Ramadan dan Pemimpin Peduli Rakyat


Rabu, 20 Mei 2020 - 16:59:08 WIB
Ramadan dan Pemimpin Peduli Rakyat H. Syafruddin Nurdin - Guru Besar FTK UIN IB Padang

Merasa peduli dengan nasib sesama, ikut mendengarkan rintihan orang lain, memperhatikan nasib orang-orang melarat (fakir-kiskin) merupakan sikap yang mesti tumbuh dalam diri seorang mukmin, setelah melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Itulah pertanda realisasi perintah Tuhan dalam al-Qur’an tentang pentingnya memelihara Hablum Minallah Wa Hablum Minan Nas (Ali-Imran 112).

Oleh: H. Syafruddin Nurdin - Guru Besar FTK UIN IB Padang

Meningkatkan hubungan kasih sayang antara sesama makhluk (Hablum-Minan Nas), merupakan salah satu target yang harus dicapai dalam pelaksanaan ibadah puasa. Artinya, bagi setiap orang yang melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan mestilah tumbuh dan muncul dalam dirinya “perasaan kasih-sayang antar sesama”, “perasaan solidaritas sosial” dan rasa senasib-sepenanggungan dengan saudaranya yang lain.

Sikap seperti ini (Hablum-Minan Nas), oleh kaum muslimin biasanya direalisasikan menjelang Idul Fitri. Dimana, kaum muslimin menunjukkan solidaritasnya terhadap fakirmiskin yang lemah dan melarat, dengan menunaikan zakat fitrah. Sehingga, mereka dapat berhari raya dan ikut serta bergembira ria bersama-sama dengan kaum muslimin lainnya.

Sikap yang mulia ini diharapkan dapat berlanjut sepanjang hari dan bahkan sepanjang masa, karena dengan memelihara dan melestarikan “perasaan kasih sayang antar sesama”. Insha allah ukhuwah islamiyah di kalangan umat Islam bisa berjalan langgeng dan jurang pemisah antara golongan the have dan the have not secara berangsur-angsur dapat dikurangi.

Salah satu permasalahan yang dirasakan oleh kita dewasa ini adalah “masih rendahnya kepedulian sebagian umat Islam terhadap kaum yang lemah dan melarat (fakir dan miskin). Hal ini terlihat dari masih besar dan tingginya angka / jumlah para fuqara dan masakin serta orang-orang yang lemah dan melarat di daerah kita. 

Menurut informasi terakhir yang dapat dipercaya, di Sumatera Barat terdapat 22 % lebih penduduk miskin yang memiliki penghasilan jauh di bawah UMR. Bahkan belakangan angka tersebut sudah hampir mencapai 30 %. Padahal masalah ini harus mendapat perhatian yang cukup serius
dari kita sekalian, apalagi di saat-saat merayakan Idul Fitri seperti sekarang ini. 

Tentang hal ini Nabi Muhammad SAW secara tegas mengingatkan: “Cukupkan keperluan mereka hari ini, sehingga mereka tidak terpaksa menadahkan tangan meminta-minta”. Sabda Nabi ini mengisyaratkan agar kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh
nasib orang-orang yang berkekurangan, sehingga pada Idul Fitri mereka juga dapat bergembira bersama-sama dengan kita, baik dalam melaksanakan shalat maupun dalam merayakan hari raya Idul Fitri itu sendiri. 

Tidak dijumpai lagi satu keluarga pun yang bersedih, sementara yang lainnya bergembira ria. Kepada kita kaum muslimin dihimbau untuk memberikan perhatian terhadap fakir miskin melalui penggalangan rasa senasib sepenanggungan. Hendaknya kita dapat turut serta merasakan penderitaan fakir dan miskin, dan susahnya hidup golongan yang berkekurangan (the have not) . 

Betapa dahaga dan kering-kerontangnya tenggorokan orang-orang yang berkekurangan (papa) dan fakir miskin setiap hari, karena ketiadaan
uang untuk membeli sesuatu untuk membasahi mulut dan tenggorokannya. Betapa pedihnya nasib orang-orang yang memiliki putra-putri yang berotak cemerlang, tapi tak ada daya untuk menyekolahkan anaknya ke bangku pendidikan yang tinggi. 

Betapa sedih dan ibanya hati, melihat ada anak-anak yang tidak dapat bermain bersama-sama dengan teman sebayanya, hanya karena tidak memiliki baju baru (baju yang dipakai sudah lusuh dan kotor), sementara yang akan membelikan baju baru tak ada (yatim-piatu).
Bagi kaum muslimin, perasaan-perasaan seperti dilukiskan di atas akan mengingatkan dirinya untuk senantiasa ingin membantu siapa pun yang mengalami kelaparan, kekurangan uang dan sebagainya. 

Hasilnya, hatinya tak akan tergerak untuk berfoya-foya, berpesta pora, atau hidup berlebih-lebihan sementara di sekitarnya masih banyak umat manusia yang merintih kelaparan atau susah mencari makan karena kemiskinan. Oleh karena itu Rasulullah memberikan ultimatum melalui hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas berikut ini: ”Tiada sempurna iman seseorang apabila dia kenyang sementara tetangganya dalam keadaan lapar”. 

Umar Bin Khatab telah mengukir sebuah contoh teladan yang indah dalam sejarah hidupnya, yaitu: “Pada suatu malam sebelum Hari Raya Idul Fitri, Umar melakukan kunjungan ke sebuah perkampungan penduduk di luar kota Madinah. Di kala itu Amirul Mukminin menjumpai sebuah rumah/gubuk yang masih menyala lampunya, sementara itu dari dalam rumah/gubuk tersebut kedengaran suara tangis anak kecil. 

Lalu beliau mendekati sembari mengintip dari lubang dindingnya. Apa yang beliau saksikan ? Ternyata seorang ibu sedang asyik memasak sesuatu di dapur, sementara anaknya menangis di kamar. Melihat kejadian ini timbul tanda tanya di hati Umar, mengapa ibu ini tega membiarkan anaknya menangis, sedangkan ia terus saja memasak/bekerja di dapur. 

Untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang dialami oleh ibu dan anaknya ini, lalu Umar mencoba mengetok pintu rumah/gubuk tersebut, sambil mengucapkan salam. Sesaat kemudian, kedengaran suara ibu yang empunya rumah/gubuk menjawab salam Umar dan mempersilahkan beliau masuk. 

Pendek cerita, di dalam rumah terjadilah dialog antara seorang Amirul Mukminin dengan seorang rakyatnya. Pertama, Umar menanyakan apa yang sedang dikerjakan oleh ibu tersebut di dapur, dan kenapa ia membiarkan saja anak kecilnya menangis di kamar? Lalu ibu tersebut
memberikan jawaban kepada Umar; Saya berada di dapur adalah berpura-pura merebus sesuatu (merebus batu), agar anak saya yang sedang menangis bisa tertidur. 

Lantas Umar bertanya penuh keheranan, kenapa bisa terjadi demikian Bu ? Tanpa basa basi, dengan tegas ibu tersebut menyatakan kepada Umar: Ya begitulah Pak, apa boleh buat terpaksa saya berpura-pura merebus sesuatu di dapur, karena memang tidak ada yang akan saya masak buat anak saya itu. Semenjak suami saya gugur di medan jihad dalam mempertahankan Islam sampai saat ini, beginilah nasib kami pak. 

Tak pernah lagi mendapat perhatian dari pemerintah, padahal semasa hidupnya selalu disanjung dan mendapat perhatian yang cukup baik. Mendengar itu terperanjatlah Umar, dalam hati ia berkata, rupanya masih ada rakyatku yang luput dari perhatian pemerintah, sehingga hidupnya sengsara seperti yang baru saja aku saksikan dengan mata kepala sendiri. 

Setelah mendengar keterangan ibu tersebut, Umar mohon izin untuk kembali ke kota Madinah. Beberapa jam kemudian, muncullah Umar kembali di depan rumah/gubuk tadi sambil menyandang satu karung kecil gandum di pundaknya. Gandum itu langsung diangkat sendiri oleh khalifah tanpa minta bantuan orang lain/pembantunya. 

Kemudian, gandum diserahkan kepada ibu dan anak yang menangis tadi, lalu Umar menyuruh ibu tersebut memasaknya. Sewaktu Umar hendak kembali, ia berpesan agar besok harinya ibu tersebut  datang menghadap Khalifah di Madinah guna membicarakan jaminan hari tua suaminya.
Pada keesokan harinya pergilah ibu tadi ke kantor khalifah di Madinah. 

Setelah diizinkan pengawal masuk, maka dengan mengucapkan salam Ibu tadi memasuki ruangan kerja khalifah. Begitu membuka pintu, ibu tadi terperanjat sambil mengucapkan “astaghfirullah”, karena khalifah yang akan ditemuinya adalah orang yang tadi malam datang berkunjung ke rumah/gubuknya. Kemudian ibu itu berkata, ma’afkan aku yang Amirul Mukminin, aku telah lancang berbicara di hadapanmu tadi malam, sungguh benarbenar aku tidak tahu bahwa engkau seorang Amirul Mukminin. 

Dengan tenang dan penuh sifat kebapakan Umar berkata kepada Ibu tersebut, sudahlah Bu semuanya sudah kuma’afkan dan dalam hal ini ibu tak salah, yang salah adalah aku sebagai seorang khalifah yang belum memberikan perhatian kepada rakyatku, lebih-lebih terhadap para syuhada yang telah gugur di medan juang dalam menegakkan Islam seperti suami ibu sendiri.

Demikian “profil” seorang pemimpin yang betul-betul memperhatikan nasib rakyatnya, terutama yang berkekurangan (the have not) . Hal ini memberi petunjuk kepada kita semua, agar memperhatikan kehidupan para fuqaha dan masakin, lebih-lebih di saat umat Islam merayakan Idul Fitri seperti sekarang ini. Hendaknya jangan ada lagi di daerah kita ini saudara-saudara kita yang tidak bersuka cita pada hari yang berbahagia ini. 

Tidak kita saksikan lagi anak-anak kecil yang menangis di depan rumahnya karena ketiadaan baju baru untuk bergembira ria bersama-sama dengan temannya. Menurut riwayat, Nabi pada suatu hari raya Idul Fitri pernah menegur-sapa seorang anak kecil yang berdiri terpisah dari teman-teman sebayanya yang sedang bergembira ria. 

Anak yang disapa Nabi ini berwajah sedih, murung dan mengenakan pakaian yang sudah lusuh dan kotor. Lalu, Nabi bertanya kepada bocah tersebut, kenapa ananda tidak ikut bermain dengan teman-teman itu ? (Nabi menunjuk ke sekelompok anak-anak yang sedang asyik bermain, tidak jauh dari bocah itu berdiri). 

Dengan wajah sedih bocah/anak tersebut berkata kepada Nabi, bagaimana saya bisa ikut bermain bersama mereka Pak, baju saya
kotor dan usang karena tiada orang tua yang akan membelikan baju baru. Mendengar ini, Nabi tertunduk. Lalu, mengajak bocah/anak tersebut (Maukah ananda ikut Bapak ?). 

Pendek kisah, akhirnya bocah/anak tersebut sesampainya di rumah Nabi, lalu dimandikan oleh Aisyah dan kemudian dikenakan baju baru, dan setelah itu baru disuruh oleh Nabi dan Aisyah pergi bermain dan bergembira ria dengan teman-teman sebayanya. (*)

 Editor : Agoes Embun

Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 23 Mei 2020 - 18:15:51 WIB

    Ingin Jumpa di Ramadan Berikutnya? Amalkan Doa Rasulullah Ini

    Ingin Jumpa di Ramadan Berikutnya? Amalkan Doa Rasulullah Ini HARIANHALUAN.COM -- Ramadhan berakhir malam ini. Sebagai umat muslim kita dianjurkan membaca doa akhir Ramadhan seperti yang dilakukan Rasulullah SAW..
  • Jumat, 22 Mei 2020 - 13:58:52 WIB

    Renungan Akhir Ramadan

    Renungan Akhir Ramadan Tidak berapa lama lagi Ramadhan akan meninggalkan kita, Bulan yang sangat Mulia, banyak kemuliaan yang Allah berikan kepada bulan Ramadhan diataranya yaitu bulan Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk arah kehidupan (Q.
  • Kamis, 21 Mei 2020 - 14:23:32 WIB

    Pesan Moral yang Sebaiknya Tertanam dalam Setiap Sanubari Muslim, Setelah Ramadan Berlalu

    Pesan Moral yang Sebaiknya Tertanam dalam Setiap Sanubari Muslim, Setelah Ramadan Berlalu HARIANHALUAN.COM - Tidak terasa sebentar lagi Ramadhan 1441 H akan pergi meninggalkan kita..
  • Kamis, 07 Mei 2020 - 07:51:50 WIB

    Renungan Jiwa Ramadan

    Renungan Jiwa Ramadan Tiada yang menduga apa yang akan terjadi pada diri kita setelah ini, apalagi nanti, esok atau apatah lagi bulan atau tahun depan. Kita hanyalah hamba yang menjalani segala titah dan sunnah-Nya.  Segala apa yang menimpamu tel.
  • Sabtu, 02 Mei 2020 - 16:25:51 WIB

    9 Ramadan, Saat Kemerdekaan Indonesia Dikumandangkan

    9 Ramadan, Saat Kemerdekaan Indonesia Dikumandangkan JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Ada peristiwa penting pada hari ini yang tercatat dalam sejarah bangsa Indonesia. Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 yang diproklamasikan di Jalan Pegangsaan Raya terjadi pada 9 Ramadan..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]