Zakat dalam Menanggulangi Kemiskinan Terhadap Dampak Covid-19


Jumat, 15 Mei 2020 - 07:33:13 WIB
Zakat dalam Menanggulangi Kemiskinan Terhadap Dampak Covid-19 Prof. Salmadanis

Perhatian Islam terhadap penanggulangan problema kemiskinan dan orang-orang miskin semenjak fajarnya baru menyingsing di kota Makkah, ketika itu umat Islam masih beberapa orang dan hidup menderita, dikejar-kejar, belum mempunyai pemerintah dan organisasi politik. Kitab suci Qur’an telah memberikan perhatian penuh dan kontinyu pada masalah penanggulangan kemiskinan. 

Oleh: Prof. Salmadanis

Qur’an adakalanya merumuskannya dengan kata-kata memberi makan dan mengajak memberi makan orang-orang miskin dan adakalanya dengan rumusan mengeluarkan sebagian rezeki yang diberikan Allah, memberikan hak orang-orang yang meminta-minta, miskin dan terlantar dalam perjalanan, membayar zakat dan rumusan-rumusan lainnya.

Dalam surat al-Muddaststir, yaitu salah satu surat yang turun pertama, Qur’an memperlihatkan kepada kita suatu peristiwa di akhirat, yaitu peristiwa "orang-orang kanan" Muslimin di dalam surga bertanya-tanya mengapa orang-orang kafir dan pembohong-pembohong itu diceblos ke dalam neraka. 

Mereka lalu bertanya, yang memperoleh jawaban bahwa mereka diceblos ke dalam neraka  karena tidak memperhatikan dan membiarkan orang-orang miskin menjadi mangsa kelaparan. Memberi makan orang miskin meliputi juga memberi pakaian, perumahan, dan kebutuhan-kebutuhan pokoknya.

Dalam Quran, 68, Allah menceritakan kasus pemilik-pemilik "kebun" yang menunggu malam datang untuk memetik hasil kebun mereka, supaya orang-orang miskin, yang sering bertindak di luar batas pada saat panen, tidak memperoleh apa-apa. Mereka akhirnya ditimpa laknat Allah. 

Ternyata ayat-ayat yang turun di Makkah tidak hanya menghimbau agar orang¬orang miskin diperhatikan dan diberi makan, bahkan mengancam bila mereka dibiarkan terlunta-lunta, tetapi lebih dari itu membebani setiap orang Mu'min mendorong pula orang lain memberi makan dan memperhatikan orang-orang miskin tersebut dan Allah menjatuhkan hukuman kafir kepada orang-orang yang tidak mengerjakan kewajiban itu serta pantas menerima hukuman Allah di akhirat. 

Allah SWT mengklaim orang yang mau memperhatikan orang miskin itu dengan kelompok kiri seperti Allah s.w.t. berfirman dalam Quran, surah al-Haqqah, bahkan hukuman bagi orang yang tidak peduli dengan orang miskin mereka diborgol, seperti firman Allah Q.69. 30-34 yang artinya:

"Tangkap dan borgol mereka, kemudian lemparkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala, dan belit dengan rantai tujuh puluh hasta! Mengapa mereka dihukum dan disiksa secara terang-terangan itu? Oleh karena mereka ingkar kepada Allah yang Maha Besar dan tidak menyuruh memberi makan orang-orang miskin."

Menyuruh member makan di sini berarti menganjurkan, mendorong, dan mendoakan orang kaya suka memberi dan orang miskin terselamatkan kehidupannya. Ayat-ayat yang berisi peringatan, ancaman hukuman, dan gugahan itu ternyata telah mendorong Abu Darda' meminta isterinya. 

"Isteriku, Allah mempunyai rantai besi yang selalu menyala membakar periuk neraka semenjak ada sampai kiamat nanti. Kita telah bebas dari ancaman separuh neraka itu oleh karena iman kita, sekarang bebaskanlah diri kita dari ancaman separuh lagi dengan mengajak orang-orang lain memberi makan orang-orang miskin." 

"Ini berarti bahwa ada dua tugas suci kita, yaitu pertama mengentaskan orang miskin dan kedua membawa orang lain secara bersama-sama bertanggung menyelesaikannya secara kontiniutas."

Didalam al-Qur’an kata “yahudhu atau tahudh” adalah berarti saling mendorong' "bahu-membahu" antara berbagai lapisan masyarakat. Dengan demikian ayat itu mengandung seruan agar masyarakat bertanggungjawab sepenuhnya dalam menangani kemiskinan. 

Syekh Muhammad Abduh berkata, "Ungkapan 'menyuruh memberi makan' bukan 'memberi makan saja orang-orang miskin akan tetapi himbauan tegas bahwa setiap anggota masyarakat harus bertang¬gungjawab dan saling mendorong secara bersama-sama mengerjakan kebajikan dan mencegah hal-hal yang tidak baik terjadi, di samping selalu mengerjakan kebajikan dan menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Terpuji tidaknya seseorang dapat dilihat ada tidaknya mereka memperhatikan orang-orang miskin.

Dalam al-Qur’an, surah al-Ma'un, tindakan kejam kepada anak-anak yatim dan tidak mau tahu dengan nasib orang-orang miskin, dinilai sebagai tindakan yang menjatuhkan langsung seseorang ke dalam kekafiran dan  keingkaran tentang adanya hari kiamat. Bahkan "mendorong memberi makan orang miskin" berarti menghimbau dan mengajak orang mensejahterakan dirinya sendiri.

Dengan demikian al-Qur’an telah mendorong umatnya secara bersama-sama bertanggungjawab menyelesaikan orang miskin, orang yang meminta-minta dan orang-orang yang tidak punya pekerjaan. Untuk menyelesaikan itu masing-masing kota dan kabupaten sampai kekecamatan dan nagari atau lurah perlu secara profesional dan penggelolaannya dianggarkan melalui APBD dan Baznas, sehingga masing-masing kota, kabupaten dan nagari berkompetisi mengentas kemiskinan. Semoga. (*)

 Editor : Agoes Embun
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 21 Mei 2020 - 12:42:28 WIB

    Doa dan Lafaz Niat Saat Menyerahkan Zakat Fitrah

    Doa dan Lafaz Niat Saat Menyerahkan Zakat Fitrah HARIANHALUAN.COM - Zakat merupakan salah satu pondasi syariat Islam. Di antara kewajiban seorang muslim adalah menunaikan zakat fitrahnya. Karena sesungguhnya puasa di bulan Ramadhan tergantung di antara langit dan bumi, dan .
  • Ahad, 17 Mei 2020 - 15:35:11 WIB

    Ini Waktu yang Tepat untuk Membayar Zakat

    Ini Waktu yang Tepat untuk Membayar Zakat HARIANHALUAN.COM - Zakat wajib segera dikeluarkan ketika sudah terpenuhi syarat-syaratnya. Mengakhirkan dari waktu wajib adalah haram, kecuali jika seseorang tidak mungkin membayarkan pada waktu tersebut..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]