan Dalam Negeri (DHS).

Dalam laporan dari DHS, Beijing disebut sengaja menunda informais mengenai Covid-19 pada Januari guna mengumpulkan peralatan medis dari seluruh dunia.

Beijing pertama kali menginformasikan mengenai Covid-19 kepada WHO pada 31 Desember, sebelum secara resmi memberitahukannya ke AS pada 3 Januari.

Kemudian di 20 Januari, Beijing melaporkan adanya kasus transmisi antar-manusia, tanda bahwa virus corona ini lebih menular dari yang pertama diketahui.

Kemudian WHO mengadakan dua pertemuan pada 22 dan 23 Januari untuk menentukan apakah penyakit ini bisa dianggap sebagai kondisi darurat.

Namun, dua pertemuan tersebut tak menghasilkan kesepakatan, Baru pada 30 Januari, organisasi kesehatan itu menyepakati SARS-Cov-2 sebagai pandemi.

Tudingan dari DHS itu disanggah oleh Kedutaan Besar China di Washington melalui keterangan resminya sebagai "tidak berdasar".

Sementara di Beijing, kementerian luar negeri hanya merespons pemberitaan Der Spiegel bahwa Xi Jinping tak pernah menelepon Tedros pada 21 Januari.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "CIA Yakin China Halangi WHO Umumkan Virus Corona sebagai Wabah". (*)

 Sumber : Tribunnews.com /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]