Sebuah Renungan Idul Fitri, Sudah Bertakwakah Saya?


Sabtu, 23 Mei 2020 - 09:35:28 WIB
Sebuah Renungan Idul Fitri, Sudah Bertakwakah Saya? Alfi Yendra

Pada Idul Fitri 1441, hari raya yang sangat berbeda kita rasakan, hari raya disaat ujian Allah menerpa dunia tidak terkecuali Indonesia. Pagi hampir 2 Milyar umat Islam diseluruh pelosok jagad raya mengumandangkan takbir, dari barat timur selatan sampai utara, dikota-kota megapolitan sampai kesudut desa, di masjid-musala atau walaupun  hanya dirumah, semua menyatukan hati menggabungkan jiwa melayang kehadhirat Allah yang Maha Kuasa, bertekad satu bahwa tiada yang besar kecuali Allah SWT. 

Oleh: Afri Yendra  -- Widyaiswara PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi

Perasaan insan sama,  Sedih dan Gembira menyatu jadi satu dalam Qalbu menjadi rasa haru. Kita sedih ramadhan bulan yang penuh maghfirah telah pergi dengan membawa segala kemuliaannya, maka diakhir ramadhan disunnahkan membaca do’a Allâhumma la taj’al hadza akhiral ahdi bishiyamina iyyahu fain jâltahu faj’alni marhuman wa la taj’alni mahruman dilanjutkan. 

“Ya Allah, Pertemukan Saya di Bulan Ramadhan tahun berikutnya, dalam keadaan Sehat Walafiat, mudahkanlah Rezeqiku dan segala urusanku Ya Allah “ serta تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ صِيَامَنَا وَ صِيَامَكُمْ “Taqabbalallaahu minnaa wa minkum shiyaamanaa wa shiyaamakum” “Semoga Allah menerima ibadah dari kami dan darimu, shaum kami dan shaummu.”

Namun kita gembira Ramadhan adalah satu jalan utama menuju puncak kemuliaan disisi Allah SWT yaitu TAQWA, namun satu pertanyaan “ SUDAH BERTAQWAKAH, SAYA?” 
       
Ibarat seorang musafir yang sedang menempuh perjalanan jauh dan sangat meletihkan, perjalanan yang mendaki, menurun, berliku dan penuh dengan berbagai rintangan. Di tengah perjalanan ia mencoba berhenti sejenak, duduk di bawah sebuah pohon yang rindang, untuk kemudian ia mencoba merenung dan bertanya pada dirinya sendiri: “Sudah berapa jauhkah perjalanan yang telah dilaluinya? 

Dan masih berapa jauh lagi perjalanan yang harus ditempuhnya ?” Yang terpenting bagi musafir tadi untuk ditanyakan kepada dirinya adalah: “Apakah selama ini ia telah menempuh jalan yang benar ataukah ia telah melangkah di jalan yang sesat ? Sehingga sebenarnya ia tidak akan pernah sampai kepada titik tujuan yang menjadi cita-citanya !
       
Bila saja tamsil musafir tadi kita coba ibaratkan ke dalam kehidupan kita, maka tidak ada salahnya, bahkan tepat sekali rasanya, bila di idul fitri yang sangat mulia dan berbahagia ini, di tengah-tengah suasana hati dan lidah kita yang senantiasa  tidak mau berhenti dari bertasbih, bertahmid, bertahlil dan bertakbir, kita mencoba merenung, bertafakkur dan bertadzakkur, dalam upaya untuk ber-“Muhasabah an nafs”. 

(mengintrospeksi diri) kita masing-masing: “Sudah berapa jauhkah perjalanan hidup yang telah kita lalui ? Dan masih berapa jauh lagi perjalanan hidup yang harus kita lalui ? sudahkan sampai kita menjadi orang  bertaqwa?

Pertanyaan sudah bertaqwakah saya, adalah pertanyaan yang harus ditanyakan oleh setiap diri Insan beriman setelah melaksanakan Puasa bulan suci Ramadhan, karena berpuasa itu tujuan utama yang dicapai adalah “TAQWA” sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran Albaqaran 2: 183 : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
    
Dalam Alquran perkataan Taqwa lebih delapan puluh kali disebutkan oleh Allah SWT karena ini penting merupakan maqam tertinggi. surat ali Imran ayat 133 Allah SWT memerintahkan kita  untuk betaqwa dengan  mengawali dengan kata “..dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,

Inilah balasan kepada orang yang Allah ajak bertaqwa, maka balasannya Subhanallah, sungguh amatbesar, sungguh amat mulia dari Allah yaitu Syurga dengan segala macam kenikmatan yang tidak dibandingkan dan disandingkan dengan kenikmatan dunia, syurga itu luas meliputi luas langit dan bumi.

Janji Allah terhadap orang Bertaqwa
1. Keluar dari Kesulitan Hidup. 
Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. 

2. Mengampuni dosa-dosa Kita. 
Firman Allah Surat Al-Anfal ayat 29 ‘Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar”.

3. Keberkatan Negeri
Firman Allah Surah Al-A’raf ayat 96:  “Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” Dengan menghayati firman-firman Allah diatas dapat disimpulkan pentingnya taqwa dalam kehidupan setiap orang yang beriman.

Ciri-ciri orang yang bertaqwa
Firman Allah Qs. Albaqarah 2:3-4 ada 5 (lima) ciri-ciri orang bertaqwa yaitu: Ciri pertama, yu’minuuna bil ghaib, beriman terhadap yang ghaib. 
Menurut Ibnu ‘Abbas, yu’minuun artinya yushdiquun (membenarkan). Abu al-‘Aliyah menjelaskan makna yu’minuuna bil ghaib artinya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, surga-Nya, Neraka-Nya dan pertemuan dengan-Nya, serta beriman dengan kehidupan setelah kematian dan Hari Kebangkitan. 

‘Atha menyatakan barangsiapa beriman kepada Allah maka sesungguhnya dia telah beriman kepada yang ghaib. Ibnu ‘Abbas menyatakan bahwa bil ghaib maknanya terhadap apa saja yang datang dari Allah. Zaid ibn Aslam menyatakan bil ghaib artinya bil qadr (ketentuan Allah). Menurut Ibnu Katsir, semua yang disebutkan ulama salaf diatas adalah benar, dan makna ghaib mencakup semuanya (lihat tafsir Ibnu Katsir). Dari ciri pertama ini bisa kita pahami bahwa ciri orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang beriman terhadap semua hal ghaib yang diinformasikan oleh Allah ta’ala dalam al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah al-Mutawatirah.

Ciri kedua, yuqiimuunash shalah, mendirikan shalat. Mendirikan shalat menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah mendirikan shalat dengan semua fardhunya. Sedangkan menurut Qatadah, mendirikan shalat artinya memelihara waktu-waktunya, wudhu, ruku’ dan sujudnya. Muqatil ibn Hayyan menjelaskan definisi mendirikan shalat adalah menjaga waktu-waktunya, menyempurnakan thaharah, menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, membaca Al-Qur’an didalamnya, serta bertasyahud dan membaca shalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). 
Dari penjelasan para mufassir diatas, bisa kita simpulkan bahwa yuqiimuunash shalah artinya mendirikan shalat dengan melaksanakan semua rukunnya dan menyempurnakannya dengan semua sunnah sejak thaharah sampai selesai shalat. Inilah ciri ke-2 orang-orang yang bertaqwa.
Ciri ketiga, mimmaa razaqnaahum yunfiquun, menafkahkan sebagian harta yang telah Allah rizkikan kepada mereka. 

Menurut Ibnu ‘Abbas maksudnya adalah zakat wajib, sedangkan menurut Ibnu Mas’ud maksudnya adalah Nafkah seorang laki-laki pada keluarganya, karena itu adalah afdhalun nafaqah. Imam ang engkau nafkahkan untuk membebaskan budak, dinar yang engkau shadaqahkan kepada orang miskin, dan dinar yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, dari semuanya itu yang pahalanya paling besar adalah yang engkau nafkahkan untuk keluargamu.” (shahih Muslim: 995). Silakan lihat penjelasan hal ini dalam tafsir al-Qurthubi.

Menurut Qatadah, seperti dikutip oleh al-Baghawi dalam tafsirnya, makna yunfiquun adalah yunfiquuna fii sabiilillah wa thaa’atih. Tafsir Qatadah ini cukup luas dan menunjukkan semua nafkah atas harta yang berorientasi ketaatan kepada Allah ta’ala tercakup dalam ayat ini. Berarti ini juga mencakup tafsir dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Mas’ud tanpa perlu mempertentangkannya. Inilah pendapat Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dinar yang engkau nafkahkan fi sabiilillah (maksudnya perang di jalan Allah), dinar yang saya pegang. Wallahu a’lam bishshawwab.

Ciri keempat, alladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min(g) qablik, beriman terhadap kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kepada Rasul-rasul sebelum beliau. Apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Al-Qur’an, tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Sedangkan kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Qatadah menyebutkan ia adalah Taurat, Zabur dan Injil (lihat Tafsir Ibnu Abi Hatim). 

Ibnu ‘Abbas berkata tentang maksud dari alladziina yu’minuuna bimaa unzila ilayka wa maa unzila min(g) qablik, adalah membenarkan apa yang datang kepadamu (wahai Muhammad, yaitu Al-Qur’an) berasal dari Allah, dan membenarkan kitab-kitab yang ada pada Rasul-rasul sebelummu, mereka tidak membedakan kitab-kitab tersebut dan tidak mengingkari bahwa semua kitab tersebut datang dari rabb mereka.
Ciri kelima, bil aakhirati hum yuuqinuun, yakin dengan adanya akhirat. 

Menurut Ibnu ‘Abbas, maksud aakhirah adalah ba’ts, qiyaamah, surga, neraka, hisab dan mizan (lihat tafsir Ibnu Abi Hatim). Makna al-yaqiin adalah al-‘ilmu duuna asy-syakk (pengetahuan tanpa ada keraguan sedikitpun), demikian menurut al-Qurthubi. Dari sini kita bisa pahami, orang yang bertaqwa adalah orang yang yakin 100% akan adanya hari akhir, hari kebangkitan kembali seluruh manusia dan hari perhitungan seluruh amal manusia di dunia, apakah seseorang akan berada di surga ataukah di neraka. Keyakinan ini tentu akan menghasilkan ketaatan kepada seluruh perintah Allah ta’ala.

Inilah 5 ciri orang yang bertaqwa yang disebutkan di awal surah al-Baqarah. Dalam ayat-ayat lain dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga disebutkan ciri-ciri lain dari orang yang bertaqwa, ayat ke-5 dari surah al-Baqarah. Dinyatakan oleh Allah Mereka (orang-orang yang disebutkan dalam al-Baqarah ayat 3 dan 4), tetap berada dalam hudan dari rabb mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. ‘Alaa hudan, artinya nuur, bayaan dan bashiirah dari Allah ta’ala, demikian menurut Ibnu Katsir. (bersambung)

 Editor : Agoes Embun

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]