Benarkah Makanan Beku Tidak Sehat? Ini Jawabannya


Kamis, 21 Mei 2020 - 07:41:11 WIB
Benarkah Makanan Beku Tidak Sehat? Ini Jawabannya Ist

HARIANHALUAN.COM -- Makanan beku bukan hal baru. Inovasi yang satu ini membuat orang bisa lebih leluasa menyimpan makanan dan mengolahnya ketika diperlukan.

Walau makanan bisa lebih tahan lama, namun di sisi lain kandungan nutrisinya juga rentan berkurang. Waspadai juga pengawet atau perasa tambahan yang membuat kalori makanan jadi lebih besar.

Bukan berarti makanan beku sama sekali tidak boleh dikonsumsi. Makanan rumahan yang disimpan dalam kondisi beku agar bisa diolah sewaktu-waktu tidak ada salahnya.

Namun, sebaiknya menghindari makanan yang melalui proses panjang pengolahan hingga nutrisi aslinya tak lagi ada.

Makanan beku buah dan sayur, sehatkah?

Buah dan sayur yang diolah dalam bentuk beku biasanya dipetik saat sudah benar-benar matang. Artinya, kandungan nutrisinya sangat tinggi. Setelah dipanen, dilakukan proses mulai dari mencuci, memotong, hingga mengemasnya menjadi makanan beku.

Biasanya, juga diberikan asam ascorbic yang merupakan salah satu bentuk vitamin C untuk mencegahnya membusuk.

Saat buah dan sayur dibekukan, tentu ada nutrisi yang berkurang. Seberapa banyak nutrisi yang hilang bergantung pada jenis sayurnya. Buah biasanya tidak melewati proses ini.

Sementara pada buah dan sayur segar yang biasanya dijual di pasar atau supermarket, umumnya dipetik sebelum benar-benar matang. Artinya, kandungan antioksidan, vitamin, dan mineralnya belum benar-benar matang.

Selama proses pengolahan buah dan sayur segar hingga siap dibeli, penyimpanannya dilakukan secara khusus. Bila perlu, diberi tambahan zat kimia untuk mencegahnya menjadi rusak.

Baik buah dan sayur yang dibekukan maupun tidak, pasti ada proses yang membuat nutrisinya berkurang semenjak setelah dipanen.

Itulah sebabnya disarankan mengonsumsi buah dan sayur yang sudah matang sesegera mungkin untuk mendapatkan nutrisi terbaik.

Makanan beku yang sebaiknya dihindari

Meskipun sayur dan buah yang diolah menjadi beku bisa berkurang kandungan nutrisinya, namun tetap lebih sehat ketimbang makanan yang diproses terlalu lama.

Makanan beku terkadang menyimpan kandungan sodium, lemak, dan gula yang lebih banyak untuk memastikan rasanya tetap lezat.

Ada banyak jenis makanan beku yang diberi tambahan gula, garam, dan juga minyak. Belum lagi bahan pengawet untuk memastikan makanan tetap aman dikonsumsi setelah jangka waktu lama sekalipun.

Jadi, ketika berbelanja makanan beku lihat terlebih dahulu komposisinya. Jika ada kandungan seperti maltose, trans fat, dextrose, dan hydrogenated oil sebaiknya hindari konsumsinya.

Di dalamnya, asupan sodium dan gula bisa dua kali lipat dari yang direkomendasikan dikonsumsi dalam sehari.

Selain makanan beku, beberapa makanan yang melewati proses panjang seperti di bawah ini sebaiknya juga dihindari:

Microwave popcorn

Jenis popcorn yang satu ini sangat praktis karena dibuat hanya dengan memasukkannya sebentar di microwave.

Sayangnya, kandungan perfluoroalkyl di dalam kemasannya justru berbahaya. Ini adalah substansi kimia yang disebut memicu risiko gangguan fungsi ginjal dan penurunan kualitas sperma.

Jadi, lebih baik mengonsumsi popcorn dan mengolahnya sendiri di kompor. Cukup letakkan di wajan atau panci kemudian ditutup. Butiran jagung ini akan berubah menjadi popcorn setelah dipanaskan beberapa saat.

Margarin

Margarin disebut tidak sehat karena mengandung trans fat yang bisa menyebabkan kolesterol jahat (LDL) meningkat.

Jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama, bisa meningkatkan kemungkinan terjadi stroke dan penyakit jantung. Penderita kanker juga disarankan menghindari konsumsi makanan yang mengandung trans fat.

Sebagai alternatif pengganti margarin, coba alpukat untuk diolah dengan roti. Sementara jika untuk memasak, beberapa susu dari olahan kacang atau yogurt bisa jadi pilihan.

Mie instan

Mudah dibuat dan harganya terjangkau, sayangnya kandungan sodium dalam mie instan bisa meningkatkan tekanan darah seseorang.

Belum lagi kandungan karbohidrat dan minimnya nutrisi di dalamnya. Menurut penelitian, konsumsi mie atau ramen instan meningkatkan risiko obesitas dan sindrom metabolik terutama pada perempuan.

Makanan siap saji

Ada banyak pilihan makanan siap saji beku yang hanya perlu dipanaskan beberapa menit di microwave dan bisa dikonsumsi. Meski demikian, makanan siap saji ini biasanya diberi tambahan gula, lemak, dan juga sodium.

Konsumsi substansi seperti ini dapat menambah berat badan dan membuat seseorang berisiko mengalami penyakit jantung.

Kunci mengonsumsi makanan beku tanpa mengorbankan kesehatan adalah dengan tetap mengontrol porsinya.

Jangan terlalu banyak karena tidak bisa terkontrol kandungan gula, sodium, dan lemak. Belum lagi tambahan bahan kimia yang membuat makanan lebih awet.

Meski demikian, bukan berarti semua makanan beku itu buruk. Buah dan sayur yang diolah menjadi makanan beku masih mengandung nutrisi meskipun tidak sebanyak buah dan sayur segar.

Jaga agar makanan yang diproses berlebihan tidak lebih dari 20% dari seluruh konsumsi keseluruhan dalam sehari. Dengan demikian, kesehatan tidak akan menjadi taruhan hanya karena makanan beku yang diproses berlebihan. (*)


 Sumber : Kompas.com /  Editor : Milna Miana

Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 12 April 2020 - 13:07:23 WIB

    Benarkah Minuman Panas Bikin Manusia Aman dari Corona? Ini Kata Ilmuwan

    Benarkah Minuman Panas Bikin Manusia Aman dari Corona? Ini Kata Ilmuwan JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Minuman panas membuat tubuh manusia aman dari wabah Virus Corona. Benarkah demikian? Apa kata ilmuwan menanggapi hal ini? Kita ketahui bersama, terdapat beberapa saran aneh yang disebarkan perihal.
  • Kamis, 26 Maret 2020 - 06:13:43 WIB

    Benarkah Masker Kain Efektif Cegah Corona? Ini Kata Achmad Yurianto

    Benarkah Masker Kain Efektif Cegah Corona? Ini Kata Achmad Yurianto JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto menyebutkan, masker berbahan dasar kain dapat dijadikan alternatif untuk mencegah penularan virus..
  • Selasa, 11 Februari 2020 - 10:40:20 WIB

    Faktor Gen Penyebab Perut Buncit, Benarkah?

    Faktor Gen Penyebab Perut Buncit, Benarkah? JAKARTA, HARIANHALUAN.COM -- Perut buncit menjadi pertanda menumpuknya lemak dalam tubuh. Beragam hal bisa menjadi penyebab perut buncit, mulai dari kebiasaan mengonsumsi alkohol hingga stres..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]