Terancam Kelaparan Saat Pandemi Covid-19, Orang Rimba Diserang dan Sudung (Rumahnya) Dihancurkan


Jumat, 15 Mei 2020 - 22:11:36 WIB
Terancam Kelaparan Saat Pandemi Covid-19, Orang Rimba Diserang dan Sudung (Rumahnya) Dihancurkan Belasan Sudung (Rumah) Orang Rimba yang dihancurkan. (dok.KKI-Warsi)

HARIANHALUAN.COM, PADANG-Orang Rimba kembali  mengalami  tindakan tidak berprikemanusiaan. Kali ini dialami kelompok Sikar di Sungai Mendelang, Kecamatan Tabir Selatan, Kabupaten Merangin, Jambi.

Tidak saja menjadi korban bentrok dengan petugas Satpam  PT Sari Adytia Loka Astra Group, sejumlah sudung (rumah)  bagi orang rimba ini  obrakabrik dan dihancurkan. 

Insiden menyedihkan ini terjadi disaat orang rimba terancam kelaparan karena mengalami kesulitan mendapatkan pangan di tengah pandemi corona, pada Selasa lalu, 12 Mei 2020. 

Koordinator Komunikasi Komunitas Konservasi Indonesia Warung Informasi Konservasi (KKI Warsi) Sukmareni menceritakan, delapan Orang Rimba kelompok Sikar itu hendak mengambil brondolan, buah sawit yang jatuh dari tandannya, di perkebunan milik PT Sari Adytia Loka Astra Group.

“Mereka belum ambil brondolan, terus diusir satpam,”jelas Sukmareni menjawabh harianhaluan.com, Jumat malam (15/5/2020).

Orang Rimba kelompok Sikar adalah Begendang, Parang, Bujang Kecik, Mak Erot, Betenda, Nenek, Natas, dan Ebun. Mereka kerap mengambil brondolan di sana, karena lahan yang dijadikan perkebunan sawit itu sebelumnya adalah hutan yang menjadi tempat tinggal mereka. Sehingga, Orang Rimba yang tak memiliki hutan harus bertahan di bawah perkebunan sawit.

Setelah diusir, Orang Rimba itu pun putar balik. Namun, petugas keamanan terus mengiringi mereka dari belakang. Menurut Sukmareni, Orang Rimba merasa kesal karena selalu diikuti walau sudah berada jauh dari lokasi perkebunan sawit.


Mulanya, Orang Rimba dan petugas keamanan ini perang mulut. Lalu terjadi lah bentrok. Orang Rimba kemudian lari ke permukiman mereka. Bentrok berlanjut setelah petugas keamanan mengajak sejumlah masyarakat desa untuk menyerang Orang Rimba.

“Pondok dan pakaian mereka dihancurkan. Pakaian hingga beras yang mereka dapatkan dengan cucuran keringat,  berserakan. Satu motor Orang Rimba dibawa dan infonya ada di kantor polisi,” ungkap Reni.

Tumenggung Sikar pimpinan Orang Rimba Sungai Mendelang menyebutkan, Orang Rimba menangambil brondo yang jatuh ke tanah, karena perkebunan tersebut berdiri di hutan yang dahulunya rumah mereka. Secara sepihak perusahaan menggantinya dengan sawit, sehingga Orang Rimba yang sudah di sana tetap bertahan di bawah batang-batang sawit.

“Kami sudah kehilangan sumber penghidupan kami, hopi ado nang bisa di makon, apolagi musim sakin mumpa nio, hopi ado nang membeli bebi kami (tidak ado yang bisa dimakan, sejak musim wabah, tidak ada yang membeli babi),” ungkap Sikar seperti diulang Reni.

Persoalan Orang Rimba dengan perusahaan PT SAL sudah terjadi sejak tahun 1990-an, sejak hutan lebat itu menjadi rumah yang nyaman bagi Orang Rimba, kemudian berubah menjadi kebun sawit tanpa memperhitungkan Orang Rimba yang ada di dalamnya. Akibatnya konflik berkepanjangan terus terjadi.

Saat pandemi corona ini, kata Sukmareni kelompok Orang Rimba mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Pasalnya, mereka biasa berburu. Tetapi tempat penampungan hasil buruan sedang tutup karena isu virus corona ditularkan dari hewan ke manusia.

"Satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan mereka adalah dengan mengambil brondolan, lalu menjualnya. Hasil penjualan itu untuk membeli beras," ujarnya.

SAL Membantah
Sementara itu Manajer Hubungan Masyarakat PT Sari Aditya Loka (SAL) Mochamad Husni membantah ada penyerangan terhadap Orang Rimba kelompok Sikar di Kabupaten Merangin, Jambi, oleh petugas keamanan perusahaan. “Pada peristiwa itu tidak terjadi penyerangan terhadap Orang Rimba,” kata Husni seperti dilansir tempo.co, Jumat (15/5/2020).

Menurut dia, yang terjadi justru di luar dugaan karena petugas keamanan dilempari batu oleh Orang Rimba tersebut.  Untuk menghindari perkelahian lebih lanjut, Husni mengatakan petugas keamanan memilih mundur ke pos terdekat. Saat di pos itulah, petugas bertemu dengan masyarakat yang kebetulan melintas. 

Masyarakat, kata dia, emosi karena petugas keamanan, yang merupakan warga desa mereka, menjadi korban. Kemarahan masyarakat itu mendorong warga mengajak tetangganya hingga terkumpul 100 orang untuk mencari dan mengejar Orang Rimba yang mengeroyok petugas keamanan tersebut.(DN)

Reporter : DN /  Editor : Dodi

Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]