The Untold Story, Siapa yang Membunuh Marsinah?


Selasa, 19 Mei 2020 - 10:47:49 WIB
The Untold Story, Siapa yang Membunuh Marsinah? Aksi bela Marsinah.

HARIANHALUAN.COM -- Siapa yang berani berbicara pada masa pemerintahan Orde Baru harus siap menerima resikonya. Sabtu, 8 Mei 1993, sesosok mayat perempuan ditemukan dalam sebuah gubuk tengah sawah di Desa Jagong, Kecamatan Wilangan, Kabuapaten Nganjuk. Penemuan mayat perempuan muda yang ditaksir berumur 25 tahun tersebut ditemukan dengan badan penuh luka disekujur tubuhnya. 

Temuan itu lantas menggemparkan warga sekitar dan ini bukan kasus kriminal biasa. Perempuan yang ditemukan terbunuh itu adalah seorang buruh yang bernama Marsinah. Lantas, apa yang membuat kasusnya kemudian menyeruak? Karena dia adalah seorang aktivis dan buruh pabrik yang bekerja di sebuah perusahaan perakitan jam yang ada di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Kemudian, apa yang terjadi pada Marsinah? Pada tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan Surat Edaran No.50/Th 1992 yang berisi imbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20 persen gaji pokok. Tentu saja imbauan tersebut disambut dengan senang hati oleh karyawan, namun tidak oleh perusahaan.

Pada pertengahan April 1993, karyawan PT. Catur Putra Surya (PT. CPS) Porong membahas surat edaran tersebut dengan resah. Menanggapi hal tersebut, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah dari Rp1.700 menjadi Rp2.250. Marsinah menjadi salah seorang karyawati PT. Catur Putra Surya yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. 

Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggulangin, Sidoarjo. Pada tanggal 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya bekerja. Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah aksi buruh. 

Lalu, pada tanggal 4 Mei 1993, para buruh mogok total dan mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp1.700 per hari menjadi Rp2.250. Setelah itu, tunjangan tetap Rp550 perhari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.

Siapa Pembunuh Marsinah?
Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan. Pada perundingan tersebut ikut menyertakan petugas dari Dinas Tenaga Kerja, petugas Kecamatan Siring, Kepolisian dan Koramil. 

Namun, dalam perundingan tersebut menimbulkan kecanggungan. Tuntutan Marsinah dan rekan-rekannya dikabulkan dan tertuang pada Surat Persetujuan Bersama yang ditandatangani oleh 24 perwakilan buruh, perwakilan Depnaker dan pengurus DPC SPSI Sidoarjo. Siang hari, tanggal 5 Mei, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. 

Di tempat itu, mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat ilegal dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah bahkan sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6 hingga 8 Mei, keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat. Sejak saat itu, tidak seorang pun yang tahu siapa pembunuh Marsinah. Bahkan, proses kasus pembunuhan tersebut sudah melibatkan semua pihak di Provinsi Jawa Timur.

Pada tanggal 30 September 1993, dibentuklah Tim Terpadu Bakorstanasda Jatim untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan kasus pembunuhan Marsinah. Sebagai penanggung jawab Tim Terpadu adalah Kapolda Jatim dengan Dan Satgas Kadit Reserse Polda Jatim dan beranggotakan penyidik Polda Jatim serta Den Intel Brawijaya.

Berdasarkan hasil visum, tulang panggul depan Marsinah hancur, tulang kemaluan kiri patah berkeping-keping, tulang kemaluan kanan patah, tulang usus kanan patah sampai terpisah-pisah, tulang selangkangan kanan patah seluruhnya, labia minora kiri robek dan ada serpihan tulangnya. Mirisnya, ada luka di bagian dalam alat kelamin sepanjang 3 cm serta pendarahan di dalam rongga perut.

Keterlibatan Aparat Hukum
Usai dibentuk tim, ternyata delapan petinggi PT CPS ditangkap secara diam-diam dan tanpa prosedur resmi, termasuk Mutiari selaku Kepala Personalia PT CPS dan satu-satunya perempuan yang ditangkap. Mereka disebut mengalami siksaan fisik maupun mental selama diinterogasi di sebuah tempat yang kemudian diketahui sebagai Kodam V Brawijaya. 

Setiap orang yang diinterogasi di lokasi tersebut dipaksa mengaku telah membuat skenario dan menggelar rapat untuk membunuh Marsinah. Pemilik PT CPS, Yudi Susanto juga termasuk salah satu yang ditangkap. Baru 18 hari kemudian, akhirnya diketahui mereka sudah mendekam di tahanan Polda Jatim dengan tuduhan terlibat pembunuhan Marsinah. 

Pengacara Yudi Susanto, Trimoelja D. Soerjadi mengungkap adanya rekayasa oknum aparat Kodim untuk mencari kambing hitam pembunuh Marsinah. Secara resmi, Tim Terpadu telah menangkap dan memeriksa 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan terhadap Marsinah. Salah seorang dari 10 orang yang diduga terlibat pembunuhan tersebut adalah Anggota TNI.

Hasil penyidikan polisi ketika itu menyebutkan, Suprapto (pekerja di bagian kontrol CPS) menjemput Marsinah dengan motornya di dekat rumah kos Marsinah. Dia dibawa ke pabrik, lalu dibawa lagi dengan Suzuki Carry putih ke rumah Yudi Susanto di Jalan Puspita, Surabaya. Setelah tiga hari Marsinah disekap, Suwono (satpam CPS) mengeksekusinya.

Di pengadilan, Yudi Susanto divonis 17 tahun penjara, sedangkan sejumlah stafnya yang lain itu dihukum berkisar empat hingga 12 tahun, namun mereka naik banding ke Pengadilan Tinggi dan Yudi Susanto dinyatakan bebas. Pada 3 Mei 1995, Mahkamah Agung (MA) memvonis bahwa sembilan terdakwa tak terbukti melakukan perencanaan dan membunuh Marsinah. 

Putusan Mahkamah Agung RI tersebut, setidaknya telah menimbulkan ketidakpuasan sejumlah pihak sehingga muncul tuduhan bahwa penyelidikan kasus ini adalah "direkayasa". Sembilan terdakwa dibebaskan, tapi siapa pembunuh Marsinah hingga kini tak pernah diungkap pengadilan.

Komite Solidaritas
Tahun 1993, dibentuk Komite Solidaritas Untuk Marsinah (KSUM). KSUM adalah komite yang didirikan oleh 10 LSM. KSUM merupakan lembaga yang ditujukan khusus untuk mengadvokasi dan investigasi kasus pembunuhan aktivis buruh Marsinah oleh Aparat Militer. KSUM melakukan berbagai aktivitas untuk mendorong perubahan and menghentikan intervensi militer dalam penyelesaian perselisihan perburuhan.

Munir menjadi salah seorang pengacara buruh PT. CPS melawan Kodam V/Brawijaya, Depnaker Sidoarjo dan PT. CPS Porong atas pemutus hubungan kerja sepihak yang dilakukan oleh aparat kodim sidoarjo terhadap 22 buruh PT. CPS Porong yang dianggap sebagai dalang unjuk rasa.
Pengadilan tidak pernah memberi tahu siapa pembunuh Marsinah. 

Hingga kini Marsinah ada di mana-mana. Dia menyelinap di berbagai produk payung hukum bagi hak buruh. Dalam putusan MK dan pengadilan, nama Marsinah kerap disebut. Misalnya dalam putusan 100/PUU-X/2012, Margarito Kamis menjelaskan bagaimana Marsinah menjadi tolak ukur bahwa buruh harus dilindungi.

Diam-diam, hingga kini, represi tetap menjadi alat bagi siapa saja yang berkuasa. Masalah buruh tak pernah jauh dari 12 tuntutan yang dicanangkan Marsinah dan kawan-kawan. Kita hidup di sebuah negara dengan warisan tingkah yang brutal. Setiap tanggal 1 Mei diperingati sebagai hari buruh dan Marsinah adalah salah satu tokoh yang melekat dengan peringatan tersebut. (*)

Reporter : Merinda Faradianti /  Sumber : dari berbagai sumber /  Editor : Agoes Embun
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 25 Mei 2020 - 20:07:19 WIB

    Ini Dia Aturan The New Normal untuk Pekerja

    Ini Dia Aturan The New Normal untuk Pekerja HARIANHALUAN.COM -- Pemerintah RI mulai memikirkan untuk mengizinkan aktivitas warga, namun dengan ketentuan mengikuti protokol kesehatan cegah virus corona (Covid-19). Tatanan hidup di tengah pandemi corona itu kemudian dike.
  • Selasa, 05 Mei 2020 - 12:19:49 WIB

    Ini Biografi Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart

    Ini Biografi Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -  Didi Kempot dikenal sebagai The Godfather of Broken Heart, belum lama Didi Kempot menyandang status itu. Kini Didi Kempot meninggal dunia..
  • Kamis, 16 April 2020 - 14:11:09 WIB

    Duh! 34 Mahasiswa Asrama Bethel Positif Corona, 180 Isolasi Mandiri

    Duh! 34 Mahasiswa Asrama Bethel Positif Corona, 180 Isolasi Mandiri JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Lurah Petamburan Setyanto mengatakan Asrama Bethel diisolasi dan dijaga ketat pihak TNI-Polri karena menjadi tempat penyebaran Corona. Sebanyak 34 mahasiswa Asrama Bethel disebutkan terkonfirmasi .
  • Rabu, 08 April 2020 - 12:48:52 WIB

    Perkenalkan Oke Oce Hingga Salam Corona, Sandiaga Uno Disebut The King Of Gimmick

    Perkenalkan Oke Oce Hingga Salam Corona, Sandiaga Uno Disebut The King Of Gimmick PADANG, HARIANHALUAN.COM -- Siapa yang tidak mengenal Sandiaga Uno. Politisi muda yang pernah menjabat sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta tersebut disebut-sebut politisi muda yang bertalenta dengan gaya kekinian..
  • Senin, 22 Juli 2019 - 22:00:33 WIB

     BRSDM Selenggarkan The High Level Panel (HPL)

     BRSDM Selenggarkan The High Level Panel (HPL) PADANG,HARIANHALUAN.COM – Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) bersama Satgas 115 menyelenggarakan The High Level Panel (HLP) Workshop International on IUU Fishing and Organized Crimes in the F.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]