Renungan Akhir Ramadan


Jumat, 22 Mei 2020 - 13:58:52 WIB
Renungan Akhir Ramadan Afri Yendra, S.H., M.H. (Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi)

Tidak berapa lama lagi Ramadhan akan meninggalkan kita, Bulan yang sangat Mulia, banyak kemuliaan yang Allah berikan kepada bulan Ramadhan diataranya yaitu bulan Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk arah kehidupan (Qs. Albaqarah 185), Allah telah mengistimewakan bulan Ramadhan dengan adanya Lailaul Qadar, malam yanglebih baik dari seribu bulan (Qs. Al-Qadr : 1-5), bulan diampuni dosa-dosa kita yang lalu ( HR Bukhari Muslim), dan banyak kemuliaan lainnya. Sekarang ia akan pergi, kita tak tau apakah tahun depan kita bisa bertemu lagi dengannya.

Oleh Afri Yendra, S.H., M.H.
(Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi)

Suatu Masa nabi Musa bermunajat kepada Allah SWT. Ya Rabb, ratusan tahun aku dan kaumku beribadah dan mengabdi kepada-Mu. Setiap yang aku mintakan untuk kaumku Engkau berikan dan setiap kesulitan yang menimpa kaumku Engkau mudahkan. Sungguh, keistimewaan yang besar yang Engkau berikan kepadaku dan kaumku. Apakah ada yang lebih istimewa dari yang Engkau berikan ini, Ya Rabb?”.

Allah swt. menjawab munajat Nabi Musa as. itu, “Ada, Ya Musa, suatu saat nanti akan ada satu kaum yang Aku berikan keistimewaan yang melebihi seluruh keistimewaan yang Aku berikan kepada kaum-kaum sebelumnya. Dalam hari-harinya Aku berikan kemuliaan, setiap pahala akan Aku lipatgandakan, pintu surga akan Aku buka, pintu neraka akan Aku tutup dan setan-setan akan Aku belenggu serta yang lebih istimewa lagi, di dalamnya akan ada satu malam yang lebih mulia dari seribu bulan, saat itulah ribuan malaikat-malaikat-Ku akan turun ke bumi. Barangsiapa yang meminta ampun akan Aku ampuni, barangsiapa yang minta kebutuhan akan Aku turuti, barangsiapa yang bertaubat akan Aku terima dan barangsiapa yang berdoa akan Aku kabulkan. Dan umat yang diberikan bulan dan malam itu adalah umat Nabi Muhammad saw.”

Nabi Musa as. berkata “Sungguh beruntung umat Nabi Muhammad saw. yang mendapatkan keistimewaan bulan dan malam itu dalam keadaan beribadah kepada-Nya dan bisa memanfaatkannya dengan baik”. (dikutip dari Kajian Islami)
Keberuntungan itulah yang saat ini kita nikmati selaku ummat nabi Muhammad SAW, namun tanpa terasa keberuntungan itu akan segera pergi meninggalkan kita, apakah kita telah menikmati keberuntungan itu, atau kita abaikan begitu saja ia datang dan pergi???

Ibnu Rajab berkata, “Para ulama salafush sholih biasa bersungguh- sungguh dalam menyempurnakan amal dan bersungguh-sungguh ketika mengerjakannya. Setelah itu, mereka sangat berharap amalan tersebut diterima dan khawatir bila tertolak. Merekalah yang disebutkan dalam ayat,
“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang penuh khawatir, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka” (QS. Al Mu’minun: 60).”

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Mereka para salaf begitu berharap agar amalan-amalan mereka diterima daripada banyak beramal. Bukankah engkau mendengar firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Ma-idah: 27)”

Malik bin Diinar mengatakan, “Tidak diterimanya amalan lebih kukhawatirkan daripada banyak beramal.”
Abdul Aziz bin Abi Rowwad berkata, “Saya menemukan para salaf begitu semangat untuk melakukan amalan sholih. Apabila telah melakukannya, mereka merasa khawatir apakah amalan mereka diterima ataukah tidak.”

‘Umar bin ‘Abdul Aziz berkhutbah pada hari raya Idul Fithri, “Wahai sekalian manusia, kalian telah berpuasa selama 30 hari. Kalian pun telah melaksanakan shalat tarawih setiap malamnya. Kalian pun keluar dan memohon pada Allah agar amalan kalian diterima. Namun sebagian salaf malah bersedih ketika hari raya Idul Fithri. Dikatakan kepada mereka, “Sesungguhnya hari ini adalah hari penuh kebahagiaan.” Mereka malah mengatakan, “Kalian benar. Akan tetapi aku adalah seorang hamba. Aku telah diperintahkan oleh Rabbku untuk beramal, namun aku tidak mengetahui apakah amalan tersebut diterima ataukah tidak.”

Adakah yang yakin amalannya di bulan ini diterima …
Shalat tarawih yang dilakukan setiap malam, yakinkah diterima?

Tilawah Al Qur’an setiap malamnya, yakinkah diterima?
Sedekah dan buka puasa, yakinkah diterima?
Kita hanya bisa berharap dan perbanyak do’a, moga Allah menerima setiap amalan kita di bulan Ramadhan dan memperjumpakan kita kembali dengan bulan penuh barokah ini.

Sebagian ulama salaf ada yang berkata, “Para salaf biasa memohon kepada Allah selama enam bulan agar dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Kemudian enam bulan sisanya, mereka memohon kepada Allah agar amalan mereka diterima.” (dikutip dari Rumasya.com, Artikel Selamat Jalan Ramadhan oleh Muhamad Abduh Tausikal).
Akhir dalam renungan akhir ramadhan tahun ini, mari kita resapi runtutan kata dalam tajuk “Selamat Jalan Ramadhan Tahun Cobaan”

Selamat Jalan bulan Mulia,

Engkau telah hadir diutus khusus oleh sang khaliq kepada kami,

Lambaian akhir ini tak kuasa berderai air mata,

Apakah kita kan bersua kembali,

Mungkin tahun ini terakhir bagiku bersua denganmu,

Aku khawatir pertemuan terakhir ini belum sempuna ku menjamu-mu,

Tapi hanya doa dan pinta pada yang Kuasa, Duhai Robb.

Jadikan Ramadhan tahun ini adalah yang terbaik bagi hamba,

Amalan amalan kami yang belum sempurna, sempurnakanlah ya Robb,

Letih jiwa raga tak terasakan karena rindu dengan balas kasihMu ya Allah,

Aku rindu Pertemuan denganMu disyurgaMu

Nan kenikmatannya tiada terukur dengan apapun jua.

Ruh kami yang ada digenggamanMu,

Akan kembali lagi padaMu,

Masa pertemuan yang kau janjikan,

Akan kutelusuri dalam rongga rohqalbuku,

Duduk bersimpuh dalam sajadah sujudku padaMu.

Helahan Nafas Zikir berawal dari jiwaku milikMu

Akan melayang jauh ke Arys-Mu

Nur Muhammad menyatu dalam Asma-Mu

Tatapan lugu hamba nan faqir lagi dhoif

Arungi apapun gelombang samudera rasa,

Hanya satu pulau tujuanku

Untuk bersua dengan Engkau Duhai pemilik rinduku

Namun, jangankan pernah kau hentikan energi rinduku berlari keharibaanMu.

Cinta nan tlah tumbuh dalam jiwaqalbuku,

Oleh tumpahan rahmanrahhimMu

Bagai siluet senja nan indah

Abaikan dunia fana ini nan menipudaya,

Abaikan deru genderang terangnya,

Namun satu tujuanku, bersatu dalam kenikmatanMu. (**)

 Editor : Milna Miana

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]