Ikhlas, Kunci Kualitas Amal


Kamis, 21 Mei 2020 - 09:24:36 WIB
Ikhlas, Kunci Kualitas Amal Afri Yendra, S.H., M.H, Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

Ikhlas, sebuah kata yang pendek namun memiliki energi yang luarbiasa, ia menentukan kualitas amal seseorang. Karena hanya Amal yang kita lakukan didunia akan dihidangkan Allah SWT bukan yang lain. Sebagaimana Firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” Baik buruk amal tergantung keikhlasan yang dimiliki seorang hamba. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.” pada hadits lain disebutkan bahwa “Sesungguhnya Allah tidak melihat (menilai) bentuk tubuhmu dan tidak pula menilai kebagusan wajahmu, tetapi Allah melihat (menilai) keikhlasan hatimu”. [HR. Muslim].

Oleh: Afri Yendra, S.H., M.H.
Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

Pengertian Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal. Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa. (Muhammad Bugi).

Kualitas Amal karena Niat yang Ikhlas

Orang yang ikhlas dalam niat beramal maka demikianlah nilai amalnya, semakin kuat niat yang ikhlas karena Allah maka semakin berkualitas Nilai Amalnya. Cukup untuk Allah saja karena DiaNya Allah Maha Mengetahui, tidak ada yang luput dari pantauannya, Allah Maha Tau, keikhlasan beramal bukan karena dipuji atau dikenal manusia “Seandainya salah seorang di antara kamu melakukan suatu perbuatan di dalam gua yang tidak ada pintu dan lubangnya, maka amal itu tetap akan bisa keluar (tetap dicatat oleh Allah) menurut keadaannya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Korelasinya dengan Iman adalah Kesempurnaan Amal ibadah karena Ikhlas, semakin ikhlas beramal maka semakin sempurnalah nilai iman seseorang. Rasulullah mengatakan “Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)”

Kualitas Amal ditentukan Niatnya bukan hanya semata wujud amalnya. Sebagai contoh kita berniat akan bersedekah ke Masjid uang 10ribu dan kita letakkan uang itu didalam saku baju kita, namun sesampai di Masjid ketika ingin memberikan uang itu ternyata uang itu hilang, secara wujud (zhohir) uang itu tak ada tetapi secara niat (bathin) ia tetap ada, ia telah lakukan amal sedekah maka tetap ia dicatat telah beramal bersedekal 10ribu. Demikian amal ibadah kita sesungguhnya yang utama adalah bagaimana kita berniat dengan iklash karena Allah.

Di padang mashar nanti Allah akan bangkitkan manusia berdasar niatnya, seperti potongan hadits rasulullah“…... Kemudian mereka akan dibangkitkan berdasar niat mereka masing-masing” [HR. Bukhari dan Muslim].

Si Ikhlas dia hanya mencari ridho Allah semata, bukan mencari ridho manusia atau “carinama-carimuka” supaya kita dikenal orang, disebut orang seorang dermawan, baik, beramal banyak tentulah sangat amatlah rugi mereka. Orang yang beramal bukan karena Allah maka sesungguhnya telah membuat Allah murka atau marah padanya. “Barangsiapa memurkakan (membuat marah) Allah untuk meraih keridhaan manusia maka Allah murka kepadanya dan menjadikan orang yang semula meridhoinya menjadi murka kepadanya. Namun barangsiapa meridhokan Allah (meskipun) dalam kemurkaan manusia maka Allah akan meridhoinya dan meridhokan kepadanya orang yang pernah memurkainya, sehingga Allah memperindahnya, memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandanganNya. (HR. Ath-Thabrani.

Orang yang ikhlas adalah orang yang paling mulia dunia dan Akhirat, di dunia dia tidak disibukkan dengan carinama-carimuka tetapi ia hanya harap ridho Allah, maka apapun penilaian manusia bukan itu yang diharapkannya tetapi penilaian Allah SWT, sampai diakhirat dia dijamin oleh rasulullah orang yang bahagia sebagaimana sabdanya “Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari dalam hati atau dirinya.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu).

Disamping ketidakikhlasan membuat Allah marah dan Murka juga termasuk syirik yang samar. Seperti disampaikan rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya, “Maukah kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”. Para sahabat menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Yaitu syirik yang samar. Tatkala seorang berdiri menunaikan sholat lantas membagus-baguskan sholatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh orang lain.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, al-Bushiri berkata sanadnya hasan). Na’uzubillah.

Begitu pula dalam amal kesehariaan, kita mesti ikhlas dan loyal, berkenaan dengan hal ini pernah sahabat bertanya kepada Rasulullah loyalitas kepada siapa? maka Rasulullah Saw menjawab, "Kepada Allah, kepada kitabNya (Al Qur'an), kepada rasulNya, kepada penguasa muslimin dan kepada rakyat awam." (HR. Muslim)”

Dengan demikian, ketidakikhlasan atau Riya dalam ibadah menjadi ibadah tidak bernilai disisi Allah SWT dan hanya amalan sia-sia saja. Malahan menjadi berdosa yang dosanya sama dengan syirik kecil. Sholat yang tidak ikhlas dan riya maka Allah akan marah, "Yang sangat aku takuti atas kamu adalah syirik kecil". Sahabat bertanya: "Ya Rasulullah apakah syirik kecil itu." Jawab baginda: "Riya'. Pada hari pembalasan kelak Allah berkata kepada mereka; pergi lah kamu kepada orang-orang yang dahulu kamu beramal kerana mereka di dunia, lihatlah disana kalau-kalau kamu mendapat kebaikkan dari mereka."

Begitu pula puasa akan menjadi puasa sia-sia tak bernilai. Dari Abu Hurairah r.a., Nabi s.a.w bersabda: Ada kalanya orang yang berpuasa tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga, dan ada kalanya orang yang bangun malam tidak mendapar apa-apa dari ibadatnya kecuali mengantuk, yakni tidak mendapat pahala dari amalnya. Begitujuga dengan amal ibadah lainnya.

Kesimpulan

Kualitas amal ibadahkita tergantung keikhlasan dalam melaksanakan. “Allah ‘Azza wa Jalla tidak menerima suatu amalan kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas demi mencari keridhaan-Nya semata” (HR. Abu Daud & Nasa’i).

Semoga kita termasuk hamba-hambaNya yang senantiasa Ikhlas, Aamiin. (*)

 Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]