Laboratorium Wuhan Jawab Tudingan Covid


Senin, 25 Mei 2020 - 17:23:53 WIB
Laboratorium Wuhan Jawab Tudingan Covid Ilustrasi

HARIANHALUAN.COM - Peneliti di Institut Virologi Wuhan akhirnya angkat bicara soal tudingan bahwa lembaganya jadi lokasi kebocoran virus yang menyebabkan pandemi Covid-19. Meski mengakui bahwa mereka meneliti beberapa varian virus korona, namun tudingan tersebut tetap disangkal.

Dalam wawancaranya dengan stasiun televisi Cina, CGNT, Direktur Institut Virologi Wuhan Wang Yanyi, mengakui mereka meneliti virus korona dari kelelawar di laboraturium tersebut. “Kami telah mengisolasi dan memperoleh virus korona dari beberapa kelelawar sebagai upaya menelusuri sumber penularan SARS,” kata Wang Yanyi dalam wawancara yang berlangsung pada 13 Mei namun baru dilansir akhir pekan lalu.

Penelitian itu, menurutnya terkait wabah SARS yang terjadi di Cina pada 2002 silam. Dari penelitian mereka, kata Wang Yanyi, mereka berhasil mendapatkan tiga turunan virus tersebut. Meski begitu, ia menekankan tak ada yang sevara genetis mendekati SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19. Varian yang paling mirip, kata dia, hanya memiliki kemiripan 79,8 persen.

Ia juga mengungkapkan, laboratoriumnya baru menerima sampel terkait virus korona baru di Wuhan pada 30 Desember 2019. Mereka kemudian menyimpulkan sekuensi genome virus baru itu pada 2 Januari lalu mengirimkan informasi patogen tersebut ke Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 11 Januari.

“Seperti semua orang lainnyam kami bahkan tak tahu keberadaan virus tersebut. Bagaimana bisa bocor dari laboratorium kami jika kami tak pernah memilikinya?” kata Wang Yanyi.

Sebelumnya, pada 14 April lalu terungkap telegram rahasia dari perwakilan Amerika Serikat di Republik Rakyat China soal dilakukannya penelitian tentang virus corona dari kelelawar di laboraturium di Wuhan, Hubei, sejak 2018. Telegram tersebut memperingatkan soal kemungkinan bocornya virus yang diteliti itu ke masyarakat.

Surat yang diperoleh kolumnis the Washington Post, Josh Rogin, itu tertanggal 19 Januari 2018. Isinya adalah informasi yang digolongkan sensitif soal penelitian di Institut Virologi Wuhan. 

Surat itu berlandaskan kunjungan sejumlah diplomat dan ilmuwan dari Kedubes AS di Beijing ke fasilitas penelitian tersebut. Para diplomat dan ilmuwan menemukan bahwa institusi penelitian tersebut tengah menyelidiki virus corona pada hewan, terutama kelelawar. Tak dijelaskan varian virus corona yang tengah diteliti saat itu. Ketika itu, dunia sudah didera dua wabah yang dibawa varian virus corona, yakni MERS-CoV dan SARS-CoV-1.

"Selama interaksi dengan ilmuwan di laboraturium WIV, mereka mencatat bahwa laboraturium baru itu punya masalah serius soal kurangnya teknisi dan peneliti yang terlatih dan memiliki kualifikasi yang diperlukan untuk secara aman menjalankan laboraturium dengan pengamanan tinggi itu," tulis telegram tersebut.

Para diplomat kemudian meminta Pemerintah AS menekan China agar meningkatkan kapasitas pengamanan di laboraturium dimaksud. Jika pengamanan tak ditingkatkan, para diplomat dan ilmuwan AS khawatir penyakit menular dari virus yang diteliti bisa merebak dan memunculkan "potensi tinggi pandemik serupa SARS yang baru", seperti tertulis dalam surat itu, merujuk the Washington Post.

Sekitar dua tahun setelah surat itu dikirimkan, terjadilah wabah Covid-19. Sejauh ini para peneliti masih menduga bahwa virus itu pertama kali menjangkiti manusia melalui hewan yang dijual di pasar ikan dan hewan liar di Wuhan pada akhir 2019. Dari situ kemudian virus merebak ke seluruh dunia. Demikianlah juga penjelasan resmi Beijing sejauh ini.

Kendati demikian, Presiden AS Donald Trump dan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo belakangan menyatakan mereka sudah melihat bukti kebocoran dari laboraturium. Mereka kemudian menuntut penyelidikan independen soal hal tersebut.

Seorang pejabat tinggi Gedung Putih juga menyamakan penanganan Cina terhadap penyebaran virus korona dengan kasus kebocoran nuklir di Chernobyl, Ahad (24/5). Chernobyl merupakan lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir di Ukraina yang harus ditutup pada 1986 akibat kebocoran yang sangat berbahaya hingga sekarang.

Penasihat Keamanan Nasional Presiden Trump, Robert O'Brien, mengatakan, Beijing mengetahui kondisi yang terjadi dengan virus korona yang berasal dari Wuhan. Pemerintah Cina telah menyadari sejak November, tetapi berbohong kepada WHO dan mencegah para pakar luar Cina untuk mengakses informasi.

"Mereka mengeluarkan virus di dunia yang menghancurkan triliunan dolar AS dalam kekayaan ekonomi Amerika yang harus kita keluarkan untuk menjaga ekonomi kita tetap hidup, untuk menjaga orang Amerika bertahan selama virus ini," kata O'Brien pada NBC "Meet the Press".

O'Brien menekankan, kondisi saat ini adalah masalah nyata dan menelan biaya ribuan, dengan ribuan nyawa di AS dan di seluruh dunia dipertaruhkan. Cina diklaim menahan informasi sebenarnya untuk menyebar keluar. "Itu adalah sebuah rahasia. Dan kita akan sampai pada dasarnya nanti," kata O'Brien.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Cina Wang Yi mengatakan, Cina terbuka untuk kerja sama internasional untuk mengidentifikasi sumber virus korona. Namun, mensyaratkan setiap penyelidikan harus terbebas dari campur tangan politik. Dia juga mengecam apa yang disebutnya upaya politisi Amerika Serikat untuk mengarang rumor soal asal-usul patogen. 

Dia juga mengatakan, bahwa kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus telah melakukan pekerjaan dengan baik. Menurutnya negara-neagra dengan kesopanan yang baik pula akan mendukung penuh WHO.

"Cina terbuka untuk bekerja dengan komunitas ilmiah internasional untuk mencari sumber virus," kata Wang pada konferensi pers di sela-sela sesi parlemen tahunan Cina dikutip the Strait Times, Ahad. "Pada saat yang sama, kami percaya bahwa ini harus profesional, adil, dan konstruktif. Keadilan berarti proses bebas dari campur tangan politik, menghormati kedaulatan semua negara, dan menentang anggapan bersalah," ujarnya menambahkan.

WHO juga telah meminta Beijing untuk menerima kujnjungan internasional untuk menyelidiki sumbernya. Cina mengusulkan bahwa "respons global" terhadap Covid-19 seharusnya hanya dinilai ketika pandemi berakhir. Pada Selasa lalu, anggota WHO mengadopsi resolusi di majelis virtual pertama badan PBB untuk meninjau penanganan pandemi internasional. (*)
 

 Sumber : Republika /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]