Taubatan Nasuha 'Menghancurkan Belenggu Kesyirikan'


Ahad, 17 Mei 2020 - 09:18:37 WIB
Taubatan Nasuha 'Menghancurkan Belenggu Kesyirikan' Oleh: Afri Yendra, S.H., M.H. Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

Kesyiriksan adalah pembelenggu terkuat dan terbesar dalam hati manusia karena menyamakan antara selain Allah dengan Allah ta’ala dalam perkara yang termasuk kategori kekhususan yang hanya dimiliki oleh Allah ta’ala. Padahal Dia-Nya yang Maha segala-galanya.

Oleh: Afri Yendra, S.H., M.H.
Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

Belenggu kesyirikan tak ayal membuat orang tidak merdeka dalam berfikir dan bertindak secara normal, dalam semua lini, syetan telah masuk dalam jiwanya maka segala aktivitasnya tidak lagi normal. Seseorang pejabat kalau terbelenggu hatinya maka ia akan mencari dukun untuk mendapatkan dan mempertahankan jabatannya, seoarng gadis akan mencari jalan lain untuk mempercantik dirinya melalui hal-hal diluar nalar akal sehat, orang sakit juga demikian dia cari jalan aneh pengobatannya. Pokoknya segala aktivitasnya tidak lagi normal jauh meninggalkan nilai-nilai kebenaran.
Dampak syirik terutama Syirik adalah perbuatan Zhalim yang Dosanya tidak diampuni Allah (Syirik besar) Tempatnya di Nereka dan menghapus semua amal perbuatannya.
TAUBATAN NASUHA.
Syirik kecil dapat dihilangkan dengan Taubatan Nasuha.
Taubat adalah kembalinya seseorang dari perilaku dosa ke perilaku yang baik yang dianjurkan Allah. Taubat nasuha adalah taubat yang dilakukan dengan Betul-betul di atas dosa-dosa besar yang pernah dilakukan di masa lalu. Taubat nasuha ini adalah jalan terbaik yang ditunjukkan oleh Allah SWT sebagai cara agar hamba-Nya berusaha untuk memperbaiki diri atas dosa, maksiat, dan kesalahan yang telah mereka lakukan pada masa yang lalu.
Langkah-langkah Tubatan Nasuha

Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam taubatan Nasuha adalah Me-Muhasabah Diri/Mengevaluasi, mengakui kesesalah, memperbaiki kesalahan dan Istighfar.

Pertama : Muhasabah Diri.

Muhasabah diri atau menghisab diri atau juga me-Evaluasi diri artinya manusia melakukan proses merenungkan atas kesalahan-kesalahan atau dosa-dosa yang pernah kita perbuat, sebesar atau sekecil apaun akan mempengaruhi hati manusia pada akhirnya akan pengaruhi prilakunya, kemudian prilakulan yang menetuka bahagia atau sengsaranya kita,--- semua ada pada prilaku---. perenungan dan penghayatan dirinya, apa yang salah dan selama ini bernilai dosa dihadapan Allah. Tanpa melakukan proses perenungan dan pengahyatan akan kesalahan diri, maka manusia nantinya tidak akan menemukan apa saja kekeliruan dia selama ini. Untuk itu dibutuhkan proses evaluasi diri yang baik dan mendalam.
Muhasabah diri mesti dengan penuh kejujuran untuk menguak misteri yang menutupi dan membelenggu jiwa atau hati kita. Apabila proses ini terlaksana maka ia akan menemukan jalan tol utama kebahagiaan melalui Hidayah Allah SWT yang gerbangnya disebut dengan Insyaf.
Kedua : Mengakui Kesalahan

Mengakui kesalahan adalah awal langkah untuk meminta ampunan kepada Allah SWT. Mengakui kesalahan artinya adalah kita mengakui atas apa hasil muhasabah /evaluasi diri kita atau apa yang disampaikan orang lain kepada kita, atas perbuatan yang buruk. Tanpa mengakui kesalahan, manusia dalam memohon ampun tidak akan benar-benar melakukannya dengan serendah-rendahnya atau dengan posisi yang benar-benar berserah diri kepada Allah SWT. Untuk itu, pengakuan kesalahan adalah langkah awal untuk melakukan taubatan Nasuha.
Ketiga : Memperbaiki Kesalahan
Setiap orang yang bertaubat maka kualitas tobatnya terlihat dari kadar ia memperbaiki kesalahannya melalui amal amalan yang berbeda dengan kesalahan masa lampaunya. Seumpama dia kerap mendatangi para Dukun untuk suatu jabatan, maka upaya emperbaikikinya adalah pasrah secara total dari kehendak Allah dan meyakini segala sesuatu telah Allah gariskan. Tidak hanya itu ia akan menambah-nambah amalan sholehnya untuk menutupi kesalahannya masa lampau. Kalau selama ini kehidupan didasarkan duniawi sahaja tetapi dia perbaiki dengan pola ada akhirat tempat hidup kita selama-lamanya.
Kemudian dia akan menjadi pejuang agama Allah, dia bantu gerakan-gerakan agama (yang mungkin selama ini dia salah melabel---miss labeling--) dalam bidang apapun, dia jadi tokoh penggerak dalam hal agama. Inilah realita taubatan nasuha sesungguhnya.
Keempat : Istighfar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap anak Adam adalah bersalah dan sebaik-baiknya orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2499)
Istighfar adalah pokok utama sebuah Taubatan Nasuha.
Istighfar adalah merupakan permohonan ampunan dari manusia selaku hamba yang memeiliki sifat ketergantungan kepada Allah, istighfar ditujukan kepada Allah semata tidak kepada yang lain, secara langsung tanpa perantara.
Istighfar, kalimat yang sangat pendek tetapi memiliki makna yang sangat dahsyat, sangat dalam dan sangat indah dalam hidup kita. Kita mengucapkan kalimat tayyibah “Astaghfirullahal ‘Adzim” ketika kita berbuat kesalahan dan dosa.
“Astaghfirullahal ‘Adzim” Ungkapan kalimat tersebut sebagai perwujudan sikap menyesal atas kesalahan atau dosa yang dilakukan. Dengan kata lain ucapan kalimat tayyibah Astaghfirullahal ‘Adzim merupakan bentuk taubat seseorang. Karena Astaghfirullahal ‘Adzim artinya “aku memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung”.
Untuk mengatasi belenggu hati kita dari kesyirikan maka harus banyak banyak istighfar, karena Nabi Muhammad SAW yang ma’shum dan dijamin masuk surga setiap sehari malam membaca istighfar 70 kali. Bahkan ada yang menyebutkan 100 kali, sebagaimana SabdaNya :
Artinya : “Wahai sekalian manusia. Taubatlah (beristighfar) kepada Allah karena aku selalu bertaubat kepada-Nya dalam sehari sebanyak 100 kali.” (HR. Muslim).
Apalagi kita manusia yang kerap bergelimang dosa.
Cara istighfar
Agar di dalam mengucapkan kalimat tayyibah istighfar dapat memberikan manfaat, yakni terampuni kesalahan dan dosa kita dan melepaskan hati kita dari belenggu kesyirikan , maka perlu perhatikan tata caranya berikut :
1. Mengerti dam memahami makna kalimat tayyibah (Astaghfirullahal ‘Adzim).
2. Meyakini hikmah mengucapkan kalimat tayyibah (Astaghfirullahal ‘Adzim).
3. Membiasakan diri mengucapkan kalimat tayyibah (Astaghfirullahal ‘Adzim).
4. Ketika melakukan kesalahan atau dosa, segera mengucapkan kalimat tayyibah (Astaghfirullahal ‘Adzim). Termasuk ketika melihat orang lain berbuat kesalahan atau dosa.
5. Di dalam mengucapkan kalimat tayyibah (Astaghfirullahal ‘Adzim) dilakukan secara ikhlas dan terus menerus.

Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita agar senantiasa bertaubat sehingga terlepas hati kita dari belenggu kesyirikan. (**)

 Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 16 Mei 2020 - 12:02:45 WIB

    Taubatan Nasuha  ''Menghancurkan Belenggu Kesyirikan''

    Taubatan Nasuha  ''Menghancurkan Belenggu Kesyirikan'' HARIANHALUAN.COM - ''Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat sebenar-benarnya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang me.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]