Donasi dari Masyarakat, Kini Juni Pengidap Kanker Dirawat di RSUP M. Jamil


Selasa, 19 Mei 2020 - 22:41:04 WIB
Donasi dari Masyarakat, Kini Juni Pengidap Kanker Dirawat di RSUP M. Jamil Walinagari Koto Dalam Selatan, Masywarah menyerahkan donasi kepada keluarga Juni penderita Gastro Intestinal Stromal Tumor (GIST).

HARIANHALUAN.COM -- Juni Arita (36) menderita Gastro Intestinal Stromal Tumor (GIST) saat ini sudah mendapatkan perawatan di RSUP M. Jamil Padang, dengan dana yang dihimpun oleh masyarakat mencapai Rp21 juta.

Dimana Juni sebelumnya hanya bisa terbaring ditempat tidur di rumah orangtuanya di Korong Puah Manih, Nagari Koto Dalam Selatan, Kecamatan Padang Sago, Kabupaten Padang Pariaman.

Pasalnya, warga Kecamatan Padang Sago ini merantau di Pekan Baru, namun akibat penyakit yang dideritanya harus pulang kampung karena tidak memiliki dana yang cukup untuk berobat. Bakan BPJS Kesehatannya sudah nunggak semenjak 2017 lalu.

"Atas dasar itu masyarakat Padang Sago ikut bergerak untuk mencarikan dana untuk pengobatan Juni Arita," kata Tokoh mayarakat Herman Zein, di Padang Sago Selasa (19/5).

Ia menyampaikan, donasi itu mulai dikumpulkan semenjak Jumat (14/5) berjalan sekitar empat hari bantuan terus mengalir, baik itu dari masyarkat di Kampung serta perantau, dan pihak lainnya yang ikut berpartisipasi demi kesembuhan Juni.

"Alhamdulliah sudah ada sekitar Rp21 juta dana yang terkumpul, dan Rp10 juta telah kami serahkan, sisanya untuk biaya selama pengobatan," ujarnya.

Herman juga menyampaikan, sebelum Juni dibawa kerumah sakit, pihaknya bersama masyarakat sudah membayar lunas tunggakan BPJS Rp6 juta serta iuaran berjalannya. Sehingga Juni bisa mendapatkan perwatan medis.

"Awalnya dirujuk dari Puskesmas ke RSUD Parit Malintang dan dilanjutkan ke RSUP M. Djamil," katanya.

Diberikatan sebelumnya, Ibu satu anak ini pada 2016 lalu diaknosa menderita Gastro Intestinal Stromal Tumor (GIST) yaitu tumor yang berada dibagian pencernaan. Namun saat ini kondisinya kian parah, dengan badan semakin kurus dan perut yang sangat besar, sehingga ia tidak bisa bergerak sendiri.

Sehingga untuk melakukan segala sesuatu Juni harus dibatu oleh sang suami Dahnil Aprianto (41), mulai dari makan hingga lebutuhan lainya serta mengurus putri sematawanyang baru beranjak tiga tahun. Juni dan kuarga selama ini merantau ke Pekan Baru harus gulang tikar dan pulang kampung, seiring dengan kondisi penyakitnya yang juga semakin parah.

"Kondisi seperti ini sudah semenjak Oktaber 2019 lalu, saya saat ini tidak bisa beraktivitas tanpa dibantu suami," kata Juni Arita saat dikunjungi dikediaman orangtuanya di Korong Pauh, Kamis (13/5).

Kondisi semakin besar ini terjadi saat balik berobat dari Jakarta, dimana setelah dilakukan pengobatan tetapi belum membuahkan hasil, dan saat ini hanya bisa dilakukan pengobatan dengan tradisional dan herbal di daerah itu. Obat alternatif menjadi jalan satu-satunya yang bisa dilakukan oleh Juni, karena semenjak ia sakit sampai saat ini suaminya tidak bisa bekerja sehingga tidak memiliki biaya yang cukup.

"Waktu dulu memang ada suami punya usaha, tetapi semenjak mengurus saya sakit usaha itu tidak jalan lagi, dan tidak ada lagi pemasukan," katanya.

Sehingga untuk berobat ke Rumah Sakit saat ini terkendala karena biaya. Ia dan keluarga memang terdaftas sebagai peserta BPJS Kesehatan, tetapi semenjak Desember 2017 lalu tidak lagi dibaya, dengan alasan tidak ada biaya.

"Waktu suami punya usaha kami masih sanggup bayan iuran BPJS, tetapi saat ini tidam sanggup lagi," kata Juni dengan suara lirih seakan-akan menahan sakit yang dideritanya.

Sementara, Dahnil Aprianto juga ikut menceritakan kondisi istrinya. Ia menyampaikan, dalu Juni pernah mengalami sakit dan telah dilakukan operasi di rumah sakit swasta di Pekan Baru.

"Saat itu kami datang ke Rumah sakit umum, tapi karena hari antri sampai satu bulan. Tetapi karena kondisi semakin parah maka saya langsung larikan ke rumah sakit swasta," katanya.

Saat dilakukan operasi tahun 2016 itu, Pada operasi pertama ini berhasil dikeluarkan tumor dari perut Juni seberat 5 kg. Tetapi saat itu masih ada satu tumor lagi yang nempel didekat hulu hati. Saat itu dokter tidak ingin mengambil resiko sehingga satu tumor itu tidak diangkat saat itu.

"Tetapi disarankan istri saya untuk melakukan kemoterapi," katanya.

Saat kondisi Juni seperti itu. Allah juga memberikan rezeki pada pasangan itu, dimana tidak lama setelah opetasi Juni juga dinyatakan Postif hamil kala itu. Saat konsul ke dokter, ia diberi pilihan memepertahankan janin atau mengobati penyakit.

"Saat itu kami belum punya anak, maka kami pilih mempertahankan janin," katanya.

Tidak sampai disana, Juni kembali melakukan operasi sertelah melahirkan anak pertamanya. Saat operasi kedua itu, berhasil keluar tumor itu sekitar 1,5 kg. Saat Juni hanya dilakukan pengobatan alternatif, ia berkeinginan untuk membawa istrinya kembali berobat ke Rumah sakit, tetapi terkendala dengan biaya. Termasuk dengan pembayaran tunggakan BPJS semenjak Desember 2017 itu.

"Ingin rasanya untuk mengobat istri saya ke dokter, tetapi terkendala biaya dan BPJS juga sudah nunggak lama," katanya. (*)

Reporter : Yuhendra /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]