Kisah Rasulullah Nikahi Aisyah di Bulan Syawal, Patahkan Mitos Bulan Sial


Rabu, 27 Mei 2020 - 22:21:25 WIB
Kisah Rasulullah Nikahi Aisyah di Bulan Syawal, Patahkan Mitos Bulan Sial Ilustrasi Bulan Syawal (Foto: Ist)

HARIANHALUAN.COM -- Siti Aisyah binti Abu Bakar As-Shiddiq radhiyallahu ‘anha (ra), merupakan salah satu perempuan paling beruntung yang dinikahi oleh Rasulullah SAW, yakni setelah pernikahannya dengan Saudah binti Zam’ah bin Qois RA.

Dikutip dari laman Sindonews, kala itu pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah terjadi pada bulan Syawal tahun 11, setelah kenabian atau tepatnya dua tahun lima bulan setelah peristiwa hijrah.

Sayyidah Aisyah dinikahi Nabi ketika masih berusia 6 tahun. Seperti dalam salah satu riwayat hadits dari Aisyah ra, Rasulullah bersabda:

Artinya: "Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku ketika aku berusia 6 tahun. Dan beliau kumpul bersamaku ketika aku berusia 9 tahun." (HR. Bukhari dan Muslim).

Sementara menurut menurut Abbas Mahmud Aqqad, dalam "Aṣ-Ṣiddīqah binti aṣ-Ṣiddīq”, saat itu umur Siti Aisyah ketika berbulan madu dengan Nabi Muhammad tidak kurang dari 12 tahun dan tak lebih dari 15 tahun.

Hal tersebut diperkuat dengan riwayat Ibnu Sa’ad, yang menerangkan bahwa Sayyidah Aisyah dilamar Nabi pada usia 9 tahun, dan bulan madu pada usia sudah menginjak baligh (15 tahun). Ketika itu, maharnya 400 dirham.

Pernikahan Siti Aisyah dengan Nabi Muhammad SAW inilah yang mematahkan mistos, bahwa Syawal merupakan bulan sial. Terutama bagi yang akan menikah, beberapa tradisi memberi banyak pantangan pada bulan tersebut.

"Kalau di wilayah Nusantara, mitos-mitos seputar hindari pernikahan di bulan-bulan tertentu diduga kuat terjadi jauh setelah masa Nabi. Namun demikian, seluruh peristiwa yang dicontohkan Nabi Muhammad menjadi barometer untuk umatnya di lintas wilayah dan zaman," ujar Ketua Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU), KH. Sirril Wafa dikutip dari Okezone, Rabu (27/5/2020).

Lebih lanjut, selain bulan Syawal dan apit/selo/dzulqaidah, dalam kepercayaan masyarakat Jawa muncul pandangan adat tentang konsep bulan-bulan "duda" yang bersumber dari spekulasi otak-atik kaidah perhitungan Aboge. Serta kalender urfi sistem aboge, dikenal siklus windu atau per-8 tahunan.

"Tahun-tahun lainnya ada padanan hari/pasarannya. Yang tidak ada padanannya itulah yang ditetapkan sebagai tahun duda. Maka dihindari helat perkawinan pada tahun-tahun 'duda'," jelasnya.

Selain itu, agar tidak terjadi perceraian, terdapat spekulasi yang menarik di dalam aturan adat, yang antara lain tertolak oleh segmen-segmen tata cara Nabi berperilaku sebagai sunah dalam kehidupan sehari-hari.

"Inilah antara lain makna Nabi sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik)," pungkasnya. (*)

 Sumber : Okezone /  Editor : Milna Miana
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 01 Maret 2020 - 20:32:07 WIB

    Kisah Para Budak yang Naik Derajat Jadi Raja Kerajaan Islam

    Kisah Para Budak yang Naik Derajat Jadi Raja Kerajaan Islam JAKARTA, HARIANHALUAN.COM - Sejumlah budak tercatat menjadi raja dalam sejarah peradaban Islam. Para Kesatria di Taman Sejarah (Rijaal Min At-Tarikh), kitab karya Syek Ali Ath Thanthawi,  memberikan bukti kemampuan dan keheb.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]