Terdampak Covid-19, Kopi Arabika Solsel Terancam Berhenti Produksi


Kamis, 28 Mei 2020 - 11:47:18 WIB
Terdampak Covid-19, Kopi Arabika Solsel Terancam Berhenti Produksi Petani Kopi Arabika Solsel saat panen.

HARIANHALUAN.COM - Dampak dari pandemi Covid-19, Petani kopi Arabika di Solok Selatan (Solsel) terancam tidak produksi (panen). Hal ini disebabkan anjloknya harga biji kopi petik merah jenis Arabika ditingkat pengumpul, sehingga tidak sebanding dengan biaya pengeluaran ketika panen.

Doni, seorang petani Kopi Arabika asal Bukit Malintang, Sangir menyatakan semenjak pandemi Covid-19 harga biji petik merah Kopi Arabika anjlok, dari harga normal Rp11 ribu/Kilogram (Kg) turun drastis di Rp4.000/Kg ditingkat pengepul.

"Tidak ada lagi keuntungan, bahkan hasil panen tidak sebanding dengan upah kerja pemetik. Ini menjadi kendala kami untuk merawat Kopi," kata Doni saat ditemui Harianhaluan.com, Kamis (28/5/2020).

Doni mengaku, melakukan panen sepekan jelang lebaran Idul Fitri hanya laku terjual Rp4 ribu/Kg. Sementara, pekerja harian pemetik kopi hanya mampu memanen maksimal 20 Kg/hari selama Ramadan. 

"Nah, jika dijual hanya laku Rp80 ribu, upah kerja pemetik Rp60 ribu/orang. Jika dipetik atau dipanen sendiri, tidak sanggup dan akhirnya kopi rusak. Kami harap ada yang mau beli denganharga wajar," keluhnya.

Senada, Mujiono petani kopi Arabika yang berkebun di Gunung Pasia, Sangir mengatakan hasil panen tidak sepadan dengan biaya produksi dan untuk memenuhi keperluan rumah tangga dan lebaran. "Dijualpun kami masih sangat kekurangan biaya perawatan kopi nantinya dan ini mengancam produksi," ujarnya.

Menanggapi itu, Ketua Kelompok Pecinta Alam (KPA) Winalsa Solsel, Abdul Aziz menyebutkan, untuk menjawab keluhan petani kopi Arabika di Solsel sudah sepantasnya dicarikan solusi terbaik dari instansi terkait.

"Kami coba melalui komunitas ini untuk menggagas prosesor kopi rakyat yang nantinya bisa jadi Koperasi. Beranggotakan petani, keluarga berpendapatan retan dan buruh tani Kopi," sebutnya.

Prosesor kopi adalah orang atau pelaku usaha yang memproses buah kopi basah menjadi biji hijau kopi (green Bean).

Pihaknya, mencoba beli biji kopi petik merah dengan harga pantas di level Rp 6 ribu/Kg, supaya petani tidak terlalu rugi dan buruh tani bisa bekerja. 

"Kami khawatir dengan harga terlalu murah. Petani belum menguasai teknik prosesor, ditambah kebutuhan pangan yang mendesak, membuat Petani tidak berdaya dan akhirnya hilang semangat merawat kebunnya," terangnya.

Aziz berharap pemerintah segera menurunkan dana stimulan melalui instansi terkait. Dana itu diberikan kepada prosesor lokal agar mereka juga mampu menampung biji merah kopi petani dengan harga layak.

"Alasannya jelas penjualan kopi di tingkat prosesor mengalami penurunan dikarenakan banyaknya Kafe kopi yang tutup akibat PSBB, sehingga modal mereka terbatas dan kemampuan membeli kopi petani melemah. Sedangkan kopi yang telah di proses bisa tahan sekitar tujuh bulan penyimpanan," jelasnya.

Menurutnya, KPA Winalsa menjalankan dana program yang di berikan Walhi Sumbar untuk membatu beli kopi petani dengan harga pantas.

Rencananya, imbuhnya setelah Covid-19, pihaknya bersama Walhi akan melakukan pelatihan menumbuhkan prosesor kopi di tingkat masyarakat. "Semoga ke depan pemerintah nagari lewat BUMNag memfasilitasi mereka dengan modal usaha pengelolaan paska panen, agar petani berdaya negara berdaulat," tuturnya.

Terpisah, Direktur Walhi Sumbar, Uslaini mengatakan pihaknya berharap rumah prosesor kopi rakyat ini dapat menjadi cikal berdirinya Koperasi petani kopi di Solsel dan menjadi tempat belajar bagi petani kopi dalam memproses biji merah kopi yang baru di panen. "Sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan petani kopi dan keluarga mereka," tutupnya. (*)

loading...
Reporter : Jefli /  Editor : Heldi Satria
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]