MEMAKNAI HARI RAYA


Jumat, 22 Mei 2020 - 08:45:42 WIB
MEMAKNAI HARI RAYA Ikhwan Matondang

Oleh: Dr. Ikhwan Matondang, SH. M.Ag
Wakil Rektor UIN Imam Bonjol Padang


Boleh disebut, setiap kebudayaan memiliki hari raya dan menjadi cermin dari kebudayaan itu sendiri. Hari raya menggambarkan aspek keyakinan, peribadatan, akhlak, seni, dan hal-hal lain yang dimiliki satu kebudayaan.

Islam menyadari pentingnya kedudukan dan fungsi hari raya tersebut sehingga memberikan arahan yang jelas dan tegas dalam membangun kebudayaan dan peradaban. 

Ketika Nabi SAW hijrah, warga Madinah sudah memiliki dan merayakan dua hari raya, yakni Nairuz dan Mahrajan. Kedua hari raya ini sebenarnya berasal dari Persia. Nairuz adalah hari raya awal tahun baru Persia yang dihitung berdasarkan kalender matahari, sedangkan Mahrajan adalah hari raya pertengahan tahun (musim gugur atau musim semi).

Karena Arab termasuk wilayah ajang perebutan pengaruh antara Persia dan Romawi, maka banyak juga unsur kebudayaan Persia yang masuk dan diterima oleh kebudayaan Arab. Warga Madinah, termasuk kaum Anshar, biasanya merayakan dengan bermain-main dan bersuka cita, dan tidak jarang dibumbui dengan praktek syirik, minuman keras, pergaulan bebas, dan bentuk maksiat lainnya sebagaimana yang juga terjadi di tempat asalnya.


Nabi SAW menilai kedua hari raya itu tidak sesuai dengan ajaran dan peradaban Islam yang sedang dibangun. Sementara keberadaan hari raya itu penting bagi suatu kebudayaan. Atas petunjuk Allah SWT, Nabi SAW menghapus kedua hari raya tersebut dan menggantinya dengan yang baru.

Beliau bersabda: "Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, yaitu 'Idul fitri dan 'Idul Adha (HR. Abu Daud dan al-Nasa'i). Islam membuat hari raya sendiri sebagai bagian dari sistem kebudayaan Islam dengan kedudukan dan fungsi yang luhur. 


Pertama, hari raya berfungsi sebagai penegasan dan penguatan akidah. Hari raya menjadi ajang demonstratif untuk menunjukkan keimanan kepada Allah SWT. Nilai-nilai keimanan dinyatakan dengan jelas dalam lantunan takbir, tahmid, dan tahlil, pendirian shalat dan ibadah lainnya. Seremonial yang dilakukan secara kolosal tersebut pengaruhnya masuk ke relung kalbu, menggugah kesadaran setiap muslim, serta menegaskan identitas individu dan masyarakat sebagai muslim. 

Kedua, hari raya berfungsi menyatakan syukur atas nikmat yang dilimpahkan oleh Allah SWT. Nikmat Allah tidak terhitung, tidak sebanding dengan segelintir musibah yang ditimpakannya. Secara khusus, Idul Fithri adalah hari di mana umat Islam bersyukur karena telah menjalankan puasa dan ibadah lainnya sebulan penuh. 

Sedangkan Idul Adha adalah hari di mana umat Islam bersyukur karena telah diberi kemudahan melaksanakan manasik haji dan ibadah qurban. Semua ibadah yang dilaksanakan tersebut memiliki manfaat dan kebaikan yang banyak dan mesti disambut dengan rasa syukur. “Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangan (puasa) dan bertakbir mengagungkan Allah atas apa yang telah Dia berikan kepadamu agar kalian menjadi orang-orang yang bersyukur”. (al-Baqarah:185)

Ketiga, hari raya berfungsi sebagai wadah silaturahim dimana umat Islam saling bertemu, bermaafan, dan menyebarkan kebaikan. Rasulullah memerintahkan seluruh umat Islam agar hadir di tempat pelaksanaan shalat 'Id agar bisa bersilaturahim dan merasakan manfaatnya.

Diriwayatkan dari Ummu ‘Athiyah ra bahwa Rasulullah SAW memerintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita pada hari raya Idul Fitri dan Adha, baik wanita-wanita baligh, haidh, dan sedang dipingit. Wanita-wanita yang haidh menjauhi tempat shalat dan menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin. Aku berkata: Wahai Rasulullah, sebagian kami tidak memiliki jilbab.

Beliau berkata: "Hendaklah sebagian kalian meminjamkan untuk saudaranya." (HR Bukhari dan Muslim). Rasulullah membiasakan diri keluar ke tempat shalat 'id dengan berjalan kaki dan pulang juga berjalan kaki (HR Ibnu Majah) dan memilih melewati jalan berbeda ketika pergi dan pulang (HR Imam Bukhari). Salah satu tujuannya, menurut para ulama, adalah agar bisa bersilaturahim lebih luas dengan umat Islam.


Keempat, hari raya merupakan hari bergembira bagi umat Islam. Untuk tujuan tersebut, Islam mengkondisikan keadaan agar tercipta suasana gembira yang dapat dirasakan oleh setiap umat Islam. Tidak boleh ada yang berasakan kekurangan dan kesedihan di hari raya. Rasulullah SAW mewajibkan zakat fitri dan bersabda, "Cukupkan mereka (fakir miskin) pada hari itu." (HR. Daruqutni dan Baihaqi).

Rasulullah SAW juga memperhatikan dan melimpahkan kasih sayangnya kepada fakir miskin, terutama kepada anak yatim. Nabi SAW juga memerintahkan untuk menyediakan makanan yang cukup selama hari raya seraya bersabda: "Hari-hari itu adalah hari makan dan minum”. (HR. Abu Daud, Nasa’ i dan Tirmidzi).

Nabi SAW juga membolehkan berbagai hiburan yang tidak menyalahi nilai-nilai yang diajarkan Islam. Aisyah ra bercerita: "Kaum Habasyah (Ethiopia) datang dan mereka menampilkan tarian pada hari 'id di masjid. Rasulullah memanggilku, kemudian kepalaku diletakkan di sikutnya agar aku bisa melihat permainan mereka hingga aku puas dan berpaling dari melihat mereka." (HR al-Nasa'i dan Ibnu Hibban).

Untuk melengkapi kegembiraan itu, dianjurkan juga memakai pakaian terbaik yang dimiliki asalkan tidak berlebihan dan tidak jatuh kepada sesuatu yang dilarang. ‘Umar Ibn Al-Khathab r.a. melihat jubah dari sutra, kemudian membelinya untuk dihadiahkan kepada Nabi SAW. Umar berkata kepada Rasulullah SAW: “Hendaklah anda berhias dengan ini untuk hari ‘id dan menyambut tamu utusan”.

Nabi SAW bersabda: “Ini adalah baju bagi orang yang tidak memiliki bagian di akhirat (Kitab Zaadul Ma’ad). Penolakan Nabi SAW ini karena bahan jubah terbuat dari sutra yang terlarang bagi laki-laki muslim, bukan karena tidak suka berhias di hari raya. Nabi SAW justru biasa memakai pakaian terbaik yang dimilikinya pada hari raya.

Demikian antara lain Islam memaknai hari raya dengan makna yang luhur dan tinggi. Hal ini untuk mengkoreksi pemaknaan hari raya yang bernuansa syirik, maksiat, mubazir, dan rendah, baik yang dipraktekkan pada masa jahiliyah dahulu, maupun yang terjadi juga pada masa sekarang. Wallahu A'lam.(*)


 

 Editor : Nova Anggraini
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]